Tentangnya adalah kesempurnaan, tentangnya adalah keindahan, tentangnya adalah hadiah terindah dari Sang Maha Mencintai. I love you, Mon Trésor, I love you the most. Memandangi lekuk wajahnya, tangan dan kaki mungilnya disinari matahari pagi ini adalah sebuah berkah yang tak ternilai, tak sebanding dengan semua harta yang ada di dunia ini. Oh Mahardikaku, Bundamu sayang kamu, Bundamu jatuh cinta padamu.
Kugendong ia di tanganku, tubuh mungilnya begitu hangat, begitu kuat kehidupan di dalamnya. Kugerakkan tubuh menimangnya, karena aku sedang berdansa dengannya. Ia terlelap begitu nyaman, begitu penuh kelembutan. Ma, aku harap kau ada di sini, bersamaku menggendong cucumu ini, mengganggu tidurnya lewat ciuman lembut. Karena aku tahu kau pun akan jatuh cinta padanya sepertiku. Tak ada hal yang lebih indah dari ini, dari si mungil Mahardikaku.
"Morning, Mon Trésor," kusapa ia saat lamat-lamat matanya membuka. Mungkin ia bisa merasakan kalau bundanya kangen tingkah lucunya. Ayo gerakkan tubuhmu, Bunda mau melihat mainan baru Bunda.
Ia menggeliat sambil menguap, uuuuhhh lucu sekali Cintaku ini.
Aku jatuh cinta, aku terlanjur sayang, aku amat terpesona oleh tiap tingkah imutmu. Aku bahkan tidak tahan untuk menciumnya, kudekatkan bibirku pada bibirnya, ciuman pertamamu hanya untuk Bunda, semuanya hanya untuk Bunda.
Mulutnya mengecap-ngecap menjilati bibirku, ia pasti menyangka sedang disusui. Haha maaf sayang Bundamu terlampau gemas melihatmu. Ia mulai menangis, sebal mungkin denganku yang tidak kunjung memberinya ASI dan malah terus bermain dengannya.
"Ooaaa... oaaaaa..." tangisnya begitu kuat, seakan seluruh makhluk di bumi ini bisa mendengarnya.
"Cup cup cup... laper ya Sayang? Hehe Bunda sih lama cium-cium saja, laper Bunda..." aku mengoceh sendiri sekaligus berbicara padanya.
Akupun menyusuinya, kami duduk di salah satu beranda wisma yang menghadap matahari terbit, memastikan malaikat kecilku mendapatkan sinar terbaiknya. Ia dan mulut kecilnya tampak tidak sabar menyusu. Mahardikaku begitu sehat, ia menyusu dengan kuat hingga bisa kurasakan gerakan mulutnya di putingku.
"Uuhh laper ya, yang banyak sayang, buat Dika semua, biar Dika tumbuh sehat, cerdas, kuat," ujarku masih berbicara padanya.
Ia menyusu sambil memejamkan mata, begitu nyaman begitu damai, one more Mon chérie, I love you.
"Everything is ok?" Dirga datang, sepertinya baru selesai mandi dari rutinitas latihan fisik paginya. Hari ini ia dapat jatah libur, bertambah satu kesempurnaan lagi.
"Everything is perfect," jawabku tersenyum seraya menaikkan dagu meminta sebuah ciuman. Dirga memahami itu, ia menciumku mesra lalu mencium Mahardika.
"Lahap banget, sehat ya dia," Dirga mengelus-elus kening Mahardika dengan satu jarinya.
Mahardika menggeliat.
"Iya... 'Ayah Ayah, nenennya enggak boleh dibagi, buat Dika aja' gitu katanya, Yank," ujarku menirukan candaannya Vero.
"Haha iya siap, buat jagoan Ayah semua," sambutnya sambil tersenyum bahagia.
Pagi paling sempurna dalam hidup kami. Ingin rasanya menghentikan waktu, membekukannya agar selamanya selalu seperti ini.
"IVO foto kami," ujarku.
IVO: "Baik, Nona Maharani."
AI-ku itu sekarang sudah sepenuhnya terinstal ke dalam drone terbangku.
"Woow ini udah bisa jawab, udah kayak robot-robot di film Terminator," ujar Dirga masih saja terkejut.
"Haha ini enggak jahat, jahatnya kalau ayahnya telat pulang, makanya enggak boleh lama-lama kerja, udah ada jagoan yang nungguin," ucapku seraya tersenyum pada Dirgaku.
"Haha ok ok Ibu Ratu," balasnya.
Aku suka ia yang semakin luwes, ia yang semakin bahagia, I love you Dirgaku.
Dan IVO pun membingkai pagi kami itu ke dalam kenangan.
---
(Beberapa saat kemudian)
"Persiapannya udah semua?" ujar Daniella pada para pelayan di Wisma Maharani.
"Sudah semua, Non, tinggal menunggu para tamu datang," jawabnya.
"Bagus, pastiin semua sempurna!" Daniella kembali menegaskan dan dijawab anggukan oleh semua pelayan yang kini berjumlah enam orang termasuk Mbok Rum.
"Mau lihat Daniella kalau jadi bos? Noh!" ujar Vero berbisik-bisik pada para Naughty Bunnies.