Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #19

Choice

​Aku sedang mengutak-atik laptopku menyelesaikan tugas yang tinggal sedikit lagi. Dirga tengah menyimpan pistolnya di peti lalu ia simpan di lemari kami. Ia baru saja selesai mandi setelah pulang kerja dua jam yang lalu.

​"Masih sibuk, Yank?" tanyanya sambil menghampiriku dan melirik pada apa yang sedang kukerjakan.

​"Eum... sedikit lagi sih, mau minta jatah kah?" tanyaku, ya menebak saja.

​"Haha... maksudnya enggak istirahat kah? Kehamilan Ayank kan sudah delapan bulanan," jawab Dirga.

​"Ouh... iya tanggung tuh, habis ini selesai. Lagi mengecek laporan perpajakan. Biar besok bisa langsung diselesaikan sama Gege," jawabku.

​"Gege itu kerjanya gado-gado ya?" tanyanya kala duduk tepat di sebelahku.

​Aku menoleh, memandangnya dengan cemberut.

​"Dieh, kesannya Ella memperbudak orang," ucapku agak protes.

​"Haha... bukan gitu, maksudnya Gege serba bisa," jawab Dirga.

​"Memang! Setiap Mahandaru itu serba bisa, sudah bakat mereka. Pernah lihat tools hack-tools hack di Le Virale.id? Atau konsep distribusi stok juga? Itu idenya Gege semua," kubanggakan rekan sedarah jauhku itu.

​"Dia digaji atau gimana sih?" tanya Dirga.

​"Enggak dong, Ella kasih profit dua cabang Le Viral.id. Masa disamakan dengan Irriana dan Maefah?" Kujelaskan pada Dirga tentang upah Gege.

​"Wow, berapa tuh sebulannya?" tanya Dirga lalu mengambil posisi duduk di sebelahku.

​"Euum ya... lebih besar dari gaji pokok jabatan seorang kapten dan segala tunjangannya," jawabku sambil tersenyum lebar dengan maksud bercanda menggodanya.

​Ia tersenyum masam, mungkin aku memang malah berkesan menyindir ya.

​"Dieh maaf, enggak mengejek kok, Ella bersyukur," ujarku seraya merangkulkan tangan dan mengecup pipinya.

​"Hehe... enggak Yank, Dirga sadar diri kok, untung dari kecil sama Bunda diajari mengelola keuangan, jadi bisa punya aset-aset passive income untuk menikahi wanita sekelas Ratu Shima," jawabnya.

​"Dieh wait! Itu Ella tahu, dia juga namanya ada Maharaninya ya?" tanyaku yang memang pernah membaca buku seputar sejarah.

​"Gelarnya," ucap Dirga diiringi sebuah senyum lebar.

​"Ini total pajaknya segini, serius? Aset Ayank itu sudah berapa sih?" tanya Dirga terkejut dengan nominal yang tertera di layar.

​"Ya itu ada, ini tuh sama atas nama Regi dan Marvellina juga. Kita pakai notaris dari keluarga Mahandaru juga jadi terpercaya," jawabku.

​"Iya sih ya, memang dari keluarga Mahandaru semua yang mengerjakannya. Mereka juga ada di segala bidang?" Rupanya Dirga menyadari culture keluarga kami.

​"Eum hmm... saling dukung, saling sokong. Kayak kemarin itu Bang Dzul, kakak-kakaknya Angrea kan hankam semua. Mahalini sebagian besar di hankam sama transportasi," aku akhirnya berlanjut topik jadi bercerita tentang keluarga besarku sambil tetap menyelesaikan pengecekan yang sedang kulakukan.

​"Kalian tuh memang keluarga besar ya? Sudah kayak grup. Kalau dari keluarga Maharani itu ilmuwan semua?" tanya Dirga kena poin pentingnya.

​"Enggak! Cuma Maharaninya Ayank, sama Marvellina saja. Ama juga enggak, Ama lebih ke bisnis. Ini semua tuh setengahnya Ama yang bangun. RAGE dirintis turun-temurun oleh keluarga Regi lalu dilanjutkan oleh Grandpere' Danny, lanjut ke Regi, Paman Jean, lalu lanjut Ella dan Ina," jawabku.

​"Owh... baru ngeh Dirga," jawabnya mengangguk-angguk.

​"Iiikhh... enam tahun ke mana saja? Fokusnya sama ukuran B-W-H Ella saja sih ya!" Kucubit pipinya dengan agak ditarik.

​"Eeuuummn... jadi merasa beruntung bisa menikahi Ayank... padahal Dirga bukan terlahir berada tapi bisa dapat istri yang hebat," pujinya membuatku tersipu malu.

​"Duuuh... suka deh jawabannya. Ini jawaban yang Ella tunggu dari seorang cowok yang Ella cintai. Mau tiyum ya," ucapku dengan manja sambil menutup laptop.

​Kami pun berciuman mesra, aku selalu suka ending pillow talk kami ini.

​"Jangan lupa sebulan ini harus diseringin biar bantu jalan baby-nya," ucapku seraya memegangi pipinya.

​"So tonight?" tanyanya dengan juga menaikkan satu alis.

​"Every night," jawabku.

---

​Lalu cerita malam itu berlanjut pada ritual suci kami dalam mempererat kasih sayang ala suami istri.

​"Yank... Yank Dirga, bangun... aduuh... perutku mulas..." kugoyang-goyangkan tubuhnya yang sedang tertidur.

​Seperti yang memang sudah terbiasa sebagai seorang prajurit, ia langsung terbangun dalam mode siaga.

Lihat selengkapnya