Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #20

Welcome to the world, Dear!

Aku sedang iseng mengisi waktu luang dengan mereparasi drone-drone tipe terbaruku dan menginstal sistem terupdatenya. Aku ingin Drone ini punya banyak tipe terutama yang memiliki kemampuan pertahanan diri. Terpikir saja, aku sering sendirian di rumah Manoa dan Dirga kadangkala tidak pulang karena tugas. Wajar kan kalau aku punya "securityku" sendiri selain para satpam rumah.

Laptop rakitan pribadiku sudah sedang menjalankan tugasnya dengan sebuah kabel yang menyambung ke 10 buah drone berwarna hitam. Mahardikaku anteng sekali di rahim, sesekali ia menendang, nyaman kan rahim bundamu, Sayang?

"Nanti kayaknya mau stealth mode, harus minta bantuan Marvellina," gumamku mengatasi rasa sepiku ini.

Tiba-tiba tendangan Maharadika terasa kencang sekali.

"Aawwww ...!!!"

Bagian perutkupun terasa mulas hebat, ada air yang keluar dari vaginaku. Ini jelas bukan air seni, ini ketuban. Ini beneran aku akan melahirkan sepertinya.

"IVO maternal mode!" ujarku.

IVO : Baik, Nona.

---

(Sekitar satu jam kemudian)

Aku sudah sampai diantar mbok Rum dan Erik ke rumah sakit Siloam. Untunglah aku sudah memasang unit mode maternity pada IVO. Mode ini akan langsung bereaksi dengan melakukan beberapa protokol. Menghubungi pos depan memberitahu mereka statusku yang sudah merasakan rangsangan melahirkan. Menghubungi rumah sakit lengkap dengan memberikan informasi status kondisi tubuhku berdasarkan scan yang dilakukan IVO.

Memanggil pelayan yang ada untuk segera membantuku. Menghubungi Dirga dan Ivory via pesan ke iphonenya memberitahu kondisiku dan mengupdate perkembangannya. Angrea menunggu di Wisma, ia tidak bisa ikut karena ada Zamaruda.

"Erik stay di depan ya, kalau-kalau Dirga datang, Mbok tunggu di ruang tunggu persalinan," ujarku pada keduanya sebelum dibawa ke ruang persalinan.

Aku lupa kalo sistem IVO belum bisa dipakai di rumah sakit. Paling mentok cuma sampai mobilku saja. Artinya informasi terakhir yang Dirga dan Ivory terima cuma 'aku sudah sampai rumah sakit Siloam'.

Ya sudah apa yang harus terjadi terjadi saja, sekarang aku harus fokus pada persalinanku.

"Ok, Bun, sambil diatur ya nafasnya, tarik dari hidung, buangnya dari mulut, semuanya sudah siap koq," ujar seorang perawat seraya tersenyum menenangkan. Aku didampingin dua orang perawat dan Dokter Her beserta asistennya dokter Dian. Kini aku sudah hanya mengenakan atasan renang tanpa bawahan tentu saja.

Aku dibimbing untuk masuk ke kolam yang dibuat khusus untuk tindakan Waterbirth ini. Kolam karet berwarna hijau muda dengan bantalan yang disesuaikan agar pasien bisa memperoleh posisi yang rileks. Air hangatnyapun pas, membuatku merasa nyaman dan bisa berkonsentrasi penuh pada mengatur nafas dan mengejan. That's why I choose VIP class.

"Ini sudah masuk pembukaan 8 ya, bentar lagi, Bun," ujar Dokter Dian.

"Pelan-pelan saja dulu ya, nanti kalo sudah crowning bisa mulai mengejan," ia membimbing dengan benar-benar telaten.

"Iya, Dok ... ini persalinan pertama saya, fuuuh ... Dok Her mana? tadi perasaan ikut masuk?" tanyaku yang kehilangan sosok dokter kepercayaanku itu

"Dok Her lagi dipanggil buat menangani pasien lain, kondisi kritis gawat darurat jadi harus diprioritaskan dulu. Tenang saja, Bun, ada saya," ucapnya menenangkan, terlihat matanya menyipit.

Oh iya dokter Dian juga mengenakan swimsuit agar bisa membantu langsung persalinanku.

"Owh gitu ya ... bukan lagi ngopi kan dok Her ...? fuuuuhh," perasaanku memang agak campur aduk.

"Oh ... enggak dong bun haha, tenang aja, mukanya jangan tegang, yang rileks biar makin kelihatan cantik ... kan direkam persalinannya," ujar dokter Dian seraya mengelus perutku, membuat rasa mulasnya semakin terasa.

"Cantik sih udah nasib saya, Dok fuuuuhhh ... mulas, Dok ..." ujarku berusaha untuk bisa berkonsentrasi penuh.

"Hehe ... Bundanya humoris juga, saya cek dulu ya sudah crowning apa belum," ucap dokter Dian sambil tersenyum.

Inilah enaknya tenaga kesehatan profesional, mereka benar-benar tenang dan bikin perasaan tenang. Mengingat metode ini memang bertujuan meminimalisir anastesi.

"Ok, Bun, udah crowning nih ... yuk bareng-bareng saya bantu ... tarik dari hidung, terus dorong babynya sambil mengatupkan gigi biar bertenaga ... siap 1 ... 2 ... 3 ... tarik ...!" Dokter Dian membimbingku.

Aku melakukan sesuai instruksinya, oh Dirga aku harap kamu disini menemaniku. Tapi objektif saja, saat ini Mahardikaku lebih harus diprioritaskan. Aku adalah calon ibu yang diberikan tugas untuk mengantarkan anakku dengan selamat lahir ke dunia.

Tenang, Nak, bundamu kuat! Aku tidak akan kehabisan stamina melahirkanmu, akan kulahirkan kamu dengan normal dan sempurna.

Tangan kananku sudah sedang meremas genggaman perawat. Dan tangan kiriku meremas bantalan yang ada di kolam, ini toh maksudnya ada bantalan. Dokter Dian mengarahkanku lagi, ia bilang Mahardika sedikit lagi keluar.

"Ayo, Bun, sedikit lagi nih, yuk satu kali lagi bareng-bareng saya bantu," ujarnya, aku tahu ia sedang tersenyum meski mengenakan masker.

Aku mengangguk, aku siap Dok! amat siap.

Dalam aba-aba 1, 2, 3 akupun mengerahkan seluruh kekuatanku dan bisa kurasakan otot-otot vaginaku membuka. Hingga akhirnya Mahardikaku lahir, ia perlahan mengambang kepermukaan dengan tali pusarnya yang masih menempel.

Dokter Dian dengan sigap langsung melakukan tindakan medis yang diperlukan pasca lahirnya janin termasuk memotong tali pusar.

"Dok, plasentanya tolong seperti yang dipesankan," ujarku dengan sisa tenagaku mengingatkan untuk merawat plasenta Mahardika karena akan diolah menjadi obat oleh Bu Arunika.

"Ok siap bun, Alhamdulillah sudah lahir," ujar dokter Dian seraya mensunsang Mahardika sambil menepuk nepuk punggungnya memancing tangisnya. Dan dalam tiga detik melodi nan indah itu terdengar, begitu merdu di telingaku.

"Ooooaaaaaa ... oooaaaaaa ...." tangis malaikat kecilku itu membahana ke seluruh ruangan.

Lihat selengkapnya