Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #14

Parenting, shopping, eating

​Untuk mempersiapkan diri menghadapi kelahiran anak pertamaku ini, aku juga banyak membaca buku dan jurnal ilmiah seputar kehamilan. Jujur, memang sistem kebut enam bulan karena bacaan yang kubaca sebelumnya lebih ke bidang ilmiah, mekanikal, dan teknologi. Ketika tahu aku hamil, aku baru sadar kalau aku kurang asupan informasi soal ini.

​Informasi mengenai kehamilan dan melahirkan lebih banyak seputar saran, tips, dan fakta-fakta umum yang berkaitan dengannya. Jarang bisa dapat jurnal penelitian ilmiah kalau sumbernya bukan dari buku. Alih-alih berpatokan pada data science, malah ada yang mencampuradukkannya dengan mitos lokal.

​Tapi ada satu hal yang aku setuju. Faktanya, mood yang baik selama kehamilan itu bagus untuk bumil. Dan satu dari sekian cara yang bisa dilakukan adalah dengan window shopping. Perasaan greget, bahagia, dan suasana seru bersama sahabat-sahabat saat belanja bareng itu sepertinya jadi stimulus perkembangan yang baik untuk janin.

​"Wah, ini lucu banget Mah, bagus deh buat dipakai jalan-jalan," ujar Vero sambil mengangkat sebuah jumpsuit berwarna biru bermotif beruang imut.

​Aku sedang memasukkan dua set sleepsuit berwarna violet, cuma beda motif saja. Yang pertama bermotif kapal laut, yang kedua bermotif menara Eiffel.

"Iya lucu-lucu, coba lihat ada gambar superhero-nya," ucapku yang sudah beralih melihat jumper.

​Angrea tipe yang memilih dengan tenang. Dengan mendetail dia memeriksa jahitannya, tekstur bahannya, bahkan menarik-narik bajunya untuk menguji elastisitasnya. Hmm... itu mungkin karena dia yang paling berpengalaman juga sih ya.

​"Kalau newborn pilih bahan yang paling nyaman. Usia awal sih baby cepat tumbuh jadi kemungkinan pakaiannya cuma bertahan paling lama dua bulan lah. Nah, ini lucu nih Ella," ucapnya sambil menunjukkan sebuah overall berwarna toska.

"Ya ampun, di sini lucu-lucu semua. Masa Vero harus borong satu rak? Juara memang toko Baby Pony," Vero sudah sangat antusias.

​"Kata Bundo, di sini barang-barangnya up to date, terutama pakaian. Breast pump yang pernah Rea kasih ke Vero juga belinya di sini," ucap Angrea tengah membolak-balikkan dua buah romper.

"Ajari kami professeur! Rea sudah pengalaman," ucapku pada Angrea.

"Iiih... ini lucu banget coba... bagus yang mana?" tanya Vero menunjukkan dua buah long romper, satu di tangan kanan, satu di tangan kiri.

​Aku dan Angrea sepakat menunjuk yang kanan sambil mengangguk. Lalu Vero sambil tersenyum lebar memasukkan keduanya ke keranjang.

​"Kenapa sih wanita kalau memilih pakaian selalu menggunakan kata 'lucu'? Ina juga begitu," tanya Altarist.

​Oh iya, kami sampai lupa ada Altarist yang sudah jadi asisten membawa barang. Kami bertiga memandangnya dengan sinis. Vero lalu memberi isyarat untuk tidak usah bicara.

"Ssssttttt..." Vero menyilangkan satu jari di depan bibir.

​Altarist mengangguk, paham kalau bukan hal yang bijak mengganggu tiga bumil yang sedang happy berbelanja kebutuhan bayi dengan pertanyaan random. Khusus untuk Vero, ia sepertinya memilih berdasarkan visual look. Vero suka, Vero bawa. Ya... butuh tidak butuh, pokoknya tetap terkategori kebutuhan.

​"Waaah tiga set murah banget cuma Rp265.310,-," ujar Vero mengangkat banner mukena bayi untuk umur satu tahun.

"Emang bayi sudah bisa salat? Terus kenapa harus tiga set?" tanyaku heran dengan pilihannya.

"Ini kalau satuan Rp100.000 Ella, kalau tiga kan lebih murah," ujarnya memasukkan mukena bayi itu ke keranjangnya.

"Iya, cuma kan paling dipakai buat photoshoot. Ella tidak mau bayarin yang itu ah," ucapku.

"Dieh... kok gitu..." jawabnya mengeluarkan lagi mukenanya.

​"Ke bagian suplemen dulu yuk," ajakku.

"Ayuuuukkkk..." sambut Vero happy.

​"Kuat tidak?" tanya Angrea pada Altarist yang sudah menenteng tiga keranjang penuh pakaian anak.

"Kuat. Ditambah 10 lagi sambil sprint ke Surabaya juga kuat," jawabnya sok-sokan.

​Kami pun lalu beranjak menuju bagian suplemen. Berbagai produk-produk penunjang kesehatan dan perkembangan bayi tampak terpajang dengan rapih. Begitu banyak pilihan sampai-sampai seakan semua begitu penting untuk tersedia di rumah.

"DHA itu penting, harus yang the best saja," saranku pada keduanya.

"Sisanya seperti kalsium, kolagen, penunjang imun juga penting. Ella sudah banyak baca dan kesimpulannya fokus ke DHA," kubanggakan hipotesis-ku sambil mengangkat satu produk.

​"Weeew ginian saja 2,7 jeti jebol... jebol..." ucap Vero lalu memonyongkan bibirnya.

"Itu bentuknya softgel, gimana cara kasihnya ke baby Ella?" tanya Angrea lebih seperti mengkritisi pilihanku.

"Eh iya ya..." kulihat kemasannya lagi. Astaga salah, terlalu fokus membaca kandungan di dalamnya sampai lupa melihat jenis produknya.

​"Mending yang guttae saja, ini misal," Angrea menyarankan dua buah produk padaku.

Oh my, rupanya pengalaman punya sisi kuatnya sendiri ya. Angrea paham hal yang tidak kupahami padahal aku yakin sudah banyak belajar soal ini.

"Professeur! Ajari aku. Kayaknya mending dengar sarannya Rea deh," ucapku yang akhirnya mengakui kepiawaiannya.

​Angrea tersenyum, ia tampak senang bisa berjasa padaku.

"Oke ya sudah, ini sudah. Apa lagi Madam?" tanya Vero celingukan.

"Peralatan mandi, makan, boks bayi, stroller, gendongan bayi," kusebutkan shopping list-ku.

​"Mau langsung dibeli semua?" tanya Angrea.

"Iya Mah, apa gimana?" jawabku yang jadi ragu.

"Ya kalau saran Rea sih, mending lihat perkembangan anaknya dulu. Ada item-item yang harus menyesuaikan sama perkembangan bayinya. Seperti misal peralatan mandi atau baby carrier. Biar aman, baby carrier beli saja dulu baby wrap," Angrea menjelaskan.

​Aku tersenyum tertegun memandang sahabatku itu. Ia juga menyadari dirinya sedang dipandangi.

Lihat selengkapnya