"Iya ini sudah bagus, nanti Bundo minta Mak Pasha bikinkan jadi obat," ujar Bu Arunika sambil memperhatikan toples berisi rendaman plasenta milik Mahardika.
"Makasih banyak ya Bundo, keluarga Mahalini memang jagonya ramuan sakti," ucapku.
"Sudah kewajiban kami mendampingi keluarga Maharani. Ella sudah menghubungi keluarga di kampuang?" tanya Bu Arunika.
"Sudah Bundo, bulan depan kumpul keluarga disini sekalian kita adakan syukuran kelahiran Mahardika," jawabku dengan ringkas.
"Bundo juga sudah kabari keluarga Mahalini dan Mahandaru, jadi sekalian saja bulan depan bersama kita kumpul," ucap Bu Arunika lalu menyimpan kembali toplesnya ke kulkas.
"Iya Bundo, keluarga Le Blanc' juga akan datang. Ella mau yang rame," jawabku dengan begitu senang.
"Nona Adellina pasti senang, putrinya sudah hidup dengan baik dan berbahagia. Andai beliau disini Ella, sudah pasti ia yang menemanimu merawat Mahardika," ucap Bu Arunika penuh haru, ia memegang bahuku lalu menarikku dalam pelukannya.
"Ella juga berharap begitu Bundo, tapi mungkin Allah mau Ella mengambil hikmah dari semua ini," jawabku yang memang sudah mengikhlaskan kepergian Amaku.
"Iya, Sayang," jawab Bu Arunika ia meneteskan air mata lalu segera menghapusnya.
"Bundo ke depan dulu mau mandiin cucu bundo, mau sekalian Mahardika juga?" tawarnya sambil sempat-sempatnya memainkan pisau dapur dengan jari-jarinya lalu menyarungkan lagi ke tempatnya. Akurasi dan kelincahan jari jemari Bu Arunika hebat sekali.
"Eum ... Ella mau mandiin sendiri, biar Ella bisa," jawabku mantap.
Bu Arunika tersenyum mengangguk, kamipun lalu lanjut beranjak ke kamarku.
---
"Mandiin di beranda timur aja, terus bisa berjemur di halaman gazebo," ujarku.
"Yaudah yuk!" jawab Angrea.
"Vero enggak tunggu aja? Nanti kecapekan malah lahiran kayak Angrea?" tanyaku.
"Enggak gitu dong Madam, Vero ngerekam aja, first time mandiin langsung kan?" ujar Vero sambil mengacungkan sebuah handycam profesional.
"Rekam bisa pake IVO drone koq, Ella udah kembangin yang terbarunya, bisa melayang tanpa baling-baling tahu," jawabku.
"Yaaah human touch lah, ya drone sih ongkoh-ongkoh bae," jawab Vero dengan agak dimedok-medokin.
Kamipun tiba di beranda Gazebo, Bu Arunika sudah mempersiapkan semuanya. Bu Hesty, Yuke, Mahalik, Vior dan Ivorypun sudah stand by.
"Dirga kemana?" tanya Bu Hesty.
"Lagi beli kambing Bun, sekalian kekahan aja hari ini, mumpung ada Bundo Aruni masak-masaknya," jawabku praktis.
"Oohh yaudah, yuk kita mandiin Mahardikanya. Bunda juga mau nih mandiin cucu Bunda yang ganteng," ucap bu Hesty terlihat gemas dengan Mahardika.
Bu Arunika lalu mulai memandikan Zamaruda. Dengan sengaja ia mencontohkan dulu meski bebarengan denganku yang baru pertama memandikan bayi agar aku bisa belajar.
"Usap saja dengan lembut Ella, ingat kulit bayi masih halus jadi harus penuh perasaan cinta. Curahkan perasaanmu sepenuh hati. Ingatlah bahwa anak adalah titipan dari Sang Maha Pengasih," ujar bu Arunika dengan panjang lebar.
Sebenarnya kadang beliau terdengar lebay, tapi ya kata-katanya benar sih.
Aku mengikuti arahan Bu Arunika dibantu Bunda Hesty. Sejauh ini sih lancar saja, meski sejujurnya aku masih agak takut. Mengurusi engine lebih mudah bagiku. Ya mungkin karena aku benar-benar tidak punya pengalaman mengurus anak. Bahkan waktu Marvellina kecil aku ogah menyentuhnya karena saat itu aku memang benci adikku itu, maaf Ina sayang. Semua dilakukan oleh Maripona dan pelayan lain, dan aku lebih memilih bergulat dengan alat-alat di Salle des Machines di basemen wisma. Ketika sadar aku sudah dewasa saja, dan kesepian tanpa teman.
Aku benar-benar bersyukur kini aku dikelilingi orang-orang yang sayang padaku. Mereka benar-benar keluarga yang aku cintai.
"Eeeaaa ... belalainya pada berdiri, haha. Wah Ella deg degan ya?" ucap Vero menggodaku.
Aku menatapnya mengangguk sambil tersenyum malu.
"Pelan aja, nanti juga Ella terbiasa," ucap Bu Hesty menenangkanku.
"Jadi malu Ella sama Bunda, maklum ya, mantunya minim pengalaman sama anak-anak," ujarku seraya menatapnya dengan raut wajah tidak enak hati.
"Bunda juga dulu enggak langsung bisa koq, tapi yang kayak gini tuh enak buat nanti dikenang," jawabnya dengan luar biasa bijak, membuatku bahagia.l mendengarnya.
"Emang Kak Vero langsung bisa?" Ivory bertanya pasti karena penasaran.
Vero mendekat ke Ivory lalu menepuk pundaknya.
"Lahir susah, terus punya empat adik yang umurnya deket-deket tuh ngebuat Vero harus ngurusin mereka juga tahu, I'am a breadwinner pula!" ucap Vero dengan bangga seperti kenyataannya. Ivory memasang wajah 'hmm gitu' sambil mengangguk dan membereskan kacamatanya.
Ya bahkan Vero tuh langsung bisa baby treat ketika Theo lahir. Seperti yang dia bilang, masa kanak-kanaknya Vero itu lumayan sengsara tapi justru membuatnya bisa mandiri. Kalo Angrea sih memang sepertinya bakat alami turunan dari ibunya.
Setelah memandikan Mahardika dan Zamaruda, lanjut menyalini lalu berjemur. Aku dan Angrea duduk bersebelahan di Gazebo. Saat pagi hari di sini memang terpapar sinar matahari. Aku ditemani para Velvet sementara Bu Hesty, Bu Arunika, Mahalik, dan Yuke sarapan duluan.
"Ooaaaa ..." Mahardika menangis.
"Oooaaaaa ..." Zamaruda juga ikutan, kaget mungkin dengan tangisannya Mahardika.