Kadang hidup memang tidak terduga, kadang kita dikasih surprise yang benar-benar dadakan. But yeah, life is never flat, biar seru mungkin menurut yang membuat kehidupan.
Sore itu setelah rombongan Sabugha pergi, selanjutnya tinggal rombongan Pak Iskandar, Bu Arunika, Angrea, Mahalik, dan Razi yang harus balik ke Bandung. Razi sendiri tiga hari lagi harus balik ke Sawahlunto buat masuk kerja lagi.
"Ella, semoga lancar ya sampai sembilan bulan, terus bisa gendong baby," ujar Angrea.
"Makasih ya, Mah, sudah mau datang padahal lagi hamil besar," ucapku sambil memeluknya lalu cipika-cipiki.
"Iya nih Mamah, sudah tinggal hitungan hari masih kuat saja, hamilnya makan baut ya jadi kencang," ujar Vero seraya memeluk Angrea dan juga cipika-cipiki.
"Vero tuh, makan otak yang banyak," ucap Angrea mencubit pipi Vero.
"Aduuuuh sakit, Mah. Itu sih buat siapa tuh namanya, temennya Mas Sabugha... oh, Unnara," Vero memegang tangan Angrea yang sedang mencubitnya.
Angrea pun lalu digandeng pinggulnya oleh Razi yang juga menggendong Mahalik, beranjak menuju mobilnya di mana Pak Iskandar sudah memanaskan mesinnya dan Bu Arunika berdiri di samping pintu depan mobil yang terbuka.
Namun sebelum Angrea masuk ke mobil, ia menunduk. Wajahnya menyiratkan bahwa ia sedang merasakan rasa sakit tiba-tiba. Tangan kirinya memegang perutnya, sementara tangan kanannya meraih bahu suaminya.
Angrea kenapa?!!!
---
(Setengah jam kemudian)
Aku tidak pikir panjang dan sudah ikut juga ke dalam mobil. Vero juga sama, ia malah berwajah panik, membuatku ikutan panik juga.
"Iyo, tinggal belok di sini terus lurus saja. Nanti ado tampek nan ado tulisan Klinik Maternity Feminim dan BornCaffee," ujarku menjelaskan jalan ke klinik langgananku.
"Uuhhhh... haaaah ffuuhhh," Angrea tengah mengatur napasnya.
"Mah, sabar Mah, sebentar lagi sampai. Ibunya yang sabar, bayinya juga yang sabar, Insyaallah dapat dokter yang sabar. Banyak istigfar, baca selawat nabi, biar diberi kelancaran. Sabar ya Mah, tahan dulu. Sebentar lagi sampai. Positive thinking, positive thinking..." ujar Vero sambil memeluk Mahalik di kursi belakang.
Aku dan Razi sudah duduk mendampingi Angrea di kedua sisi sambil mengelap keringatnya.
"Nak, banyak-banyak berzikir, Angrea harus tabah dan kuat, janganlah Angrea khawatir, kami ada semua di sini. Angrea perbanyak menyebut Asmaulhusna biar kita semua selamat. Berdoa pada Yang Kuasa memohon perlindungan, diberi kesabaran, diberi kemudahan. Yang kuat ya, Nak, Bundo percaya kamu..." suara Bu Arunika bersahut-sahutan dengan suara Vero.
Sebelum Bu Arunika melanjutkan, Angrea bicara,
"Verooo... Bundooo... diam!!! Berisik!!!"
---
(Di ruang tunggu Klinik Maternity Feminim)
"Sudah masuk pembukaan 9, paling 20 menit lagi mulai persalinannya," ujar seorang dokter bertubuh tambun itu.
"Oh... gitu ya, Dok. Lancar kan, Dok Her?" tanyaku.
"Lancar, enggak lancarnya sih kenapa?" Ia tampak tenang.
"Ya sudah syukur, ini Dokter mau ke mana?" tanyaku yang masih agak khawatir.
"Sebentar nyeruput kopi, biar fokus. Dua menit balik," jawabnya lalu berjalan ke arah ruang kantornya.
"Dokternya juga lagi hamil tah, Ella?" tanya Vero guyon.
"Eeeh enggak sopan, cowok Vero, dia gendut saja," jawabku.
"Astagfirullah, Vero salah paham," ujarnya entah sungguhan atau bercanda.
"Bagus dia, Ella selama hamil rutin ceknya ke sini, dokternya dedikasi banget. Pernah waktu dulu cek ke sini terus mati lampu, tuh Dokter Her nungguin sampai nyala lagi, padahal pas mati lampu itu dia sudah mau balik tahu. Suka Ella lihatnya," ujarku menjamin kredibilitas si dokter.
"Eh Madam enggak boleh, suami orang, sudah punya istri juga tuh," ujar Vero masih saja bercanda.
"Repot deh Vero tuh, dedikasinya Ella suka," kuladeni saja guyonannya.
Si dokter lalu balik lagi.
"Sudah Dok ngopinya?" tanyaku.
"Yoi, espresso saja lah," jawabnya lalu beranjak masuk ruang bersalin bersama seorang asistennya.
"Bareng-berang doa yuk Madam buat kelancaran persalinan Mamah," ujar Vero yang sudah masuk mode normal.