Aku sedang iseng mengisi waktu luang dengan mereparasi drone-drone tipe terbaruku dan menginstal sistem ter-update-nya. Aku ingin drone ini punya banyak tipe, terutama yang memiliki kemampuan pertahanan diri. Terpikir saja, aku sering sendirian di rumah Manoa dan Dirga kadangkala tidak pulang karena tugas. Wajar kan kalau aku punya "security-ku" sendiri selain para satpam rumah.
Laptop rakitan pribadiku sudah sedang menjalankan tugasnya dengan sebuah kabel yang menyambung ke 10 buah drone berwarna hitam. Mahardikaku anteng sekali di rahim, sesekali ia menendang. Nyaman kan rahim bundamu, Sayang?
"Nanti kayaknya mau stealth mode, harus minta bantuan Marvellina," gumamku mengatasi rasa sepiku ini.
Tiba-tiba tendangan Mahardika terasa kencang sekali.
"Aawwww...!!!"
Bagian perutku pun terasa mulas hebat, ada air yang keluar dari vaginaku. Ini jelas bukan air seni, ini ketuban. Ini beneran aku akan melahirkan sepertinya.
"IVO, maternal mode!" ujarku.
IVO: Baik, Nona.
---
(Sekitar satu jam kemudian)
Aku sudah sampai diantar Mbok Rum dan Erik ke Rumah Sakit Siloam. Untunglah aku sudah memasang unit mode maternity pada IVO. Mode ini akan langsung bereaksi dengan melakukan beberapa protokol: menghubungi pos depan memberitahu mereka statusku yang sudah merasakan rangsangan melahirkan, serta menghubungi rumah sakit lengkap dengan memberikan informasi status kondisi tubuhku berdasarkan scan yang dilakukan IVO.
Memanggil pelayan yang ada untuk segera membantuku. Menghubungi Dirga dan Ivory via pesan ke iPhone-nya memberitahu kondisiku dan meng-update perkembangannya. Angrea menunggu di Wisma, ia tidak bisa ikut karena ada Zamaruda.
"Erik stay di depan ya kalau-kalau Dirga datang. Mbok tunggu di ruang tunggu persalinan," ujarku pada keduanya sebelum dibawa ke ruang persalinan.
Aku lupa kalau sistem IVO belum bisa dipakai di rumah sakit. Paling mentok cuma sampai mobilku saja. Artinya informasi terakhir yang Dirga dan Ivory terima cuma "Aku sudah sampai Rumah Sakit Siloam".
Ya sudah, apa yang harus terjadi, terjadilah. Sekarang aku harus fokus pada persalinanku.
"Oke, Bun, sambil diatur ya napasnya. Tarik dari hidung, buangnya dari mulut. Semuanya sudah siap kok," ujar seorang perawat seraya tersenyum menenangkan. Aku didampingi dua orang perawat dan Dokter Her beserta asistennya, Dokter Dian. Kini aku sudah hanya mengenakan atasan renang tanpa bawahan, tentu saja.
Aku dibimbing untuk masuk ke kolam yang dibuat khusus untuk tindakan water birth ini. Kolam karet berwarna hijau muda dengan bantalan yang disesuaikan agar pasien bisa memperoleh posisi yang rileks. Air hangatnya pun pas, membuatku merasa nyaman dan bisa berkonsentrasi penuh pada mengatur napas dan mengejan. That's why I choose VIP class.
"Ini sudah masuk pembukaan delapan ya, sebentar lagi, Bun," ujar Dokter Dian.
"Pelan-pelan saja dulu ya, nanti kalau sudah crowning bisa mulai mengejan," ia membimbing dengan benar-benar telaten.
"Iya, Dok... ini persalinan pertama saya, fuuuh... Dok Her mana? Tadi perasaan ikut masuk?" tanyaku yang kehilangan sosok dokter kepercayaanku itu.
"Dok Her lagi dipanggil buat menangani pasien lain. Kondisi kritis gawat darurat jadi harus diprioritaskan dulu. Tenang saja, Bun, ada saya," ucapnya menenangkan. Terlihat matanya menyipit.
Oh iya, Dokter Dian juga mengenakan swimsuit agar bisa membantu langsung persalinanku.
"Owh gitu ya... bukan lagi ngopi kan Dok Her...? Fuuuuhh," perasaanku memang agak campur aduk.
"Oh... enggak dong, Bun, haha. Tenang saja, mukanya jangan tegang, yang rileks biar makin kelihatan cantik... kan direkam persalinannya," ujar Dokter Dian seraya mengelus perutku, membuat rasa mulasnya semakin terasa.
"Cantik sih sudah nasib saya, Dok. Fuuuuhhh... mulas, Dok..." ujarku berusaha untuk bisa berkonsentrasi penuh.
"Hehe... Bundanya humoris juga, saya cek dulu ya sudah crowning atau belum," ucap Dokter Dian sambil tersenyum.
Inilah enaknya tenaga kesehatan profesional, mereka benar-benar tenang dan bikin perasaan tenang. Mengingat metode ini memang bertujuan meminimalisir anestesi.
"Oke, Bun, sudah crowning nih... yuk bareng-bareng saya bantu... tarik dari hidung, terus dorong baby-nya sambil mengatupkan gigi biar bertenaga... siap, 1... 2... 3... tarik...!" Dokter Dian membimbingku.
Aku melakukan sesuai instruksinya. Oh Dirga, aku harap kamu di sini menemaniku. Tapi objektif saja, saat ini Mahardikaku lebih harus diprioritaskan. Aku adalah calon ibu yang diberikan tugas untuk mengantarkan anakku dengan selamat lahir ke dunia.
Tenang, Nak, bundamu kuat! Aku tidak akan kehabisan stamina melahirkanmu, akan kulahirkan kamu dengan normal dan sempurna.
Tangan kananku sudah sedang meremas genggaman perawat. Dan tangan kiriku meremas bantalan yang ada di kolam, ini toh maksudnya ada bantalan. Dokter Dian mengarahkanku lagi, ia bilang Mahardika sedikit lagi keluar.
"Ayo, Bun, sedikit lagi nih, yuk satu kali lagi bareng-bareng saya bantu," ujarnya. Aku tahu ia sedang tersenyum meski mengenakan masker.
Aku mengangguk. Aku siap, Dok! Amat siap.
Dalam aba-aba 1, 2, 3, aku pun mengerahkan seluruh kekuatanku dan bisa kurasakan otot-otot vaginaku membuka. Hingga akhirnya Mahardikaku lahir, ia perlahan mengambang ke permukaan dengan tali pusarnya yang masih menempel.
Dokter Dian dengan sigap langsung melakukan tindakan medis yang diperlukan pascaterlahirnya janin termasuk memotong tali pusar.
"Dok, plasentanya tolong seperti yang dipesankan," ujarku dengan sisa tenagaku mengingatkan untuk merawat plasenta Mahardika karena akan diolah menjadi obat oleh Bu Arunika.
"Oke siap, Bun, Alhamdulillah sudah lahir," ujar Dokter Dian seraya menyungsang Mahardika sambil menepuk-nepuk punggungnya memancing tangisnya. Dan dalam tiga detik melodi nan indah itu terdengar, begitu merdu di telingaku.