Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #6

Gratitude at fancy time

Aku adalah pemegang penghargaan 'Golden Praise' selama enam tahun berturut-turut. Sebuah penghargaan untuk mereka yang berada di posisi ranking pertama tiap tahun secara berturut-turut dengan patokan nilai ujian tahunan TJ High School. Dan aku memenangkannya semenjak SMP. Aku juga lima kali memenangkan medali emas dalam Olimpiade Sains Nasional, dan dua kali medali emas Olimpiade Sains Internasional untuk jenjang SMP dan SMA.

​Dua kali memperoleh Young Entrepreneur of the Year kategori: Founder Startup dan Usahawan Wanita Inspirasional. Penghargaan-penghargaan di bidang musik saat di Pink Velvet termasuk: Most Popular Girl Group Pendatang Baru versi AMI Award dan Most Popular Song di tingkat provinsi untuk lagu 'Matcha Macaron'. Plus, girlband yang punya single khusus feat BI (Boy Idols), serta bejibun penghargaan lainnya yang piala, sertifikat, serta cenderamatanya dipajang di lemari ruang tengah rumahku yang sepanjang lima meter.

​Tapi do you know... kebahagiaan memperoleh itu semua terasa biasa saja dibandingkan saat ini, saat bisa kurasakan sebuah gerakan halus di perutku. Gerakan pertama dari si kecil yang kini tengah tumbuh di rahimku. Gerakan kecil yang kutunggu selama lima tahun melewati berbagai perasaan sedih, khawatir, cemburu, iri, dan cemas.

​Namun kini semua kegalauan itu terhapus menjadi sebuah kebahagiaan yang tidak akan bisa tergantikan dengan medali apa pun. Aku jatuh cinta padamu buah hatiku. Tak ada kata yang lebih indah selain rasa syukur pada Sang Pencipta atas kehadiranmu. Aku cinta kamu, Sayang. Aku cinta kamu.

​Dan ia, Dirgaku, senyumnya kini begitu merekah saat kutarik tangannya untuk menyentuh rahimku. Dan si kecil kami seakan mengerti dan mungkin merindukan sentuhan ayahnya, ia menendang-nendang dengan kuat.

​"Awww... kuat banget," ucapku latah karena merasakan sensasi tendangan si kecil.

​"Wah nendang, haha lucu sekali ya," ujar Dirga begitu penuh nada kebahagiaan.

​"Eum hmmm... tempelkan wajah di sini, Yank," kutarik wajahnya, kutempelkan ke kandunganku.

​Ia memejamkan mata begitu menikmati sensasinya.

​"Ada detak jantung, Yank," ujarnya ceria, begitu polos seperti anak kecil yang senang dengan mainan barunya.

​Aku tersenyum memandangnya. Dirgaku kini benar-benar terlihat bahagia seakan dunia tidak akan bisa lebih indah dari ini.

​"Iya ya... Ella juga bisa dengar pakai stetoskop janin tapinya, yang Ella belum bisa cium dia," ucapku seraya mengelus-elus kepala Dirga dengan lembut.

​"Muach, muach, muach... Dirga wakili ya, Yank," ujar Dirga yang ketara sekali tampak senang.

​"Huuu curang, yang hamil Ella, yang bisa cium duluan Ayank," kucubit pipi Dirgaku karena gemas. Kami adalah suami istri paling bahagia saat ini.

​"Mau lihat foto-foto dari awal kehamilan tidak?" tawarku.

​"Boleh," jawabnya.

​"IVO, tampilkan foto-foto dari folder -MY PRECIOUS-."

IVO: Baik, Nona.

​"Oh... namanya diganti jadi IVO?" tanya Dirga soal AI buatanku.

​"Iya, biar lebih terdengar futuristik," jawabku.

​Dan hologram slide show foto-foto dari awal kehamilanku pun ditampilkan. Slide show yang diawali saat aku menunjukkan hasil tes kehamilanku dan hari demi hari hingga umur kehamilanku yang kini menginjak usia 26 minggu.

​"IVO, mainkan Thinking Out Loud," ujar Dirga, sudah biasa menggunakan fasilitas ini.

IVO: Baik, Tuan.

​"Suka banget ya sama lagu-lagunya Ed Sheeran?" tanyaku.

​"Tidak semua, tapi ini cocok kan untuk sekarang," jawabnya sambil tersenyum.

​"Ini Ayank foto tiap hari? Wow... hebat," tanyanya.

​"Iya! Kan Ella setting IVO untuk ambil gambar tiap hari. This memories will be everlasting, Dear. Tenang, Ella sudah ada super Hard Disk 100 Petabyte jadi bisa menyimpan banyak," jawabku mantap.

​"Beauty and brain," ucapnya lalu menciumku.

"Love and care," balasku setelah ciuman itu.

​"Foto bertiga yuk!" pintaku yang baru sadar kalau kami belum punya foto khusus bertiga.

​Dirgaku mengangguk lalu merangkulku mesra dengan tangan kirinya, tangan kanannya tengah menyentuh kandunganku. Foto ini pun kami simpan sebagai kenangan berharga. Aku akan mencetaknya dan memajangnya, pikirku.

​"Shall we dance?" pintanya mengajakku berdansa. Kami pun berdansa di kamar kami dengan lembut dan hangat.

​"You are something Maharaniku. Aku kira kamu di rumah saja tidak mengapa-ngapain, tapi tahu-tahu rumah sudah dipasang AI, LeViral.id juga tetap lancar, Hyper Label kamu progresnya bagus, di RAGE juga kamu aktif jadi konsultan, bahkan masih sempat mengisi webinar di banyak acara dan masak buat aku kalau pulang. Wow, Sang Pencipta minta apa sih dari aku? Dia begitu Maha Pemurah memberiku hadiah seindah kamu," ujar Dirga membuatku berbunga-bunga.

​"Ayank itu jadi pintar gombal sih, Ella jadi curiga..." kucubit hidungnya sambil tersenyum.

​"Beneran, no bullshit," jawabnya disertai anggukan.

​"Huuu, makasih pujiannya. Nanti bilang makasih juga sama Marvellina, aku banyak minta dia bantu ini semua," ujarku yang memang banyak minta bantuan Marvellina menginstalasi langsung IVO di rumah Manoa dan di Wisma Maharani.

​"Oh iya, nanti ada satu hadiah lagi, tapi di Wisma. Aku tidak bisa buat di sini sih," ujarku yang ditanggapi antusias sekaligus penuh rasa penasaran olehnya.

​"Wah, apa itu?" ia benar-benar penasaran.

​"Ella kan bilang bakal menyempurnakan senapan jarak jauh yang Ella buat untuk Ayank. Nah, yang versi terbaru ini katakanlah emmm... bisa menembak pesawat terbang dan langsung hancur dengan satu peluru, peluru tipe terbaru," jawabku.

​"Wow, serius? Semoga sih aku tidak sampai memerlukannya. Tapi makasih banget ya Yank, mengerti banget hobi suaminya. Ini bener-bener beruntung Dirga menikahi Ayank," ia tersenyum, benar-benar senyum senang khas seorang bocah.

​"Huuu gombal, makanya makasih sama Bunda Hesty. By the way, mana balasannya?" ujarku dengan manja.

Lihat selengkapnya