Nah, baru saja Vero naik progres dalam berhijrah, sudah mau pakai kerudung. Ujiannya langsung datang buat membuktikan iman Vero.
"Ver, nanti kamu yang antar Hellen, Andri, sama Merry ya! Mamih sama Kellan dari sini mau langsung ke tempat lain, ada perlu," ucap Mamihku. Mereka lagi beribadat dan Vero diminta jemput Hellen, Andri, dan Merry. Itu artinya Vero harus menunggu dulu sampai mereka selesai. Menunggu di gereja dong! Di kantinnya sih.
Vero teleponan sama Ican.
"Iya enggak apa-apa kok, Ican kan ada mengisi acara masa dibatalkan, Vero tahu kok gereja itu bentuknya kayak apa," ujarku bercanda.
"Haha... iya ya, ya sudah kabari kalau butuh bantuan, salam buat Mamih dan adik-adik Vero dari Ican," ujarnya membalas ucapanku.
"Iya Cinta, assalamu'alaikum," ucapku menutup percakapan kami.
"Wa'alaikumsalam Wr. Wb," balas cintaku.
Vero pun lanjut menyeruput jus jambu merah, katanya bagus buat menambah energi ibu hamil. Theo sudah sedang main di playgym kantin sama anak-anak lain.
"Eeeh... ini Vero kan? Iya deh Vero, gimana kabar?" Dua orang wanita menghampiriku. Aku kenal sih, dulu kalau beribadat sering janjian bareng karena satu SMP, Jesica dan Yolanda.
"Eh, Jesica, Yolanda, gimana kabar?" tanyaku.
"Sehat, Vero makin... saleha ya?" tanya Jesica langsung ke topik utama.
"Hehe... iya Alhamdulillah ya," jawabku.
"Gue ke dalam dulu ya, Vero, sorry gue ke dalam dulu enggak bisa nemenin," ujar Yolanda.
"Oh... iya, ya sudah," jawabku lalu dia cipika-cipiki dan masuk gereja.
"Gue duduk di sini ya, Ver," Jesica langsung duduk.
"Iya silakan, orang public place juga," jawabku sambil agak bergeser menyediakan tempat buat dia duduk di bangku.
"Vero btw lagi apa di sini? Elo enggak lagi ngaku dosa kan? Haha," ucapnya bermaksud bercanda. Ya, kami dulu biasa bareng karena humor mereka nyambung sama Vero.
"Tadinya sih mau ceramah, tapi kartu anggotanya sudah expired," jawabku, bercanda tentu saja.
"Haha... lo tuh masih lucu saja kayak dulu sudah jadi artis juga. Anaknya mana? Sudah punya satu kan?" tanyanya sambil lirik-lirik mengamati sekitarku.
"Itu lagi main di playgym," jawabku.
"Ganteng ya, mirip ibunya," ucap Jesica guyon.
"Haha... kalau mirip ibunya sih sedeng* nanti. Loe sendiri? Hans mana, Jes?" Aku menanyakan keberadaan suaminya, karena biasanya mereka berdua.
"Euuum, ya itu... tahu dah lagi sama pacarnya kali," jawabnya cukup membuatku kaget.
Aduh, Vero mau banget tanya lebih lanjut tapi ini tuh ghibah kalau kata Ican.
"Oh... aduh, yang sabar ya!" jawabku simpel saja.
"Ya gimana mau sabar, tapi kelihatan mata... sudah sampai dibawa ke rumah, Ver!! Kan ada anak-anak, Ver. Maunya sih cerai saja tapi kan susah," Jesica malah latah cerita sendiri.
"Suami kamu sih ke mana? Jangan bilang senasib," tanyanya.
"Enggak lah, dia rajin mengisi materi di acara keagamaan, maklum ustadz mualaf itu laku, lumayan beribadah sekalian ada amplopnya," jawabku kira-kira cukup manusiawi lah.
"Haha... elo dasar... masih saja," Jesica lalu akhirnya memesan minuman.
"Gimana, Ver, setelah jadi mualaf enak?" tanya Jesica masuk ke menu utama.
"Hmm... Alhamdulillah, semakin damai dan bahagia," jawabku, ya sesuai apa yang kurasakan.
"Elo enggak khawatir dipoligami, Ver? Kan boleh punya empat," tanyanya.
Ah, soal ini sih memang aku belum pernah tanyakan. Harusnya memang ditanyakan ya sebelum nikah. Aduuuduuu... mana sudah nganak** dua lagi. Emang harus ya setuju kalau semisal Ican minta poligami?