Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #7

Precious time and her legacy

Francoise tiba malam sebelum acara baby shower digelar.

​"Ma belleeee, tu me manques!" ia begitu antusias setengah berlari ke arahku sambil merentangkan tangan meminta pelukan. Ia bahkan menjatuhkan tasnya di lantai begitu saja.

​Aku merentangkan tangan menyambut pelukannya dengan suka cita. Oh, aku kangen sekali 'Angrea' versi Le Blanc-ku ini.

​"Moi aussi, Ma Ours, comment vas-tu?" tanyaku padanya.

​"Je suis content, I am so happy since I heard you're pregnant!" jawabnya, benar-benar memancarkan kebahagiaan yang menular.

​Dirga datang dari belakangku, merapikan kancing lengan bajunya.

​"Heeey... miss me, big guy?" Francoise mengepalkan tinju akrab ke bisep Dirga.

​"Haha... thanks for coming, Sist," balas Dirga seraya menyalaminya.

​"Actually, I'm so happy to see you two guys get closer. But you two aren't cheating behind me, isn't it?" tanyaku dengan maksud bercanda, tentu saja.

​"Hmmm... why not? I think I like strong soldiers," jawab Francoise menggodaku dengan candaan.

​"I will kill you," ucapku seraya mencubit pipinya.

​"Hahaha... I will never hurt you, Ma Belle," ia lalu memelukku hangat lalu mengelus-elus perutku. "Tapi yang satu ini sudah pasti akan jadi pacarku," ujarnya sambil tersenyum lebar secara jenaka.

​Aku meruncingkan bibir, menggelengkan kepala menatap Francoise dengan maksud mengusilinya.

​"Yeah, you should find one and get married. Il est têtu!" terdengar suara Ourson dari arah pintu depan, datang bersama Regi.

​"Kau meninggalkan orang tua di belakang, Francoise. Merde!!!" ucap Regi sebal.

​Oh Papa, kangen banget ketemu kamu. Dengan manjanya, aku pun menghampiri pria yang paling kusayangi itu dan memeluknya.

​"Aku kangen Papa. Kamu sehat-sehat, kan?" tanyaku.

​"Aku juga kangen kamu, Ma Belle. Aku sehat. Bagaimana kabar kamu, suamimu, dan cucuku?" tanyanya menyambut pelukanku.

​"Sapalah sendiri cucumu," ucapku seraya menunjukkan perutku.

​Regi pun berlutut dan mencium perutku, lalu menempelkan telinga dan telapak tangannya sembari memejamkan mata.

​"Papaaa!" Marvellina muncul turun dari tangga lalu bergegas memeluk Francoise dan Ourson, lalu Regi. Huuuuh, seperti masih bocah saja, haha.

​"J'taime, Papa," ucapnya begitu manja.

"Je t'aime plus, Ma Puce," jawab Regi mengelus-elus kepala Marvellina dan mencium keningnya.

​"So this is our eagle eyes? Got some luck, yeah," ucap Ourson sembari menyalami Dirga dengan gaya maskulin.

​"Well, heard that from Francoise? By the way, thanks for coming," jawab Dirga menyambut Ourson.

​"Of course. Le Blanc will always be there for family," jawab Ourson sambil tersenyum hingga lesung pipitnya terlihat jelas.

​"We all three are so lucky, isn't it?" ucap Francoise lalu diiringi tawa Dirga dan Ourson.

​Sumpah, aku tidak paham kok mereka bisa mendadak akrab. Tapi ya peduli amat, bukankah itu bagus?

​"Seems there is a conspiracy between you three behind me that I don't know?" ucapku lalu menghampiri Dirga, dan ia menyambutku dengan merangkulku.

​"Just the same hobby, Ma Belle," jawab Francoise lalu tersenyum lebar.

​"So where is the rendang? I'm dying dreaming about it," Ourson mencairkan suasana.

​"Oke, follow meeee!" sambutku. Ketiganya kemudian membersihkan diri di kamar yang sudah kusediakan, lalu kami sekeluarga makan malam bersama.

​"Sini, aku punya sesuatu untukmu, Ma Belle," ucap Regi sambil memberikanku sebuah flash disk berwarna putih.

​Kumiringkan kepala bermaksud bertanya. 'Masa Regi memberiku pekerjaan di saat begini?'.

Lihat selengkapnya