Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #16

Angrea giving birth

Kadang hidup memang tidak terduga, kadang kita dikasih surprize yang benar-benar dadakan. But yeah, life is never flat, biar seru mungkin menurut yang buat kehidupan.

Sore itu setelah rombongan Sabugha pergi selanjutnya tinggal rombongan Pak Iskandar, Bu Arunika, Angrea, Mahalik dan Razi yang harus balik ke Bandung. Razi sendiri tiga hari lagi harus balik ke Sawahlunto buat masuk kerja lagi.

"Ella semoga lancar ya sampai sembilan bulan, terus bisa gendong baby," ujar Angrea

"Makasih ya Mah, udah mau dateng padahal lagi hamil besar," ucapku sambil memeluknya lalu cipika cipiki.

"Iya nih Mamah, udah tinggal itungan hari masih kuat aja, hamilnya makan baut ya jadi kenceng," ujar Vero seraya memeluk Angrea dan juga cipika cipiki.

"Vero tuh, makan otak yang banyak," ucap Angrea mencubit pipi Vero.

"Aduuuuh sakit Mah. Itu sih buat siapa tuh namanya, temennya Mas Sabugha ... oh Unnara," Vero memegang tangan Angrea yang sedang mencubitnya.

Angreapun lalu digandeng pinggul oleh Razi yang juga menggendong Mahalik beranjak menunju mobilnya dimana Pak Iskandar sudah sedang memanaskan mesinnya dan Bu Arunika berdiri di samping pintu depan mobil yang terbuka.

Namun sebelum Angrea masuk ke mobil ia menunduk. Wajahnya menyiratkan bahwa ia sedang merasakan rasa sakit tiba-tiba. Tangan kirinya memegang perutnya, sementara tangan kanannya meraih bahu suaminya.

Angrea kenapa?!!!

---

(Satu jam kemudian)

Aku tidak pikir panjang dan sudah ikut juga ke dalam mobil. Vero juga sama, ia malah berwajah panik, membuatku ikutan panik juga.

"Iyo, tinggal belok di sini terus lurus aja. Nanti ado tampek nan ado tulisan Klinik Maternity Feminim dan BornCaffee," ujarku menjelaskan jalan ke klinik langgananku.

"Uuhhhh ... haaaah ffuuhhh," Angrea tengah mengatur nafasnya.

"Mah sabar Mah, sebentar lagi sampai, ibunya yang sabar, bayinya juga yang sabar, Insyaallah dapet dokter yang sabar. Banyak istighfar, baca sholawat nabi, biar diberi kelancaran. Sabar ya Mah tahan dulu. Sebentar lagi sampai. Positif thinking, positif thinking ..." ujar Vero sambil memeluk Mahalik di kursi belakang.

Aku dan Razi sudah duduk mendampingi Angrea di kedua sisi sambil mengelap keringatnya.

"Nak banyak-banyak berdzikir, Angrea harus tabah dan kuat, janganlah Angrea khawatir, kami ada di semua disini, Angrea perbanyak menyebut asmaul husna, biar kita semua selamat. Berdoa pada yang kuasa memohon perlindungan, diberi kesabaran, diberi kemudahan, yang kuat ya Nak, bundo percaya kamu ..." suara bu Arunika bersaut-sautan dengan suara Vero.

Sebelum Bu Arunika melanjutkan, Angrea bicara,

"Verooo ... Bundooo ... diam!!! berisik!!!"

---

(Di ruang tunggu klinik maternity Feminim)

"Sudah masuk pembukaan 9, paling 20 menit lagi mulai persalinannya," ujar seorang dokter bertubuh tambun itu.

"Oh ... gitu ya Dok. lancar kan Dok Her?" Tanyaku.

"Lancar, enggak lancarnya sih kenapa?" Ia tampak tenang.

"Yaudah syukur, ini dokter mau kemana?" tanyaku yang masih agak khawatir.

"Sebentar nyuruput kopi, biar fokus. Dua menit balik," jawabnya lalu berjalan ke arah ruang kantornya.

"Dokternya juga lagi hamil tah Ella?" tanya Vero guyon.

"Eeeh enggak sopan, cowok Vero, dia gendut aja," jawabku.

"Astagfirullah, Vero salah paham," ujarnya entah sungguhan atau bercanda.

"Bagus dia, Ella selama hamil rutin ceknya kesini, dokternya dedikasi banget. Pernah waktu dulu cek kesini terus mati lampu tuh dokter Her nungguin sampe nyala lagi, padahal pas mati lampu itu dia udah mau balik tau. Suka Ella liatnya," ujarku menjamin kredibilitas si dokter.

"Eh Madam enggak boleh, suami orang, udah punya suami juga tuh," ujar Vero masih saja bercanda.

"Repot deh Vero tuh, dedikasinya Ella suka," kuladeni saja guyonannya.

Si dokter lalu balik lagi.

"Udah Dok ngopinya?" tanyaku.

"Yoi, espresso aja lah," jawabnya lalu beranjak masuk ruang bersalin bersama seorang asistennya.

"Bareng-bareng doa yuk Madam buat kelancaran persalinan Mamah," ujar Vero yang sudah masuk mode normal.

Akupun mengajak Bu Arunika, Pak Iskandar, Razi serta Mahalik boy untuk berdoa dipimpin Pak Iskandar.

Lihat selengkapnya