Terkadang jika sedang senggang, aku menyempatkan diri membantu Papah di tokonya. Cukup pakai masker untuk menutupi wajah tidak akan ada yang mengenaliku sebagai Rin-chan dari Pink Velvet. Jadi aku bisa leluasa membantu Papah. Lagipula tugasku lebih banyak di meja belakang kecuali harus meladeni komplain dari customer.
"Ci ini ada yang komplain!" ujar seorang pelayan.
Aku masih tidak habis pikir ya kenapa sih dipanggil Ci? Iam not Chinesse, dude! Papahku Java-Vietnam, Mamihku Jepang gitu. And by the way, para pelayan juga tidak ngeh soal karir keartisanku itu. Memang sengaja dirahasiakan Papah biar tidak bikin repot.
"Komplain apa?" tanyaku.
"Jual balik, ada bagian yang rusak, dia enggak mau kena potongan," jawab si pelayan.
Kulihat kondisi perhiasan yang dibawa pelayanku, memang rusak sih.
"Owh coba saya nanti kesitu," jawabku.
Akupun menghampiri customer yang dimaksud. Seorang ibu-ibu dan suaminya yang sedang menggendong anaknya.
"Ya gimana bu?" tanyaku.
"Ini koq dipotong sih Ci? Saya kan belinya per-gram segini, kenapa pas jual lagi ruginya jauh? Enggak mau saya, Ci!" ucapnya dengan penuh emosi.
"Iya Bu, ini ada bagian yang rusak, otomatis pasti kena potongan," jawabku.
"Kan cuma segitu, harusnya cuma rugi jual aja lah!!" Si ibu masih nyolot.
Kugaruk pipi kananku satu jari, berusaha tersenyum.
"Iya ketentuannya seperti itu Bu, kan sudah dijelaskan dari awal beli," jawabku seraya menurunkan maskerku biar bicaraku lebih terdengar jelas.
"Udah deh Mah, malu," ujar suaminya.
"Apa sih Pah, ya rugi jeh, ini kan butuh uangnya buat beli baju baru!" ucap si ibu sambil menepuk tangan suaminya.
Aku mencoba tersenyum, sebisa mungkin tidak terpancing.
"Jangan senyum-senyum Ci, ngegodain suami saya ya?! ini gimana?" ujar si ibu entah kenapa jadi menuduh.
"Wah enggak Bu, ya tetap kalo jual ada rugi karena rusak," jawabku.
Papah lalu datang menghampiri, rupanya dia tidak tega melihatku kewalahan menangani ibu-ibu ini.
"Kenapa Rin?" tanyanya selalu dengan tenang.
"Ini Pah, ibunya komplain, dia mau jual kondisi barang rusak, tapi enggak mau jatuh rugi," ujarku.
"Coba Papah lihat dulu barangnya," Papahpun mengecek, ia fokuskan kacamatanya.
"Ibu ini di gelangnya sudah ada banyak goresan, ini benar beli disini, makanya kalau mau dijual lagi sesuai ketentuan disini, maka ini jadinya ada potongan rugi, cuma Rp 15.000/gramnya. Kalo ibu penasaran coba aja jual ke toko lain, disini kita potongannya paling kecil bu" ucap Papahku, beliau lebih piawai menangani komplain pembeli.
"Huuhh ... jadi harus jual rugi, males saya ngecek ke toko lainnya. Yaudah deh!" jawab si ibu entah kenapa akhirnya menyerah.
"Ok, jadi ini mau dijual disini aja, dengan potongan rugi, enggak apa-apa?" tanya Papah mengkonfirmasi keputusan si konsumen.
"Iya Koh, terus ini bilangin Cicinya, jangan suka senyum-senyum sama suami orang!" si ibu memasang wajah cemberut padaku.
"Ini lagi, matanya, enggak bisa lihat bening sedikit," lalu suaminya langsung jadi sasaran kekesalan.
"Apa sih mah," protes si suami.
Urusan komplainpun akhirnya bisa diselesaikan dengan baik. Aku lalu kembali ke dalam mengerjakan tugasku lagi.
Tidak berapa lama, Papah datang menghampiri.
"Sabar ya, namanya juga konsumen, mereka selalu mau menang sendiri," ucapnya sambil mengelus kepalaku. Papah memang selalu kalem tapi amat berwibawa.
Aku menyandar padanya, memeluknya, menangis kecil.
"Iya, Rin cuma agak lelah kayaknya, hiks," ujarku, melepaskan beban di hatiku.
Ia terdiam mengelus kepalaku. Papah tahu aku tidak butuh jawaban, cukup seperti ini saja.
"Ini udah mau jam empat, Rin boleh pulang duluan, nanti sisanya Papah yang selesaikan. Andreas jemput atau gimana?" tanyanya dengan penuh perhatian.
"Hari ini mau diajak Kak Vero ke rumahnya kak Daniella. Mau ngobrolin bisnis juga sih Pah," jawabku.
"Yaudah hati-hati ya, salam buat Daniella dan mas Dirga, maaf belum sempet main lagi," ucap Papahku lalu menyempatkan untuk mengecup kepalaku. Iapun kembali ke depan menghadapi para konsumen lagi.
---
Kak Vero Gesrek 🤠: Rin, Vero udah di depan nih 😽
Pesan darinya masuk, akupun bergegas mengambil tasku lalu beranjak keluar toko. hari ini rupanya kak Vero membawa mobil operasional Hyper. Kubuka pintunya lalu masuk dan duduk di kursi depan penumpang.
"Ada yang ketinggalan enggak?" tanyanya.
"Udah semua Kak," jawabku sambil mengangguk mantap.
"Ok meluncur," jawabnya.