"Bonjour, Mon Amore, aujourd'hui, je t'aime," suara yang cantik itu membangunkanku diiringi sebuah kecupan lembut.
Aku benar-benar suka pagi hari yang seperti ini. Ia dan bahasa Perancisnya selalu bisa menyentuh hatiku.
"Bonjour, Ma Cherie," jawabku sudah hapal kalimat balasannya.
"Que veux tu pour le petit dejeuner?" ucapnya kembali dalam bahasa Perancis namun tak kupahami.
"Nah ini apa nih artinya?" tanyaku sambil mengelus lembut barisan rambut indahnya.
"Hehehe ... mau sarapan apa?" ia terkekeh sambil menciumiku mesra.
"Tapi Dirga suka Ayank yang berbahasa Perancis," ujarku memujinya tulus.
"Kedenger seksi ya?" tanyanya sambil tersenyum nakal.
Kucubit kedua pipinya.
"Ini cuma buat aku kan senyumnya?" tanyaku.
"Aawwww ... iya lah, Ella gininya cuma buat Dirga aja," jawabnya lalu memelukku dan membenamkan wajahnya ke dadaku.
"Hari ini jadi kan rencananya, mau keluar pagi ini?" tanyaku.
"Eum pagi ini mau males-malesan dulu sama Ayank, terus nanti agak siang mau belanja bahan masakan, Ella mau masak buat makan malem yang spesialnya," ujarnya sambil memberikan senyuman lebar.
"Jadi enggak sabar pengen nyobain," jawabku sambil menciumnya di bibir agak lama.
---
Ia tengah memilih-milih sayuran di super market, bilik organik tentu saja. Aku setuju dan sealiran soal ini, karena bagaimanapun tubuh kita dibentuk dari apa yang kita makan. Apa jadinya kalau apa yang masuk ke perut kita isinya hasil tumbuhan yang menyerap racun dan obat-obatan semua? Aku cukup beruntung karena Daniella adalah vegan pencinta makanan sehat. Dia memang bukan vegan total, tapi ia organik garis keras.
"Mau ada menu telur enggak? Ella enggak makan telur ini soalnya" Tawarnya, rupanya ia tidak menemukan telur organik di swalayan ini.
"Skip aja kalo gitu. Dirga tuh mau ikan bumbu kuning Padang buatan Ayank tuh," pintaku yang memang menyukai menu buatannya yang ini.
"Owh gulai kakap bumbu kuning, okey, kenapa ya pada nyebutnya ikan Padang ikan Padang? padahal. di kampung itu cuma disebut gulai ikan kakap aja," tanyanya mengangkat sebuah issue.
"Ya sama aja di sini nyebut bubur Bandung, waktu dulu lebaran kan makan di gerobak emang tulisannya bubur Bandung?" kujelaskan analogi yang serupa. Meski hanya bahasan ringan tapi berbicara dengan Nona besar ilmuan tetap harus lihai.
"Pinter ... baiklah Ella bikinin," ujarnya sambil mencubit hidungku.
"Hmmm mau ini, kayaknya enak kalo sama daging panggang," ia mengambil lemon dan memasukannya ke kantung untuk ditimbang.
"Daging panggang? bukannya ayank tu vegan ya?" tanyaku heran tiba-tiba ia mau menu daging.
"Iya lagi kepengen tuh, wagyu A5 dipanggang di briket kayu oak, taburin himalayan salt, terus kasih perasan lemon," Daniella sudah mengarang menunya saja.
"Yaudah itu ada daging sapi," sontak aku menunjuk ke bagian daging dan ikan.
"No no no no ... that's smells bad, nanti Ella ada tempat beli daging yang berkualitas," jawabnya.
Daniella memang amat pemilih kalau soal makanan. Dan juga amat lugas akan pilihannya.
---
Umbi rumput teki
Lucu sekali melihatnya memasak hari ini. Karena biasanya ia begitu piawai menangani bahan makanan bagai seorang koki kelas atas. Namun hari ini sepertinya ia agak kewalahan berurusan dengan ikan kakapnya.
"Ukh tadi tuh minta difillet aja ya...tapi masa gulai difillet," keluhnya sambil terus berusaha memproses ikannya.
Daniella hari ini menggunakan masker dilapis dua, padahal biasanya ya polos saja. Sepertinya ia sedang amat sensitif pada bau tajam dari ikan ini.
"Butuh bantuan?" Tanyaku karena merasa agak tidak betah kalau harus diam saja. Mana semua ART sedang diliburkan.
"Bisa koq, cuma bau aja tuh ... hueeekk," jawabnya seraya menjauhkan ikan dari wajahnya.
"Dirga bantu bersihin ikannya aja gimana?" tawarku yang masih tidak tega melihat bidadariku sepertinya sedang kesusahan.
"Jangan dong, apa ya itu sebutannya ... hmmm ... oh iya, pamali, biar Ella selesain sendiri. Kalo mau Dirga kupas bumbunya aja, itu juga agak bau," ujarnya masih terus membersihan ikan kakap yang kami beli dari nelayan langsung.
Akupun melaksanakan seperti yang ia katakan, bisa berabe kalo beda sedikit saja, serius. Berurusan dengan istriku ini memang harus tepat sesuai requestnya, ia tipe yang agak tidak bisa mentolelir kesalahan, haha.
Tiba-tiba iphoneku berbunyi. Akupun mengambilnya, memandang Daniella memberi isyarat bahwa aku akan mengangkat telepon, dan ia mengangguk.
"Halo bunda, gimana kabar?" Aku sapa bundaku, kangen juga dengar suaranya.
"Assalamu'alaikum dulu dong Aa," protesnya.
"Ah iya maaf, Assalamu'alaikum bunda, apa kabar?" ujarku padanya.
"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah baik, Aa gimana sehat? lagi sama Ella?" tanyanya kembali.