Hanya berselang setengah jam setelah keluarga besarku bertolak kembali ke kampung halaman, rombongan Sabugha tiba. Ditandai dengan sebuah masuknya D'cab bercorak biru milik Sabugha. Kedatangan mereka ini cukup heboh karena ternyata Unnara menyetir mobil Rally fighter yang pastinya milik Altarist, dan sebuah Lexus LM. Kenapa heboh, karena Rally fighternya menabrak pot bonsai batang putihku di pelataran parkir dan memecahkannya ... untung tanamannya tidak dilindas.
Bukan soal harganya tapi tanaman itu kurawat dari semenjak masih SMP. Kuperoleh sebagai hadiah dari seorang rekan bisnis di RAGE Indonesia. Dari beranda rumah saja sudah bisa kudengar hebohnya percakapan mereka yang keluar dari dalam mobil.
"Eh nyetir yang bener dong senior!" ujar anak cewek cantik yang kalo tidak salah ingat bernama Nirran. Nirran menggoyang-goyangkan pundak Unnara karena kesal.
Altarist menggelengkan kepalanya sambil menunduk karena tidak habis pikir. Ada seorang anak cowok yang keluar dari kursi belakang. Ia mungkin sama berumur sekitar 15-16 tahun dan berambut gondrong. Si anak baru ini hanya tersenyum santai seakan tidak terjadi apa-apa di hadapannya.
"Bego! bego! bego ... senior! rusak tuh tanemannya, tahu ah gantiin sono!" ujar si Nirran yang pasti masih kesal.
"Yeeelah, kan ada Sabugha sama Utami," balas Unnara dengan entengnya.
"Eh opo iki nyebut-nyebut Utami, sopo sing berak sopo sing mberesi?!" ujar seorang anak perempuan lain yang juga baru kulihat.
Ia tampak manis dengan tatanan twin bunsnya. Mengingatkanku pada Ivory saat masih awal Pink Velvet dulu, hanya bedanya anak ini berwajah cantik khas gadis Jawa tulen.
Selain anak cewek bernama Utami tadi, dari Lexus keluarlah Irriana yang tampaknya bertugas menyetir, dan seorang pria seusia dengan Irriana dengan potongan rambut man buns dan gondrong. Ia juga baru kali ini kulihat.
"Untung yo aku ikut sama Irriana, udah feeling Unnara bakal ndak bener ikih nyetirnya," ujar si anak perempuan yang dipanggil Utami.
"Lha emang Utami kan ngekor sama Irriana, ngetek terus!" balas Unnara lalu menjulurkan lidah.
"Tolong yang sopan, ini kita sudah sampai di rumah Nona Maharani. Tolong jaga sikap!" timpal Irriana selalu dengan sikapnya yang elegan.
Dari D'Cab biru ada Sabugha, Phagetta, dan Nindy tentu saja.
"Kamu nabrak lagi ya? Ampuun ... yang ini sih aku enggak mau gantiin Nara, susah," ujar Sabugha yang tahu berharganya bonsaiku itu.
Merekapun berjalan menuju rumah.
"Maaf ya soal Bonsainya, nanti aku ganti," ujar Sabugha kala berjalan paling depan. Aku menyalami dan cipika-cipiki dengan Nindy.
"Aku mau Black Old Pine yang ada di Mansionmu sebagai gantinya ya," ucapku.
Sabugha menaikan alis lalu mengangguk kala menatapku.
"Wah berapa sih Teh harganya? nanti Nara ganti, ada tabungan sih," ujar Unnara. Oh dia ada uang juga.
Aku menaikan tiga jariku ke depan bibir tanpa bicara.
"Waduuh tiga juta, lumayan ... Nara cicil dulu dua juta ya, tabungannya adanya segitu," ucapnya percaya diri.
Aku melipsinc maksud harga bonsaiku 'tiga puluh juta'.
"Haaaah tanamannya segitu ...??? waduh, Sabugha aja yang gantiin!!" Unnara melongo lalu berjalan cepat kabur kedalam rumah diikuti Phagetta setelah keduanya menyalami Dirga.
Dirga tertawa geli. Si gadis Utami dan Nirran serta remaja cowok gondrong yang belum kutahu namanya menyalamiku dan Dirga cium punggung tangan dengan sopan.
"Maaf ya Nona Maharani, datang-datang kami justru bikin masalah," ujar Irriana dibarengi cipika-cipiki denganku.
"Ah enggak apa-apa, aku malah jadi untung dapet bonsainya Sabugha seharga 50 juta. Ngomong-ngomong koq Irriana bareng sama mereka?" tanyaku. Ya aku memang tahu sih Irriana kenal dengan kelompoknya Sabugha tapi enggak nyangka aja.
"Tempat yang tepat di waktu yang tepat, jadi bareng," jawab Irriana sambil tersenyum elegan.
Sejujurnya Irriana memang seorang manager juara paling cantiknya Le Viral.id, kalo boleh narsis bisa dibilang kalau tidak menghitungku, Irriana adalah staff Le Viral.id paling cantik. Wajahnya yang segitiga, berkulit putih cerah khas wanita pasundan dengan rambut hitam legam yang selalu berkilau dan dikepang rapih dan selalu berganti-ganti model membuatnya tampak berkharisma.
"Okey," jawabku yang tidak mau ambil pusing.
"Weei!! ada Argha datang, kemana aja jarang liat?" Dirga tampak akrab.
Siapa lagi ini? Koq ada lagi temen Dirga yang baru aku tahu. Akupun tersenyum menyapanya, yang ia balas salam khas Bali.
"Biasalah Kang, banyak piaraan harus diurus," jawabnya entah maksudnya piaraan tuh apa? cowok nyebut piaraan itu mencurigakan.
"Tadi di depan udah ketemu Badra?" tanya Dirga lagi.
"Iya sudah Kang, lama enggak ketemu ... Kang Badra makin kekar ya?" ujar si Argha ini dengan irama bicara yang santai.
"Haha iya, dia mau naik tingkat katanya," jawab Dirga yang juga akrab.
Mereka pun masuk setelah selesai menyalami kami.
"Hmm ... koq setelah enam tahun, masih ada aja ya temen Ayank yang Ella baru tahu?" tanyaku agak penasaran.
"Maksudnya Arghanezi? Iya Dirga enggak nyangka bakal ada dia. Jarang banget muncul soalnya," jawab Dirga.
Kucium kening Mahardika, lalu menatap mata Dirga.
"Mereka semua orang baik kan? Maradirga Arutala kamu sekarang seorang ayah. Temanmu adalah teman anakmu juga," ujarku kala memandang dalam ke matanya.
"Mereka sembilan terbaik," jawab Dirga tersenyum.
Senyumnya menyiratkan ketulusan dan keyakinan, aku percaya padamu suamiku. Aku hanya merasa harus ikut andil dalam menentukan lingkungan dimana anak kita akan dibesarkan. Karena soal perasaan dan hati, kami para wanita memang terlahir memilikinya.
---