Segala ingatan tentang masa laluku sejujurnya hilang. Yang kutahu, aku dipungut oleh Kang Aji, diadopsi oleh Kang Sabugha, serta dididik oleh keduanya. Lewat Kang Sabughalah aku mengenalnya—mengenal wanita pertama yang membuatku jatuh cinta.
Ini pertama kalinya aku berkunjung ke rumahnya, Wisma Maharani. Rumah keluarga Tuan Le Blanc di kota Cirebon. Selera mereka soal tempat tinggal cukup bagus; mengutamakan fungsionalitas sekaligus sarana penunjang kesehatan yang mumpuni. Rumah ini juga ternyata sudah diinstal beyond tech, mirip seperti di mansion milik Kang Sabugha. Well, Ina dan kakaknya kuakui memang berbakat. Belum sehebat Kang Sabugha, namun jelas amat jenius.
Sudah hampir empat tahun aku mengenal Ina. Pertemuan pertama kami adalah saat aku menduduki posisi sementara yang ditinggalkan Kang Sabugha kala ia "menghilang" selama tiga tahun. Ia mewakili RAGE memimpin proyek kerja sama dengan SHINE dalam bidang energi.
Hmm... aku mau bercerita tentang Ina-nya sih. Marvellina Maharani, di kalangan RAGE dan SHINE ia dikenal dengan nama Ina Le Blanc atau Miss Le Blanc. Kapan ya aku mulai dekat dengannya? Mungkin karena sering bertemu, rapat, makan bersama, hingga pernah mengantarnya pulang ke apartemennya waktu di Paris.
Dan kala itu, aku menyatakan cinta di Menara Eiffel saat makan malam bersama. Sejujurnya, aku belum jatuh cinta padanya saat itu. Aku menghormatinya sebagai ilmuwan wanita yang andal. Hanya saja, malam itu ia begitu anggun dan memesona. Garis wajahnya begitu estetik di bawah cahaya malam. Dan tanpa sadar, aku sudah memandanginya dan tenggelam dalam pesonanya. Sepertinya segala hal tentangku memang selalu dikaitkan dengan kata "cepat". Bahkan jatuh cinta padanya pun terjadi dengan cepat. Ya, aku jatuh cinta padamu, Ina. Marvellina Maharani Le Blanc.
Aku tengah bermeditasi di beranda kamar ini—kamar tamu di Wisma Maharani. Tengah malam ini cahaya bulannya bersinar terang, sangat cocok untuk melakukan meditasi. Tiba-tiba gawaiku berdering, nada dering khusus dari nomornya Marvellina.
"Ya halo, kenapa, Baby?" tanyaku setelah mengangkat telepon yang ternyata dari Ina.
"Tolong aku, cepat ke sini... aku di kamarku..." ujarnya, lalu telepon dimatikan.
Ada apa ini? Apa Ina dalam bahaya? Aku harus segera ke sana! Aku pun bergegas secepat kilat berlari menuju kamar Ina. Aku bisa memperkirakan yang mana kamarnya dari penjelasannya tadi sore sebelum sesi "wawancara oleh calon kakak ipar".
Dan di sanalah aku, di depan pintu kamarnya yang terbuka sedikit. Ada orang menerobos masuk-kah? Sialan, bagaimana bisa aku kecolongan? Padahal ada banyak orang di rumah ini saat ini. Kang Sabugha juga ada, bahkan AI sudah terpasang. Bagaimana kami bisa kecolongan?
Aku bergegas masuk, mempersiapkan hati atas hal buruk yang mungkin akan kusaksikan. Semoga Ina baik-baik saja. Kusapu pandangan ke seluruh ruangan mencari sosok kekasihku itu, sampai kurasakan di belakangku ada sosok yang berdiri. Kubalikkan badan bersiap menerjang, namun gerakanku terhenti.
Ia, Inaku, sedang berdiri di ambang pintu. Rupanya ia ada di sana dari tadi. Dan hmm... ia tampak baik-baik saja. Ia hanya mengenakan sebuah spaghetti tank top berbahan tipis berwarna cokelat dan celana dalam berwarna senada. Aku bergegas menghampirinya.
"Kamu baik-baik saja?" tanyaku dengan perasaan khawatir sambil memegangi bahunya lalu memeriksa apakah ada luka di tubuhnya.
Ia tersenyum padaku sambil menggelengkan kepala pelan.
"Oke, hmmm... lalu kenapa?" tanyaku yang diliputi perasaan penasaran.
"Cuma empat detik. Wow, so fast. Kamu pasti menolak kalau aku terus terang. Maaf, Baby," ujarnya seraya menggenggam kedua tanganku.
Aku tidak mengerti. Ada apa ini?
"Maaf ya Baby. IVO, kunci pintu di kamarku."
IVO: "Baik, Nona Marvellina."
Eum... sebentar. Aku memang tidak berpengalaman dengan kaum hawa, tapi sepertinya aku mengerti ini ke arah mana. Ia menempelkan tubuhnya padaku lalu menciumku. Ciuman penuh gairah. Oh, aku paham rupanya ia ingin bermesraan denganku. Oh ya ampun Ina, apa ini boleh ya? Ia lalu mengarahkan kedua tanganku ke dadanya. Oh shit, ini sensasi yang baru pertama kurasakan—menyentuh tubuh wanita di area sensitif.
"Ina, serius... ini belum boleh, kan?" ujarku.
Ia malah menarik wajahku lalu menciumku lagi, sebuah French kiss. Dan dalam dua menit, aku sudah dalam jeratnya.
"Ssstttt... shut up!" ia menyuruhku diam lalu melepaskan pakaiannya sendiri.
Kedua tanganku sudah sibuk bermain-main di posisinya, ketika mataku justru menikmati memandangi wajahnya saat ekspresinya membuat libidoku naik.
"Aku menyukainya, Baby," ucapnya disertai desahan.
Oh my, sumpah, pertahananku tembus. Aku terpancing. Saat ini kepalaku memanas, menyerah lalu mengikuti alur saja. Kubiarkan ia mendorongku ke ranjangnya, menidurkanku terlentang. Ia melucuti pakaianku satu per satu. Ia lalu duduk di atasku dengan selangkangannya terbuka menempel di pinggulku. Ia memandangku, wajahnya jelas menyiratkan bahwa saat ini ia tengah dikuasai hasrat. Ia lalu menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajahku, membuatku bisa melihat ekspresinya dengan jelas.
Akupun membalik posisi dengannya. Kini ia sudah terlentang di hadapanku.