Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #4

Perfect Wedding

She so perfect, she deserve the best perfect wedding. Ivory Renata Rin Hasegawa, pernikahanmu adalah penyempurna kebahagiaanku. Dan hari ini kuyakin engkau adalah sesosok malaikat yang jatuh ke bumi dan hidup diantara manusia. Dan kini malaikat itu telah menemukan kebahagiaannya, menemukan kekasih tercintanya.

Ia dan kekasihnya tengah berdiri di hadapan Sang Bapa. Keduanya hendak mengucapkan sumpah sakral pernikahan yang akan menyatukan hidup keduanya dalam pernikahan atas kemurahan kasih-Nya.

Dan disanalah kami menyaksikan ia yang tampak begitu cantik, begitu sempurna. Gaunnya amat indah, berwarna putih seputih janji cinta yang akan diucapkannya. Aku selalu suka Ivory dengan rambut twin bunsnya, membuatnya tampak jenaka. Dan hari ini, dengan dilengkapi hiasan, twin bunsnya adalah yang paling kawaii yang pernah kulihat. Ivory, kamu sempurna sayang, dan kamu layak memperoleh yang sempurna.

Dan ketika Sang Bapa selesai bicara, keduanya bersama-sama mengucapkan sumpah sakral pemberkatan. Berjanji untuk saling setia, saling menjaga, dalam sehat maupun sakit, dalam susah maupun senang, sebagai sepasang suami istri yang saling mencintai. Ivory Renata Rin, kurestui pernikahanmu dengan doaku.

"Wah ada keluarga Ivory dari Jepang juga," ujar Vero.

"Iya dari keluarga ibunya," ujarku.

"Kakaaaaak ..." Ivory setengah berlari menghampiri kami.

Wajahnya terlihat sumringah, jelas ia sedang dalam saat paling berbahagianya. Ia lalu memelukku erat, amat terharu, meneteskan air mata namun amat ceria.

"Selamat ya sayang, you look perfect today," ujarku membalas memeluknya erat, hampir-hampir tidak ingin kulepaskan. Baik Vior maupun Ivory memang sudah seperti adik kecilku sendiri.

"Kak Vero, makasih ya udah setia jadi kakak nyebelin yang perhatian," Ivory lalu beralih memeluk Vero.

"Vero doakan kalian langgeng ya, Vero sayang Ivory," ucap Vero yang sudah menitikan air mata. Vero memang selalu jadi yang paling perasa diantara kami berlima.

"Kak Vioooor, makasih selalu dengerin curhatnya Ivory. Kakak selalu baik sama Ivory," ia langsung memeluk Vior diliputi perasaan haru.

"Selamat ya Ivory, Vior akan selalu doakan Ivory memperoleh rumah tangga yang langgeng, damai, tentram, dan penuh cinta," ucap Vior seraya menyelipkan doa dan harapan.

"Makasih Kak," jawab Ivory.

"Kak Angrea, mau peluk, kegencet enggak," ucap Ivory dengan manja seraya merentangkan tangannya.

"Pelan aja, Ddnya kuat koq," jawab Angrea.

Lalu Ivory memeluk Angrea dengan agak berhati-hati.

"Selamat Sayang, kamu sudah jadi wanita dewasa sekarang. Angrea akuin suara Ivory terbaik di Velvet, nih kata si Baby bontot," Angrea tersenyum memandang Ivory ketika mengucapkannya.

"Aaah kakak, haha masih aja," Ivory tertawa, wajahnya terlihat imut ketika ia berbahagia. Sayang kamu sempurna.

"Eumm ... baby bontotnya Angrea kan bakal punya temen," ucapku pada mereka.

---

"Dansa yuk Cinta, Vero lama enggak dansa," pinta Vero pada Ican. Ican tersenyum mengangguk. Ia tahu bahwa perhatian kecil yang ditunjukan di depan orang banyak akan berarti besar bagi seorang wanita.

"Bentar Vero request lagu," iapun langsung menuju para band pengiring.

"Regi, temenin aku dansa," pintaku pada Papaku.

"Bien sur, Ma Belle," jawabnya seraya menawarkan tangan.

Di pernikahan Ivory ini aku ditemani Regi dan Francoise. Dirga ada tugas mendadak yang tidak bisa ditolak. Haaaaah sempat ngambek aku seharian karena hal ini. Tapi ya aku juga tidak bisa egois, bagaimanapun ia adalah man of the nation, Jadi ya sebelum ia berangkat aku memeluknya meminta maaf sudah ngambek dan mendoakannya agar selamat serta cepat kembali. Ia lalu menciumku dan mengatakan kalimat paling romantis yang pernah aku dengar 'Ayank enggak perlu minta maaf, gimana mungkin aku kesal sama wanita yang merindukanku karena cintanya'. Dirgaku cepatlah kembali, di langkah pertamamu pergi saja aku sudah amat merindu.

Atau ini hanya bawaan dari kehamilanku yang membuatku secara psikologis terus menerus menginginkan kehadiran suamiku secara fisik. Dengan semua serba-serbi pengetahuan tentang kehamilan yang kupelajari secara otodidak, hal ini tetap cukup menantang.

Untungnya kemarin Regi pulang setelah kukabari bahwa aku sudah hamil. Dan tentu saja ia datang bersama Francoise.

"Vior nunggu disini aja ya Kak," ujar Vior yang juga datang tanpa suaminya karena Yusuf masih tengah bekerja di perusahaan minyak bumi di Bangladesh.

"How about with me?" Francoise maju, menyodorkan tangan menawarkan sebuah dansa pada Vior.

Lihat selengkapnya