Aku sedang mengutak-atik laptopku menyelesaikan tugas yang tinggal sedikit lagi. Dirga tengah menyimpan pistolnya di peti lalu ia simpan di lemari kami. Ia baru saja selesai mandi dari pulang kerja dua jam yang lalu.
"Masih sibuk, Yank?" tanyanya sambil menghamipirku dan melirik pada apa yang sedang kukerjaan.
"Eum ... sedikit lagi sih, mau minta jatah kah?" tanyaku, ya menebak saja.
"Haha ... maksudnya enggak istirahat kah? kehamilan Ayank kan sudah delapan bulanan," jawab Dirga.
"Ouh ... iya tanggung tuh, habis ini selesai. Lagi mengecek laporan perpajakan. Biar besok bisa langsung diselesaikan sama Gege," jawabku.
"Gege tuh kerjanya Gado-gado ya?" tanyanya kala duduk tepat di sebelahku.
Aku menoleh, memandangnya dengan cemberut.
"Dieh kesannya Ella memperbudak orang," ucapku agak protes.
"Haha ... bukan gitu, maksudnya Gege serba bisa," jawab Dirga.
"Memang! setiap Mahandaru itu serba bisa, sudah bakat mereka. Pernah lihat tools hack-tools hack di Le Virale.id? atau konsep distribusi stok juga? itu idenya Gege semua," kubanggakan rekan sedarah jauhku itu.
"Dia digaji atau gimana sih?" tanya Dirga.
"Enggak dong, Ella kasih profit dua cabang Le Viral.id. masa disamakan dengan Irriana dan Maefah?" Kujelaskan pada Dirga tentang upah Gege.
"Wow, berapa tuh sebulannya?" tanya Dirga lalu mengambil posisi duduk di sebelahku.
"Euum ya ... lebih besar dari gaji pokok jabatan seorang kapten dan segala tunjangannya," jawabku sambil tersenyum lebar dengan maksud bercanda menggodanya.
Ia tersenyum masam, mungkin aku memang malah berkesan menyindir ya.
"Dieh maaf enggak ngejek koq, Ella bersyukur," ujarku seraya merangkulkan tangan dan mengecup pipinya.
"Hehe ... enggak Yank, Dirga sadar diri koq, untung dari kecil sama Bunda diajari mengelola keuangan, jadi bisa punya aset-aset passive income untuk menikahi wanita sekelas Ratu Shima," jawabnya.
"Dieh wait! itu Ella tahu, dia juga namanya ada Maharaninya ya?" tanyaku yang memang pernah membaca buku seputar sejarah.
"Gelarnya," ucap Dirga diiringi sebuah senyum lebar.
"Ini total pajaknya segini, serius? Aset Ayank tuh udah berapa sih?" tanya Dirga terkejut dengan nominal yang tertera di layar.
"Ya itu ada, ini tuh sama atas nama Regi dan Marvellina juga. Kita pake notaris dari keluarga Mahandaru juga jadi terpercaya," jawabku.
"Iya sih ya, memang dari keluarga Mahandaru semua yang ngerjainnya. Mereka juga ada di segala bidang?" rupanya Dirga menyadari culture keluarga kami.
"Eum hmm ... saling dukung, saling sokong. Kayak kemarin tuh Bang Dzul, kakak-kakaknya Angrea kan hankam semua. Mahalini sebagian besar di hankam sama transportasi," aku akhirnya berlanjut topik jadi bercerita tentang keluarga besarku sambil tetap menyelesaikan pengecekan yang sedang kulakukan.
"Kalian tuh memang keluarga besar ya? sudah kayak grup. Kalo dari keluarga Maharani tuh ilmuan semua?" tanya Dirga kena poin pentingnya.
"Enggak! cuma Maharaninya Ayank, sama Marvellina aja. Ama juga enggak, Ama lebih ke bisnis. Ini semua tuh setengahnya Ama yang bangun. RAGE dirintis turun temurun oleh keluarga Regi lalu dilanjutkan oleh Grand pere' Danny, lanjut ke Regi, Paman Jean, lalu lanjut Ella dan Ina," jawabku.
"Owh ... baru ngeh Dirga," jawabnya mengangguk-angguk.
"Iiikhh ... enam tahun kemana aja? Fokusnya sama ukuran B-W-H Ella aja sih ya!" Kucubit pipinya dengan agak ditarik.
"Eeuuummn ... jaddgi ngeewrasaa berruntung bbbisaa nnikkkaahin Aayank ... pwwadahwal Dirga bukan terlahir berada tapi bisa dapet istri yang hebat," pujinya membuatku tersipu malu.
"Duuuh ... suka deh jawabannya. Ini jawaban yang Ella tunggu dari seorang cowok yang Ella cintai. Mau tiyum ya," ucapku dengan manja sambil menutup laptop.
Kamipun berciuman mesra, aku selalu suka ending pillow talk kami ini.
"Jangan lupa sebulan ini harus diseringin biar bantu jalan babynya," ucapku seraya memegangi pipinya.
"So tonight?" tanyanya dengan juga menaikan satu alis.
"Every night," jawabku.
Lalu cerita malam itu berlanjut pada ritual suci kami dalam mempererat kasih sayang ala suami istri.
---
"Yank ... Yank Dirga, bangun ... aduuh ... perutku mulas ..." kugoyang-goyangkan tubuhnya yang sedang tertidur.
Seperti yang memang sudah terbiasa sebagai seorang prajurit, ia langsung terbangun dalam mode siaga.
"Kontraksi? sudah mau melahirkan?" masih setengah terbangun kala ia bertanya.