Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #15

I don't wanna regret this!

Sebel, sebel, sebel... Uni menyebalkan!!! Main bawa saja, tidak izin dulu. Pasti Al diancam bakal tidak direstui kalau menolak. Awas saja, aku bakal sembunyikan boneka pausnya.

​Harusnya hari ini jadi spesial. Ini kan waktunya habis bersama mereka berbelanja, egois!!! Padahal susah banget punya waktu berdua bersantai sama Al; aku sibuk, dia sibuk. Baru kemarin malam senang banget akhirnya bisa seranjang sama dia. Bisa kasih hal berharga sama dia, paginya sudah diculik. Pokoknya kalau mereka pulang, Ina bakal ngambek sama mereka semua, sama Uni Angrea dan Mbak Vero juga.

​Resah hatiku, sekarang sudah lewat tengah hari. Kata Mas Sabugha rombongan mereka bakal pulang sorenya. Ini sudah mau jam tiga sore dan mereka belum pulang juga. Ibu-ibu kalau belanja pasti lama, apalagi ini kehamilan pertama Uni. Pastinya dia lagi kesetanan borong segala-gala.

​Ya Lord, kesel! Kesel! Kesel! Kenapa juga Al mau saja, sudah begitu pesanku lama dibalasnya. Altarist... cepat kembali, aku galau.

​"Hé ma chérie, tu vas bien?" tanya Papaku menanyakan kenapa aku cemberut. Rupanya ia melihatku mondar-mandir di depan rumah.

"Papa, Uni... je la déteste," ujarku mengatakan bahwa aku kesal pada Daniella seraya meminta peluk darinya dengan manja.

"Okay, raconte-moi, je ne saisis pas bien," jawab Papa memintaku menjelaskan permasalahannya.

​"Elle a emmené Altarist dehors, sans ma permission. On dirait qu'elle ne l'aime pas. Depuis hier, elle se comporte comme une mère cruelle envers nous," curhatku soal Daniella yang "menculik" Altarist tanpa izinku dan bersikap ketus pada kami seakan ibu tiri saja.

"Oh dear, Berlianku, Ina... hmm... kakakmu pasti bukan bermaksud buruk," jawab Papa beralih menggunakan bahasa Indonesia.

​"Terus kenapa dia dari kemarin ketus sama cowokku? Papa saja merestui kami," protesku yang juga menjawab dengan bahasa Indonesia.

"Hmmm... Ina, kau tahu, kakakmu mungkin adalah orang yang paling merasa kehilangan saat ibu kalian meninggal dunia. Dan mungkin sekarang dia merasa sebagai seorang yang harus menggantikan posisinya untukmu. Kakakmu memang strict, baik bagi dirinya sendiri maupun orang di sekitarnya, tapi itu adalah tanda cintanya pada kalian," jawab Papaku.

​Kami sudah duduk di kursi beranda depan. Aku bersandar dalam rangkulannya dengan Papa menggenggam tanganku memberi kehangatan. Aku mendengarkannya dengan saksama. Papa adalah orang terdekatku.

​"Jadi mungkin ia begitu mencintaimu hingga ingin memastikan bahwa pria yang akan mendampingimu adalah pria yang baik dan pantas bersanding denganmu, Ina. Papa yakin, Daniella sayang padamu," jawabnya yang langsung bisa menenangkan hatiku.

​Oh Papa, engkau memang selalu bisa menenangkan kami anak-anakmu. Aku jadi paham kenapa Ama begitu mencintaimu, meski aku belum pernah bertemu dengannya.

"Iya Papa, désolé, Ina hanya khawatir," balasku.

"C'est d'accord ma chérie, prouve que Ina Le Blanc a un cœur," jawabnya menyebutkan bahwa galauku adalah bukti bahwa aku memiliki sisi manusiawi. Ia lalu memelukku dan kemudian mencium keningku.

​Kupeluk tubuhnya yang semakin berumur. Oh Papa, aku mau kamu tetap di sini selamanya. Ina sayang Papa.

---

(Satu jam setelahnya)

​Sebuah Alphard memasuki halaman depan. Dari dalamnya keluar Daniella, Angrea, Veronica, dan Altarist. Setelah pintu belakang mobil dibuka, Pak Handoko dan Joko tampak sibuk mengangkut belanjaan ke dalam rumah.

​"Bisa gitu ya, tukang bakso saja punya kisah cinta romantis? Haha!!!" Vero tertawa terbahak-bahak.

"Don't judge the book by its cover," ujar Angrea.

"Bukan! Don't judge the chef just from the bakso, haha!!" ralat Vero yang masih berguyon.

"Seru ya ternyata belanja begini," Daniella tampak paling senang.

​Mereka berempat lalu memasuki rumah dan menuju ruang keluarga. Di dalamnya sudah ada Tuan Reginald, Ourson, Francoise, Pak Iskandar, Bu Arunika, Razi, Sabugha, Nindy, dan Marvellina. Marvellina menatap Daniella dengan pandangan sebal.

​"Unch... ada yang marah," ujar Daniella seraya menunjukkan senyum lebar.

"Sebel, tidak sopan!" Marvellina berdiri menghampiri Altarist. "Kamu juga, mau saja, ninggalin aku lagi!!!" ucap Marvellina menunjukkan kekesalannya sambil menyilangkan tangan di dada.

"Maaf, Baby," balas Altarist.

​"Haaaaah... marah terus nanti tambah tua loh kamu," ujar Daniella bermaksud menggoda adiknya. "Hey Al, just do it! What you told us before," Daniella mencolek tangan Altarist. Marvellina memasang wajah marah.

​Daniella lalu duduk di sebelah Francoise yang lantas mengelus-elus perut sepupunya tersebut.

"Sorry Baby untuk yang tadi. Hmm... tapi sebelum aku pulang, aku mau sore ini sempurna," ujar Altarist menatap Marvellina.

"Eum... oke, how?" Marvellina terdiam, menebak-nebak.

​Altarist lalu berlutut di hadapan Marvellina, menatap matanya, menggenggam tangan kirinya. Marvellina tertegun memandang kekasihnya itu.

​"Ina, aku kira memang sudah saatnya hubungan kita kugenapi. Aku tidak mau menyesal karena terlalu lama menunda. Aku tidak mau kehilangan kamu. Ina adalah belahan jiwa Altarist. Sekarang di hadapan papamu, di depan semua yang ada di sini... Kumohon berikanlah jawaban terbaikmu. Marvellina Maharani Le Blanc, will you marry me?" ucap pria berambut panjang seleher itu.

Lihat selengkapnya