"Bug, harus duluan nih, Kang Aji manggil, penting katanya," Unnara mendekati Sabugha yang sedang mengobrol denganku, Dirga, dan Vero. Ini orang beneran deh, 'Bug' itu maksudnya memanggil Sabugha kah?
"Oh, aku juga?" tanya Sabugha.
"Enggak, Nara sama Phagetta aja koq," jawabnya dengan perut yang membuncit, jelas ada sekitar satu kilogram daging rendang diperutnya itu. Dia bahkan masih memegang setoples kacang bawang. Phagetta juga sudah menghampiri kami.
"Mau balik duluan, mau dianter? kan katanya nebeng?" tanyaku.
"Oh, ya terbang lah biar cepet!" jawabnya dengan absurd.
Ia lalu menyerahkan toples kacangnya pada Phagetta kemudian memposisikan tangannya disamping tubuhnya dengan posisi siku menekuk sambil menengadah ke atas. Mungkin maksudnya adalah pose hendak terbang. Dari Sabugha, Phagetta, Altarist dan bisa kurasakan Irriana juga, memandang tajam pada Unnara sampai-sampai membuat bulu kudukku bergidik. Padahal Irriana. Duduk agak jauh, mungkin khawatir mantannya yang gesrek menggangguku.
"Hiaaat ..." Unnara menengadah ke atas. Tapi tidak terjadi apa-apa.
"Ukh ... perutnya penuh, berat! enggak ngangkat," ujarnya dengan tolol sambil memegang perutnya.
Sumpah Sabugha! kamu tuh ilmuan super genius, kenapa sih temennya aneh, istrinya aneh?!
Vero memandangku, memutarkan matanya keatas sambil menyilangkan garis lurus di keningnya bermaksud bilang 'dasar orang gila'.
"Udah ... udah ... nih nih, bawa!" Sabugha mengeluarkan kunci mobilnya.
"Aseeek!!" Unnara langsung mengulurkan tangan hendak mengambil kunci mobil Sabugha. Namun sebelum sempat terambil Sabugha mengelak.
"Enak aja, Phagetta yang bawa! terakhir dipinjemin kamu, baliknya ringsek," ucap Sabugha membuatku paham kenapa ia ganti mobil baru.
"Ya elah, enggak sengaja," ucap Unnara sambil meruncingkan bibir.
"Sampai terbelah dua Nara, mending aku yang bawa," Phagetta mengambil kunci mobilnya.
Terbelah dua? mobilnya Sabugha? ini orang ngapain sih? koq masih hidup ya? Serius bahaya deh Lana kalo kamu temenan terus sama dia, otaknya sedeng.
"Waduuu, harga berapa tuh mobil?" tanya Vero yang terkejut.
"Harga mobilnya sih enggak seberapa lah, cuma membahayakan orang lain tuh," jawab Sabugha.
Sok bijak, huuuh!
Temen elo hidup aja udah membahayakan orang lain Lana. Perlu dikasih pendidikan menjadi manusia normal gitu.
"Percaya kalo Mas Sabugha yang bilang sih," Vero mengangguk-angguk.
"Ini di simpan di sini saja enggak apa-apa Teh?" tanya Phagetta seraya mengangkat toples kacang bawang yang dari tadi ia pegang.
"Bawa aja," jawabku.
---
"Mamah Rea nginep kan? besok belanja kebutuhan baby yuk sama Ella!" pintaku pada Rea yang pasti tidak akan dia tolak.
"Boleh Ella, Rea juga kayaknya ada yang mau dibeli," jawab Angrea, sesuai prediksi.
Lalu beberapa detik kemudian ada Vero menghampiri kami.
"Halo ... halo ... Mahardika, halo Adiknya Mahalik ... adiknya Theo mau ikut gabung nih, lagi ngobrolin apa? pada mau shopping ya?" suaranya dibuat-buat terdengar lucu.
Tangan kirinya memegang samping perutnya lalu tangan kanannya membentuk moncong bebek di depan perutnya. Jadi berakting seakan baby di dalam perutnya itu yang sedang bicara. Aku tertawa, bahkan Angrea yang biasanya keep calm juga ikut tertawa.
"Hahaha Vero tuh ... iya besok mau belanja kebutuhan bayi," jawabku diselingi tawa.