Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #18

Exam of faith

Nah baru aja Vero naik progress dalam berhijrah, udah mau pake kerudung. Ujiannya langsung dateng buat membuktikan iman Vero.

"Ver nanti kamu yang anter Hellen, Andri, sama Merry ya! Mamih sama Kellan dari sini mau langsung ke tempat lain, ada perlu," ucap Mamihku. Mereka lagi beribadat dan Vero diminta jemput, Hellen, Andri, sama Merry. Itu artinya Vero harus nungguin dulu sampai mereka selesai. Nunggu di Gereja dong! di kantinnya sih.

---

Vero teleponan sama Ican.

"Iya enggak apa-apa koq, Ican kan ada ngisi acara masa dibatalin, Vero tahu koq gereja tuh bentuknya kayak apa," ujarku bercanda.

"Haha ... iya ya, yaudah kabarin kalo butuh bantuan, salam buat Mamih dan adik-adik Vero dari Ican," ujarnya membalas ucapanku.

"Iya Cinta, Assalamu'alaikum," ucapku menutup percakapan kami.

"Wa'alaikumsalam Wr. Wb," balas cintaku.

Veropun lanjut nyeruput jus jambu merah, katanya bagus buat menambah energi ibu hamil. Theo udah lagi main di playgim kantin sama anak-anak lain.

"Eeeh ... ini Vero kan? iya deh Vero, gimana kabar?" dua orang wanita menghampiriku. aku kenal sih, dulu kalo beribadat sering janjian bareng karena satu SMP bareng, Jesica dan Yolanda.

"Eh Jesica, Yolanda, gimana kabar?" tanyaku.

"Sehat, Vero makin ... sholeha ya?" tanya Jesica langsung ke topik utama.

"Hehe ... iya Alhamdulillah ya," jawabku.

"Gue ke dalem dulu ya, Vero sorry gue ke dalem dulu enggak bisa nemenin," ujar Yolanda.

"Owh ... iya yaudah," jawabku lalu dia cipika cipiki dan masuk gereja.

"Gue duduk di sini ya Ver," Jesica langsung duduk.

"Iya silahkan, orang public place juga," jawabku sambil agak bergeser menyediakan tempst buat dia duduk di bangku.

"Vero btw lagi apa disini? Elo enggak lagi ngaku dosa kan? haha," ucapnya bermaksud bercanda. Ya kami dulu biasa bareng karena mereka humornya nyambung sama Vero.

"Tadinya sih mau ceramah, tapi kartu anggotanya udah expired," jawabku, becanda tentu saja.

"Haha ... loe tuh masih lucu aja kayak dulu udah jadi artis juga. Anaknya mana? Udah punya satu kan?" tanyanya sambil lirik-lirik mengamati sekitarku.

"Itu lagi main di playgym," jawabku.

"Ganteng ya, mirip ibunya," ucap Jesica guyon.

"Haha ... kalo mirip ibunya sih sedeng* nanti. Loe sendiri? Hans mana Jes?" Aku menanyakan keberadaan suaminya, karena biasannya mereka berdua.

"Euuum, ya itu ... tahu dah lagi sama pacarnya kali," jawabnya cukup membuatku kaget.

Aduh Vero mau banget nanya lebih lanjut tapi ini tuh ghibah kalo kata Ican.

"Oh ... aduh, yang sabar ya!" jawabku simple saja.

"Ya gimana mau sabar, tapi kelihatan mata ... udah sampe dibawa ke rumah, Ver!! kan ada anak-anak, Ver. Maunya sih cerai aja tapi kan susah," Jesica malah latah cerita sendiri.

"Suami kamu sih kemana? jangan bilang senasib," tanyanya.

"Enggak lah, dia rajin ngisi materi di acara keagamaan, maklum ustadz mualaf tuh laku, lumayan beribadah sekalian ada amplopnya," jawabku kira-kira cukup manusiawi lah.

"Haha ... elo dasar ... masih aja," Jesica lalu akhirnya memesan minuman.

"Gimana Ver setelah jadi mualaf enak?" tanya Jesica masuk ke menu utama.

"Hmm ... Alhamdulillah, semakin damai dan bahagia," jawabku, ya sesuai apa yang kurasakan.

"Elo enggak khawatir dipoligami Ver? kan boleh punya empat," tanyanya.

Lihat selengkapnya