Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #5

Now is Ivory's turn

Terkadang jika sedang senggang, aku menyempatkan diri membantu Papah di tokonya. Kalau dibutuhkan cukup pakai masker untuk menutupi wajah, tidak akan ada yang mengenaliku sebagai Rin-chan dari Pink Velvet. Jadi aku bisa leluasa membantu Papah. Lagipula tugasku lebih banyak di meja belakang, kecuali jika harus meladeni komplain dari pelanggan.

​"Ci, ini ada yang komplain!" ujar seorang pelayan.

​Aku masih tidak habis pikir, ya, kenapa sih dipanggil Ci? I'm not Chinese, dude! Papahku Jawa-Vietnam, Mamihku Jepang. And by the way, para pelayan juga tidak ngeh soal karier keartisanku itu. Memang sengaja dirahasiakan Papah biar tidak bikin repot.

​"Komplain apa?" tanyaku.

​"Jual balik, ada bagian yang rusak, dia tidak mau kena potongan," jawab si pelayan.

​Kulihat kondisi perhiasan yang dibawa pelayanku. Memang rusak, sih.

​"Owh, coba saya nanti ke situ," jawabku.

​Aku pun menghampiri pelanggan yang dimaksud. Seorang ibu-ibu dan suaminya yang sedang menggendong anaknya.

​"Ya, gimana Bu?" tanyaku.

​"Ini kok dipotong sih, Ci? Saya kan belinya per gram segini, kenapa pas jual lagi ruginya jauh? Tidak mau saya, Ci!" ucapnya dengan penuh emosi.

​"Iya Bu, ini ada bagian yang rusak, otomatis pasti kena potongan," jawabku.

​"Kan cuma segitu, harusnya cuma rugi jual saja lah!!" Si Ibu masih nyolot.

​Kugaruk pipi kananku dengan satu jari, berusaha tetap tersenyum.

​"Iya, ketentuannya seperti itu Bu, kan sudah dijelaskan dari awal beli," jawabku seraya menurunkan maskerku biar bicaraku lebih terdengar jelas.

​"Sudah deh Mah, malu," ujar suaminya.

​"Apa sih Pah, ya rugi jeh, ini kan butuh uangnya buat beli baju baru!" ucap si Ibu sambil menepuk tangan suaminya.

​Aku mencoba tersenyum, sebisa mungkin tidak terpancing.

​"Jangan senyum-senyum Ci, ngegodain suami saya ya?! Ini gimana?" ujar si Ibu entah kenapa jadi menuduh.

​"Wah, tidak Bu. Ya tetap kalau jual ada rugi karena rusak," jawabku.

​Papah lalu datang menghampiri, rupanya dia tidak tega melihatku kewalahan menangani ibu-ibu ini.

​"Kenapa Rin?" tanyanya selalu dengan tenang.

​"Ini Pah, Ibunya komplain. Dia mau jual kondisi barang rusak, tapi tidak mau jatuh rugi," ujarku.

​"Coba Papah lihat dulu barangnya," Papah pun mengecek, ia fokuskan kacamatanya.

​"Ibu, ini di gelangnya sudah ada banyak goresan. Ini benar beli di sini, makanya kalau mau dijual lagi sesuai ketentuan di sini, maka ini jadinya ada potongan rugi, cuma Rp15.000/gramnya. Kalau Ibu penasaran, coba saja jual ke toko lain, di sini kita potongannya paling kecil Bu," ucap Papahku. Beliau lebih piawai menangani komplain pembeli.

​"Huuhh... jadi harus jual rugi, malas saya mengecek ke toko lainnya. Ya sudah deh!" jawab si Ibu entah kenapa akhirnya menyerah.

​"Ok, jadi ini mau dijual di sini saja, dengan potongan rugi, tidak apa-apa?" tanya Papah mengonfirmasi keputusan si konsumen.

​"Iya Koh, terus ini bilangin Cicinya, jangan suka senyum-senyum sama suami orang!" Si Ibu memasang wajah kesal padaku.

​"Ini lagi, matanya, enggak bisa lihat bening sedikit," lalu suaminya langsung jadi sasaran kekesalan.

​"Apa sih Mah," protes si suami.

​Urusan komplain pun akhirnya bisa diselesaikan dengan baik. Aku lalu kembali ke dalam mengerjakan tugasku lagi. Tidak berapa lama, Papah datang menghampiri.

​"Sabar ya, namanya juga konsumen, mereka selalu mau menang sendiri," ucapnya sambil mengelus kepalaku. Papah memang selalu kalem tapi amat berwibawa.

​Aku menyandar padanya, memeluknya, menangis kecil.

​"Iya, Rin cuma agak lelah kayaknya, hiks," ujarku, melepaskan beban di hatiku.

​Ia terdiam mengelus kepalaku. Papah tahu aku tidak butuh jawaban, cukup seperti ini saja.

​"Ini sudah mau jam empat, Rin boleh pulang duluan, nanti sisanya Papah yang selesaikan. Andreas jemput atau gimana?" tanyanya dengan penuh perhatian.

​"Hari ini mau diajak Kak Vero ke rumahnya Kak Daniella. Mau mengobrolkan bisnis juga sih, Pah," jawabku.

​"Ya sudah hati-hati ya, salam buat Daniella dan Mas Dirga, maaf belum sempat main lagi," ucap Papahku lalu menyempatkan untuk mengecup kepalaku. Ia pun kembali ke depan menghadapi para konsumen lagi.

​Kak Vero Gesrek 🤭: Rin, Vero sudah di depan nih 😽

​Pesan darinya masuk, aku pun bergegas mengambil tasku lalu beranjak keluar toko. Hari ini rupanya Kak Vero membawa mobil operasional Hyper. Kubuka pintunya lalu masuk dan duduk di kursi depan penumpang.

​"Ada yang ketinggalan tidak?" tanyanya.

​"Sudah semua Kak," jawabku sambil mengangguk mantap.

​"Ok, meluncur," jawabnya.

Lihat selengkapnya