Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #9

Prince of Atlantean

Marvellina, adikku yang manis, tak terasa kau sudah semakin dewasa. Ia semakin cantik, semakin memesona di usianya yang sudah menginjak 20-an. Ditambah lagi, sekarang ia sudah bisa merias diri. Aku suka potongan wolf cut-mu, membuatmu tampak karismatik dan independen. Maafkan kakakmu yang terlalu sibuk dengan hidupnya sendiri sehingga tanpa sadar kebersamaan denganmu terasa seperti sebuah episode drama yang kutonton melompat-lompat. Apa pun itu, kini aku bisa melihat seorang gadis yang beranjak dewasa, yang mungkin suatu saat akan menemukan kekasih hatinya.

​"Oke, aku tunggu di depan, Baby," ujarnya.

​Tunggu... 'Baby'? Maksudnya bayi? Atau sayang? Marvellina lalu berjalan agak cepat ke arah pintu depan.

Baby shower yang kugelar sebenarnya tidak lebih dari syukuran tujuh bulanan kehamilanku versiku sendiri. Tidak formal, hanya kumpul keluarga, temu kangen, dan makan-makan yang akan ditutup dengan bagi-bagi hadiah padaku, lalu aku bagi-bagi cenderamata ke tamu dan donasi ke warga sekitar.

​Oh iya... aku ingat, Marvellina sudah bilang ia sudah punya calon. Oh my... aku setengah mati penasaran bagaimana orangnya.

​"Yank, aku mau ke depan," ujarku pada Dirga yang tengah mengobrol asyik dengan Regi, Ourson, dan Francoise.

​"Owh, tunggu... aku ikut," Dirga bangun dari duduknya lalu menggandengku.

​Kami berdua berjalan menuju pintu depan dan membukanya. Di beranda, Marvellina sedang berdiri, ia tampak melihat ke arah gerbang. Ia sungguh cantik mengenakan setelan semi-formal dress katun putih dengan sweater vest cream dan pegged pants panjang hitam, serta sebuah anting hoop besar melingkar di telinganya melengkapi keindahan sosoknya.

​"Uni...?" ia menyadari kehadiranku dan Dirga.

​"Ada yang mau datang lagi?" tanyaku.

​"Iya Uni, Mas Sabugha dan Altarist," jawabnya sambil tersenyum.

​Bisa kulihat rona bahagia darinya. Oh my... ia sungguh jatuh cinta pada pria ini.

​Lalu empat menit kemudian, dua buah mobil memasuki gerbang rumahku. Sebuah D'Cab biru dengan modifikasi sporty yang membuatnya tampak gagah, dan sebuah Rally Fighter berwarna putih yang dimodifikasi tinggi dan berdesain hard racer.

IVO: Nona, sistemku mendeteksi sebuah Artificial Intelligence lain memasuki gerbang wisma, haruskah kuaktifkan mode siaga?

​Suara IVO terdengar dari sebuah drone berbentuk bulat berwarna putih yang terbang dengan cepat mendekatiku.

​"Batalkan mode siaga! Konfirmasi sebagai sekutu," ujarku sudah mengetahui bahwa itu pasti adalah Aztras milik Sabugha.

IVO: Baik, Nona.

​"Mode siaga itu bagaimana?" tanya Dirga. Kami sudah berdiri di sebelah Marvellina.

​"Nanti ada beberapa sinar bidik mengarah ke mereka, dan kalau ada trigger sedikit saja, maka puluhan peluru akan berdesing tiap detiknya ke arah mereka. Kalau belum tuntas, IVO akan melepaskan beberapa proyektil terbang yang ledakannya setingkat granat tangan," jawabku.

​"Haaah... serius?!" tanya Dirga yang terkejut. Marvellina terkekeh geli.

​"Yep, hanya untuk pertahanan kok, Yank. Kalau ada yang protes, aku tinggal bilang: 'Silakan berdebat dengan suamiku yang jabatannya Kapten begitu'," jawabku dengan jujur, memandangnya, tersenyum, lalu menciumnya di pipi.

​Dirga terdiam, wajahnya menyiratkan banyak ekspresi antara mau tertawa, kaget, dan heran. Rombongan Sabugha pun selesai memarkir kendaraan mereka. And here we go!

​Dari D'Cab biru keluarlah Sabugha mengenakan kemeja hibiscus dominan merah dan celana jins kasual sambil mengenakan kacamata ultraviolet black navy. Semobil dengannya, tentu saja dokter kebanggaan kita yang tidak bisa bahasa umum, Nindy. Ia mengenakan lengan panjang berwarna putih yang dilapisi dengan spaghetti tanktop jenis terusan seperti long dress motif peony. Ia juga menggunakan kacamata hitam besar, serta bucket hat berwarna cream dengan pita hitam. Serasi sekali mereka berdua. Dari masih agak jauh, Sabugha melambai menyapaku dan Dirga, kami pun menyapanya balik.

​Dari dalam mobil satunya, keluar si Phagetta dan Unnara. Phagetta mengenakan kemeja hitam semi-formal dengan celana chino putih berbahan lentur. Unnara berpenampilan lebih kasual dengan kaus lengan pendek berwarna kuning yang dilapisi kemeja navy dan celana 3/4 semi jins katun. Dan ini dia bintang utama yang kutunggu: Altarist. Kutebak berdasarkan gestur Marvellina saat pria ini muncul.

​Altarist adalah seorang pria kaukasoid. Serius, ia mungkin berdarah Eropa tulen, bukan blasteran sepertiku. Rambutnya berwarna hitam kecokelatan dengan potongan boyfriend bob seleher. Perawakannya setinggi Phagetta dengan tubuh yang ramping atletis; ia bermata cokelat. Ia mengenakan kemeja hitam dengan motif empat buah garis putih dan mengenakan long pants katun chestnut. Tangan kanannya terlihat mengenakan jam tangan tipe chronograph kulit. Hmm... boleh juga selera Marvellina. Tapi nanti dulu, baru good looking, belum aku ACC sepenuhnya.

​"Wah, langsung dari Surabaya nih?" tanya Dirga sambil menyalami Sabugha dengan gaya maskulin.

​"Kebetulan lagi ada keperluan di Kullon, Kang. Bertepatan dengan acara baby shower-nya," jawab Sabugha.

​Iya juga, ya ampun aku benar-benar lupa mengundang Sabugha. Mungkin karena kupikir ia tidak akan sempat datang, dan lagi, ini hanya acara kumpul keluarga biasa. Tapi berarti siapa ya yang memberi tahu Sabugha? Dirga-kah?

​"Maaf ya Lana, serius aku lupa tidak memberi tahu kamu," ucapku lalu cipika-cipiki dengan Nindy yang nampaknya sudah semakin luwes.

Lihat selengkapnya