Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #13

Morning Brezze

VELVET QUEEN ๐Ÿ‘‘


Maharani D. : besok Vero dijemput aja ya?

Verosity : iya Madam, mobil dibawa Ican. Jazznya stand by di kantor.

Maharani D. : yaudah, nanti pake mobilnya Marvellina aja kan bakal ada belanjaan juga.

Verosity : lha mobil Madam mana? ๐Ÿค”

Maharani D. : mau dibawa Dirga, Mercynya Dirga mau dipake sama Bunda Hesty, Bunda dan Yuke pulang ke Bandungnya shubuh-shubuh Ver.

@shanum : duuh para bumil, jadi pengen deh. ๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š

Verosity : owh, pinjem Alphardnya Bu Arunika aja dunk Madam.

Maharani D. : hehe Aamiin, moga Vior dan Ivory cepet dikasih debay juga.

Buat apa sih Vero?

Mahalini A. : beuh ... apo laah kau Ver! ๐Ÿคจ๐Ÿคจ๐Ÿคจ

@shanum : Aamiin Kak, makasih doanya. ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ

Verosity : bole c Mah ... masa Velvet belanja enggak pake Alphard? ๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ Kan gengsi gitu ...

Mahalini A. : ngomong sendiri sama Bundo! ๐Ÿ˜ค

Rin-chan : Amiin Kak, makasih doanya, semoga lancar ya sampai nanti melahirkan. ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™.

Maharani D. : Aamiin, makasih juga doanya kalian.

Duh Vero ganjen ... yaudah nanti Ella bilang.

Mahalini A. : boleh koq Ella, ๐Ÿ˜˜

Verosity : huuuuu mamah pilih kasih. ๐Ÿฅฒ๐Ÿฅฒ๐Ÿฅฒ

---

You are Arjunaku


Ia begitu gagah dan rupawan mengenakan seragam berwarna hijau, hitam, dan cokelat tua. Ia kini sudah menjadi prajurit dengan tiga garis hitam dan satu garis merah. Ia yang berseragam lengkap dengan baret hitamnya tengah mengenakan sepatu lapangannya. Pemandangan yang selalu membuatku jatuh cinta sekaligus bangga.

"Sudah di cek semua? ada yang ketinggalan?" Tanyaku kala berjalan sambil dipapah oleh Francoise.

"Sudah, lengkap," jawabnya tegas.

"Masih ada," ujarku.

"Iya kah, apa? seharusnya sudah semua," ia tampak mengecek perlengkapannya ulang.

"Belum tiyum*," jawabku dengan bersikap manja.

Dirga tersenyum, lalu menghampiriku dan kemudian menciumku.

"Well, mungkin kalian butuh waktu berdua, aku mau ambil bir dulu," ujar Francoise yang paham kalau aku ingin waktu berdua bersama Dirga. Ia lalu menuju kitchen.

Aku merangkulnya dengan tanganku di lehernya, menciumnya lagi, sebuah french kiss tentu saja. Kami berciuman agak lama, penuh cinta.

"Gagah banget, aku suka, apa tuh bahasa Cirebonnya ... ah Arjuna Ireng," ujarku disertai senyum lebar padanya.

"Haha iya ya, kulitku memang gelap, jadi kayak papan catur kalo bareng kamu Yank. Kamu malu ya?" tanyanya sambil tersenyum.

Kugelengkan kepalaku,

"A-KU SU-KA," jawabku sambil lalu menciumnya lagi.

"Mau kasih cium Mahardika dulu?" tanyaku.

"Iya tentu saja," jawab Dirga.

Ia lalu berlutut, wajahnya menempel pada perutku, menciuminya manja. Kuelus-elus pipinya, oh Dirgaku, aku sangat bahagia saat ini.

Ia lalu berdiri dan menenteng tas punggungnya. Berjalan sambil merangkul pinggulku. Aku mengantarkannya sampai pintu depan lalu duduk di kursi yang ada di beranda. Kucium punggung tangan kanannya ketika ia mengelus kepalaku dan menciumnya. Pagi seperti inilah yang aku inginkan untuk terus ada, untuk terus selalu ada.

"Berangkat ya, Assalamu'alaikum," ujarnya sambil melambaikan tangan dari dalam mobil.

"Hati-hati, segera pulang ya," ujarku, belum apa-apa sudah merindukannya.

"Good luck eagle eyes,, Bonne chance pour l'avenir!!" ucap Francoise dengan sambil melambaikan tangan tinggi-tinggi.

Ya Dirga, kaulah Arjunaku, pemegang panah sakti yang bisa menembus hatiku. Tak ada hari dimana aku tak bersyukur atas pertemuan kita. Akan selalu ku haturkan puji syukur pada Sang Pencipta yang kasih dan sayang-Nya telah menjodohkan kita dan mengikatnya dalam biduk rumah tangga. Doaku selalu menyertai kepergianmu dalam menjalankan tugas demi bangsa dan negara.

---

(Di salah satu kamar tamu Wisma Maharani)


"Bonjour" ujarku.

Ia berbalik, agak terkejut melihatku.

"Bonjour," jawabnya membalas sapaan dariku.

"Sedang melakukan tai-chi?" tanyaku karena memang jelas sekali ia sedang melakukannya.

"Oh bukan Uni, tapi ya serupa," ia sudah berhenti melakukan gerakan-gerakan tai-chinya. Ya anggap saja tai-chi lah, paling Sabugha yang mengajarkan.

"Lima menit lagi sarapan siap, bergabunglah di meja makan," ujarku padanya.

"Baik Uni," jawabnya sambil mengangguk sopan.

Akupun berbalik badan lalu menuju ruang makan.

Kami semua lalu melanjutkan pagi itu dengan sarapan bersama.

Lihat selengkapnya