Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #10

Fancy moment, gesrek moment

"Bug, harus duluan nih, Kang Aji manggil, penting katanya," Unnara mendekati Sabugha yang sedang mengobrol denganku, Dirga, dan Vero. Ini orang beneran deh, 'Bug' itu maksudnya memanggil Sabugha-kah?

​"Oh, aku juga?" tanya Sabugha.

​"Enggak, Nara sama Phagetta saja kok," jawabnya dengan perut yang membuncit. Jelas ada sekitar satu kilogram daging rendang di perutnya itu. Dia bahkan masih memegang setoples kacang bawang. Phagetta juga sudah menghampiri kami.

​"Mau balik duluan? Mau diantar? Kan katanya nebeng?" tanyaku.

​"Oh, ya terbanglah biar cepat!" jawabnya dengan absurd.

​Ia lalu menyerahkan toples kacangnya pada Phagetta, kemudian memosisikan tangannya di samping tubuh dengan posisi siku menekuk sambil menengadah ke atas. Mungkin maksudnya adalah pose hendak terbang. Dari Sabugha, Phagetta, Altarist, dan bisa kurasakan Irriana juga, memandang tajam pada Unnara sampai-sampai membuat bulu kudukku bergidik. Padahal Irriana duduk agak jauh, mungkin khawatir mantannya yang gesrek itu menggangguku.

​"Hiaaat...!" Unnara menengadah ke atas. Tapi tidak terjadi apa-apa.

​"Ukh... perutnya penuh, berat! Enggak ngangkat," ujarnya dengan tolol sambil memegang perutnya.

​Sumpah Sabugha! Kamu itu ilmuwan superjenius, kenapa sih temannya aneh, istrinya juga aneh?!

​Vero memandangku, memutarkan matanya ke atas sambil menyilangkan garis lurus di keningnya, bermaksud bilang, 'Dasar orang gila'.

​"Sudah... sudah... nih nih, bawa!" Sabugha mengeluarkan kunci mobilnya.

​"Aseeeek!!" Unnara langsung mengulurkan tangan hendak mengambil kunci mobil Sabugha. Namun, sebelum sempat terambil, Sabugha mengelak.

​"Enak saja, Phagetta yang bawa! Terakhir dipinjamkan kamu, baliknya ringsek," ucap Sabugha, membuatku paham kenapa ia ganti mobil baru.

​"Ya elah, enggak sengaja," ucap Unnara sambil meruncingkan bibir kecewa.

​"Sampai terbelah dua Nara, mending aku yang bawa," Phagetta mengambil kunci mobilnya.

​Terbelah dua? Mobilnya Sabugha? Ini orang sedang apa sih? Kok masih hidup ya? Serius bahaya deh Lana kalau kamu berteman terus dengan dia, otaknya sedeng.

​"Waduuu, kok bisa?! harga berapa itu mobil?" tanya Vero yang jelas ikut terkejut.

​"Harga mobilnya sih tidak seberapa lah, cuma membahayakan orang lain itu," jawab Sabugha.

​Sok bijak, huuuh! Teman elo hidup saja sudah membahayakan orang lain, Lana. Perlu dikasih pendidikan menjadi manusia normal gitu.

​"Percaya kalau Mas Sabugha yang bilang sih," Vero mengangguk-angguk.

​"Ini disimpan di sini saja tidak apa-apa, Teh?" tanya Phagetta seraya mengangkat toples kacang bawang yang dari tadi ia pegang.

​"Silahkan bawa," jawabku sambil meliriknya.

---

(Beberapa saat kemudian)

​"Mamah Rea menginap, kan? Besok belanja kebutuhan baby yuk sama Ella!" pintaku pada Rea yang pasti tidak akan dia tolak.

​"Boleh Ella, Rea juga kayaknya ada yang mau dibeli," jawab Angrea, sesuai prediksi.

​Lalu beberapa detik kemudian, Vero menghampiri kami.

​"Halo... halo... Mahardika. Halo adiknya Mahalik... adiknya Theo mau ikut gabung nih. Lagi mengobrolkan apa? Pada mau shopping ya?" suaranya dibuat-buat terdengar lucu.

Lihat selengkapnya