(Apartemen Marvellina di Paris, Perancis)
Kami berdua, aku dan Altarist, tengah berendam di whirlpool saat aku sedang menelepon Uni.
"Oh eum, can I invite Al?" Aku bersandar membelakanginya sambil menoleh dan kutatap Al, lalu mengelus pipinya.
"And Sabugha too, or maybe all his squad... Dirga calls his friends too... let's make it big celebration!" jawabnya yang begitu antusias.
"Ok, thanks Uni, love you," ujarku senang.
"Je t'aime, Tu me manques Ina," jawabnya.
"Tu me manques, Uni," balasku.
Aku pun mengakhiri panggilan telepon itu.
"So... we go to meet my little nephew, Baby, next month," ucapku padanya sambil menyimpan iPhone-ku di tempatnya.
"Okey, I think I would like to back to Surabaya too," jawab Al sambil menyeruput minumannya.
"Oh, and your squad are invited, Mas Sabugha dan tim horenya," ujarku sambil tersenyum membayangkan para manusia itu berkumpul di satu tempat nantinya.
"Haha... okey, senior Nara memang bikin ramai," jawabnya yang paham maksud perkataanku.
"Mau ajak tim kecilmu juga? Uni sepertinya ingin acaranya jadi benar-benar ramai," ucapku mengingat Al juga punya tim kecilnya sendiri.
"I'm not sure, sudah dua bulan lebih semenjak kami terakhir berkumpul. Nirran dapat tugas jauh, dan Zembada sedang push level, he chases his 60% level," jawab Al yang tidak terlalu kupahami maksudnya.
"I don't really understand and I don't care too! But, if they can be there at celebration, just make it up!" kujawab saja simpel.
"Okey, Baby. I will send them the message. Jadi sekarang kita harus bersiap? Dua jam lagi ada jadwal ke Afrika, bukan?" ujarnya mengingatkanku tentang proyek yang baru akan dibuka.
"Huufft... come on! Just one hour, satu jam lagi saja. Jarang banget aku dan kamu bisa santai berdua. Kita sering berduaan tapi selalu dalam urusan pekerjaan," protesku.
"Ya well, benar sih. Ya mau bagaimana? It's our job," jawabnya. Rupanya ia belum menangkap maksudku.
"Just... one... hour, one hour is our time. And I wanna know how fast you take my bikini off, now?!" ujarku berbalik badan dan merangkulkan tangan ke pundaknya.
"Oh sure, I can do that in two," jawabnya.
Tali bikini bagian atasku sudah lepas saja, cukup membuatku terkejut. Aku tersenyum lebar menatapnya, menantangnya untuk menciumku. Ia pun menyambutnya dengan sebuah ciuman penuh gairah. Love you my boy, my fast Altarist.
---
(D Wisma Maharani, Pasawahan, Cirebon)
"Yuhuuuu Madam, Vero datang nih... mana ponakan Vero tercuintah*?" ujar Vero yang begitu antusias.
Vero, Ican, dan Theo tiba sekitar pukul tiga sore di Wisma. Vero mengenakan gamis slit berwarna brown dengan setelan dalam putih dan hijab berwarna gading. Theo tampak imut mengenakan baju koko berwarna serupa, begitupun Ikhsan yang mengenakan baju koko couple dengan Theo; keduanya mengenakan bawahan ankle pants putih.
"Bawa enggak intip tahu Asjap-nya?" tanya Angrea pada Vero.
"Duh Mamah, tanya kabar Vero dulu kek! Malah tanya intip tahu... bawa kok, bawa, Mah... Vero beli 100 biji sesuai pesanan," ujar Vero sambil cipika-cipiki dengan Angrea.
"Vero bisa ramai begini berarti sehat, tanpa perlu Rea tanya kabar," jawab Angrea.
"Mamah sakit, tah? Kok pakai sweater?" tanya Vero yang heran melihat Angrea yang biasanya modis dan seksi tapi sekarang cuma pakai sweater.
"Kan lagi mau hujan tuh, jaga kondisi saja laaa..." jawab Angrea sambil sekilas melirik pada Daniella.
"Hmm, iya kah, Mamah Rea? Kayak waktu dulu mampir ke rumah Vero gitu maksudnya? But sounds like bull," jawab Vero sambil menyipitkan matanya jadi terlihat seperti cici-cici banget.
Ia lalu cipika-cipiki dengan Daniella dan Vior. Vior sudah datang dari jam satu siang. Theo kemudian menyalami Angrea, Daniella, dan Vior sambil dielus-elus kepalanya. Ikhsan melemparkan salam khas Bali sambil tersenyum ramah pada ketiganya.
"Wah, nih suguhan utamanya sudah lagi dipajang. Unch, Ayi cium ya..." Vero monyong-monyong lalu menciumi Mahardika. Si baby menggeliat imut.
"Lucu... mau gigit..." ucap Vero masih bermain-main dengan Mahardika saat Ican duduk. Theo lalu menempel pada ibunya, agak cemburu rupanya dia.
"Wah, Vero sih, Theo-nya ngambek tuh cemburu..." ucap Daniella.
"Ehh enggak... Mamieh cuma lagi nyapa temannya Theo sama Shifa... ini dedek Mahardika..." Vero dengan lembut memeluk Theo.
"Adiknya Theo mau dinamai Shifa kah, Kak?" tanya Vior yang tertarik dengan ucapan Vero barusan.
"Iya betul! As-Shifa Qibli Qhalissha Wijaya, eps... by the way Vior sudah ngisi? Kok kelihatan cantik ya?" tanya Vero.
"Haha, emang Vior cantik kalee, Kak. Tapi benar juga, Vior sudah dapat dua bulan..." jawab Vior diikuti sebuah senyuman manis di sudut wajahnya.