Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #17

Jealous is a right!

"Cinta makan aja dulu gih! masa baru dateng udah joss lagi? Mereka juga masih lagi otw ke Wisma, udah selesai di kliniknya," ujarku mengkhawatirkannya.

"Udah cinta, tadi di kantin sekolah makan dulu biar bisa langsung otw. Kan cintaku yang mintanya cepet-cepet?" jawab Icanku, tersenyum sambil menyemprotkann parfum ke tubuhnya.

Iya sih, memang Vero yang udah enggak sabar mau gendong anak keduanya Angrea. Kemarin ketahan sama Mahalik, terus pas Ican dateng Theo belum kebagian jatah, jadi Theo dulu sampe pulang.

"Maaf, beban enggak Vero?" tanyaku.

Ican lalu mendekat, memeluku dari depan dan menahan tangannya dipinggulku.

"Beban ... beban kalo lama-lama jauh dari Veronicanya Ican," jawabnya.

Ya ampuuuun, so sweet jawabnya, suami teromantis emang Vero punya. Vero monyong sambil menaikan dagu menatap matanya, tahu kan minta apa?

"Yuk, berangkat!" ajaknya setelah menciumku.

"Kuy!" balasku.

---

"Yuhuu babynya siapa namanya?" tanyaku yang happy-happy lihat anaknya Angrea.

"Zamaruda Mahalini," jawab Angrea yang sudah sedang duduk di sofa. Angrea memang kuat, sehari saja sudah bisa jalan-jalan lama. Waktu melahirkan Theo aku butuh tiga hari untuk bisa jalan-jalan lama.

"Lucu ya, jadi inget Theo waktu kecil," ujar Ican ketika jarinya digenggam Zamaruda.

"Nanti juga punya lagi nih, cantik bakalan," ucapku sambil mengelus-elus perutku.

"Iya, bakalan Ican sering ajak ngedate," timpalnya.

"Diselingkuhin anak sendiri gitu ya, haha," aku tersenyum menatapnya. Ican selalu the best kalo nimpalin obrolan.

"Mamah mau udah, apa terus nyari yang cewek?" tanyaku pada Angrea. Yaaa ... terpikir aja, soalnya kan semacam rumus paten gitu kalau punya anak pasti mau ada cowok dan ada cewek.

"Enggak tahu, gimana Razi aja," jawabnya bernada lempeng.

"Enggak mudah kan ngurus anak? tapi mamah Rea sih percaya, born to be a mommy," ucapku membalas jawabannya Angrea.

Asli! aku memang berpikir Angrea itu cepat belajar soal menjadi seorang ibu. Ini kali ya pinternya Angrea dibidang ini, sesuai dengan bentuk bodynya.

"Ya tanggung jawab besar sih, Rea sama Razi sama-sama belajar," jawabnya, ya kan ... bijak.

"Razi sih mana?" tanyaku yang sendari datang tidak melihat keberadaan suaminya.

Ya harusnya kan dia disebelah Angrea terus ya kan?

"Lagi jemput Ajo di stasiun Kejaksan," jawab Angrea.

Ia lalu mengambil baby Zama yang mulai menangis lapar mau nenen. Angrea mengenakan kain. Khusus untuk menyusui jadi ia bisa tetap mengobrol bersamaku dan Ican. Theo sudah sedang menonton vidio musik anak-anak bersama Daniella.

"Assalamu'alaikum!" terdengar sayup-sayup suara salam dari arah pintu depan.

Jelas yang mengucapkan sudah masuk rumah karena suaranya bisa kami dengar. Akupun memandang ke arah lorong yang menghubungkan bagian depan dengan ruang keluarga ini. Lalu muncullah Razi dan Gege dengan seorang pria dan seorang wanita berkerudung syar'i panjang.

Si pria membawa koper dan sebuah tas punggung. Ia berperawakan setinggi Razi dengan kulit sawo matang.

"Ameh!" ujarnya menyapa Angrea dengan tegas dan ceria.

"Ajo, bilo tibo, Uda?" balas Angrea jelas kenal.

"Barua ja!" ia lalu menghampiri Angrea dan mencium kepalanya.

Sepertinya ini adalah kakaknya Angrea pikirku. Ia lalu tersenyum padaku dan menyalami Ican.

"Dzulfikar!" ujarnya dengan semangat 45 ketika bersalaman.

"Ikhsan," sambut Ican yang lebih kalem.

"Ini pasti kemenakan Dzul?" Si Abang Dzulfikar lalu melihat ke arah baby Zama dan mengelus kepalanya dengan lembut.

"Lagi maemak Ajo, siko duduak lah, capek pasti kan, itu Uni jangan ditinggal, Uda!" ujar Angrea sambil menunjuk wanita yang tadi bersamanya.

"Sudah biasa Ameh, Alhamdulillah bayinya lahir sehat ya," ujar si wanita.

Lalu tiba-tiba Ican menoleh ke arah si wanita dengan wajah agak kaget.

"Humairah?" tanyanya.

"Mikhael?" balas si wanita.

Lho ... koq kalian kenal sih?

Eh ... koq kayaknya Vero kenal sih?!

---

(Beberapa menit kemudian)

Wanita itu lalu memperkenalkan dirinya.

Lihat selengkapnya