Pagi hari, sebuah Alphard HEV CVT hitam memasuki gerbang Wisma Maharani dan terparkir rapi di pelataran parkir yang tersedia. Bunda Hesty dan Yuke datang bersama Razi, Angrea, Mahalik, Bu Arunika, dan Pak Iskandar.
"Teteehhhhh..." ujar Yuke yang berlari dari kejauhan menghampiriku dan Dirga kala menyambut mereka di pintu depan. Angrea menatap heran pada Yuke yang lantas memelukku dengan erat.
"Kangen Teteh," ujarnya manja.
"Hehe... Teteh juga kangen sama kamu," jawabku menyambut pelukannya.
"Loh, tidak kangen Dirga? Tidak salam dulu?" tanya suamiku menggoda.
"Bosan," jawab Yuke singkat lalu menjulurkan lidah, cukup membuatku tertawa.
"Bunda, bareng sama Bu Arunika?" tanyaku pada Bunda Hesty yang kemudian memelukku.
"Iya, tadi Angrea menawarkan mau bareng tidak. Ya mau lah, jadi tidak usah menyetir sendiri, haha," jawabnya ceria.
"Haha... iya, baik kan dia biarpun galak-galak begitu," timpalku.
"Iya, baik dan cantik banget seperti kamu," balas Bunda Hesty sambil mencubit pipiku.
"Hehe makasih, gih pada istirahat dulu," ucapku seraya memerintahkan ART untuk membawakan barang bawaan rombongan Bunda Hesty. Keduanya pun kemudian masuk ke rumah.
"Djuriat sama Bian belum datang?" tanya Pak Iskandar lalu kusalami beliau.
"Katanya nanti sekitar jam 8, Bak. Biasalah kalau sama Vero ada telatnya, haha," jawabku yang dibalas anggukan oleh beliau.
Lalu Bu Arunika memelukku dan cipika-cipiki.
"Cantiaknya anak Bundo, makin berseri dan awet muda Daniella. Persis Amamu. Jaga kesehatan, makan yang baik-baik, jaga janinmu ini. Nanti Bundo buatkan ramuan lagi untuk Daniella biar janinmu ini sehat. Salat pula, berdoa agar diberikan keturunan yang saleh, berbakti pada kedua orang tua, menjadi kebanggaan..." ujar Bu Arunika panjang lebar seperti biasa. Namun sebelum beliau melanjutkan, Angrea muncul dari belakang.
"Bundo cepatlah! Kalau mau ceramah nanti saja, lelah Rea membawa baby di perut," Angrea menghampiriku, memelukku, dan cipika-cipiki.
"Jangan begitu Sabai, tidak sopan lah itu Bundomu sendiri," tegur Razi di belakangnya.
"Razi juga langsung masuk sama Bundo! Itu Mahaliknya digandeng," Angrea menatap Razi dengan tatapan "perintah".
"Baik, Sabai," jawab Razi bersalaman dengan Dirga lalu bergegas menggandeng mertua dan anaknya masuk rumah.
"Rea itu, jangan begitu," ujarku mengingatkan.
"Iya Ella, tapi alah biaso lah," jawab Angrea santai.
"Ya sudah gih pada masuk, Papa sama yang lain sudah menunggu," ujarku.
"Wah ada Tuan Regi," ucap Angrea antusias.
"Sudah tua, lagian sudah bersuami juga. Rea itu jangan ganjen!" ujarku mengingat tingkah Angrea kalau bertemu Papa.
"Iya, Rea sudah dewasa kok," jawabnya lebih bijak.
"Ini perut sudah makin besar saja, adiknya Mahalik cowok atau cewek?" tanyaku seraya mengelus-elus perut Angrea.
"Belum Rea cek, tapi Rea yakin laki-laki lagi," jawabnya mantap.
Jujur, Angrea memang seperti punya bakat menebak kelamin janin. Mahardika dan Baby Theo saja ia tebak dengan tepat.
Empat mobil memasuki halaman Wisma Maharani. Sebuah Pajero putih membawa Djuriat, Bianica, Sillo, Fira, Tania, dan Aoki. Lalu sebuah Yaris hijau membawa Ikhsan, Vero, dan Theo. Kemudian Mazda biru berisi Ivory dan Andreas. Mobil terakhir adalah Jazz merah yang membawa Vior dan para 'Naughty Bunnies': Merry, Lanlan, dan Gumy.
"Maaf telat! Biasa Madam, jemput sana jemput sini. Pas jemput Aoki dia lagi dandan, terus pas sudah tinggal masuk mobil eh Aokinya datang bulan, jadi beli pembalut dulu," ujar Vero selalu menyelipkan candaan.