Jam 10 pagi aku, Mahardika, Dirga, dan Ivory sudah bisa pulang. Pulang ke Wisma Maharani tentunya. Ivory juga ikut karena memang ia menyanggupi mendampingiku selama tiga hari. Aku suka Ivory pada bagian ini; ia adalah gadis yang berpegang teguh pada komitmen. Semenjak awal bergabung di Pink Velvet, ia memang konsisten dengan karakternya ini. Her Japanese touch dari ibunya memang bagus. She has a samurai's heart herself, loyal and dedicated.
"Kalau Om Dirga capek, Ivory bisa nyetir kok," ujar Ivory.
"Oh... enggak apa-apa, Dirga sudah istirahat tadi," balas Dirga.
"Tapi semalaman Ayank kan terbangun lagi, tidur sebentar terbangun lagi bantuin jaga Mahardika pas Ella tidur K.O.," ujarku yang memang merasa sedikit bersalah karena semalam cuma sanggup terjaga sampai jam satu. Aku agak lelah dan tertidur pulas rupanya. Mana Dirga tidurnya sambil duduk karena sofanya dipakai Ivory.
"Iya, pas Ivory bangun jam empat, Om Dirga sudah lagi ganti popoknya baby," ujar Ivory.
"Ya Dirga kuat kok," jawab Dirga masih bersikukuh.
"Enggak, Dirga istirahat nanti di mobil. Ivory saja yang bawa. Bawa Innova-nya Marvellina kan? Bukan Rover-nya Ella?" ucapku, kupaksakan Dirga untuk beristirahat.
"Iya Dirga bawa Innova, seperti yang Ayank bilang," jawabnya.
"Nah Yank, itu maksudnya biar Ivory bisa bawa juga kalau-kalau Dirga ngantuk. Rover Ella 4WD soalnya," ujarku.
"Hmm... kamu enggak apa-apa?" tanya Dirga sambil menatap Ivory.
"Jangan remehkan jeruk purutnya Velvet!" ujarku.
Ivory tersenyum manis, senyum rapat khasnya sambil tangan kanannya menutupi senyumnya.
Angrea sudah sedang duduk menyambut kami di depan ketika kami memarkirkan mobil.
"Ya kan, Ivory rapi kan parkirnya?" ujarku seraya tersenyum pada Dirga.
"Iya oke, gadis-gadis Velvet memang juara," jawabnya yang juga tersenyum sambil mengangguk-angguk. Dirga menjawab dengan kutipan dari kata-kata yang pernah kuucapkan padanya.
Ivory tersenyum lagi, senyumnya makin manis dengan kacamata imut di wajahnya. Kami berempat lantas bergegas memasuki wisma karena cuaca juga sudah mulai mendung.
"Ayo Ella, kamarnya sudah siap," ujar Angrea.
Mbok Rum dan Dirga membawakan barang-barang kami.
"Kalian sudah pada makan? Rea sudah masakkan lauk dari yang ada di kulkas saja," ujar Angrea.
"Oh... ya ampun, Mah, makasih, jadi Mamah yang repot. Nanti Ella panggil satu pelayan lagi," ucapku padanya.
"Rea nganggur sih di sini, dan pasti pada belum makan siang, kan? Ya sudah gih makan bareng," ujarnya benar-benar beraura keibuan.
"Mamah sih enggak ikut makan bareng?" tanyaku.
"Rea mau gendong Mahardika, sama jagain Zamaruda di kamar," jawabnya seraya tersenyum padaku, senyumnya cantik sekali.
"Makasih Mah, Mamah the best. Ayo Yank, Ivory!" ujarku lalu mengajak suamiku dan juniorku itu untuk bersantap siang.
Angrea rupanya memasak empat menu berbeda, dan semuanya terasa nikmat. Hebat sekali sempat menyiapkan ini semua sambil menjaga bayinya. Selama makan siang sebenarnya aku agak diliputi perasaan khawatir apakah Mahardika anteng atau tidak. Padahal ada di rumah sendiri tapi rasanya kangen kalau tidak melihatnya. Aku pun bergegas menyelesaikan makan siangku dan beranjak ke kamar takut Mahardika menangis kangen bundanya.
Kubuka pintu kamar tamu di mana Angrea beristirahat.
"Ini hidungnya siapa sih? Punya Bunda Ella ya? Pipinya siapa ini, lucu sekali. Mak Andeh cium ya... lucu banget kamunya," rupanya Angrea sudah sedang bercengkerama dengan Mahardika.
Ivory duduk di sebelah ranjang bayi Zamaruda, si baby Zamaruda sendiri sudah sedang tertidur. Aku lupa kalau Angrea sudah lebih dulu punya anak. Ia begitu luwes berinteraksi dengan Mahardika yang tampak bergerak-gerak merespons kata-kata Angrea.
"Duh senang ya sama Ante Rea," ucapku sambil mendekat lalu berbaring di sebelah Mahardika. Kuelus-elus keningnya lalu menciuminya.
"Sebentar lagi harus ganti popoknya, Ella bisa?" tanyanya.
"Bisa dong Mah, ganti saja sekarang enggak apa-apa," ucapku sambil mengambil popok di tas baby Mahardika.
"Sama kapas dan alkohol buat luka. BTW plasentanya sudah disimpan seperti yang Rea pernah bilang?" tanyanya.
"Sudah Mah, Ella simpan di toples terus direndam arak biar awet lalu disimpan di kulkas, seperti yang Mamah bilang saja," jawabku. "Alkohol luka buat apa, Mah? Mahardika enggak luka kan?" aku agak waswas bertanya-tanya.
"Buat bersihin udelnya dong, kan belum copot sisa tali pusatnya," jawab Angrea sambil tersenyum manis.