Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #27

Gift From The Great Nine

Hanya berselang setengah jam setelah keluarga besarku bertolak kembali ke kampung halaman, rombongan Sabugha tiba. Ditandai dengan masuknya D-Cab bercorak biru milik Sabugha. Kedatangan mereka ini cukup heboh karena ternyata Unnara menyetir mobil Rally Fighter yang pastinya milik Altarist, dan sebuah Lexus LM. Kenapa heboh, karena Rally Fighter-nya menabrak pot bonsai batang putihku di pelataran parkir dan memecahkannya ... untung tanamannya tidak dilindas.

​Bukan soal harganya, tapi tanaman itu kurawat dari semenjak masih SMP. Kuperoleh sebagai hadiah dari seorang rekan bisnis di RAGE Indonesia. Dari beranda rumah saja sudah bisa kudengar hebohnya percakapan mereka yang keluar dari dalam mobil.

​"Eh, nyetir yang bener dong, Senior!" ujar anak cewek cantik yang kalau tidak salah ingat bernama Nirran. Nirran menggoyang-goyangkan pundak Unnara karena kesal.

​Altarist menggelengkan kepalanya sambil menunduk karena tidak habis pikir. Ada seorang anak cowok yang keluar dari kursi belakang. Ia mungkin berusia sekitar 15–16 tahun dan berambut gondrong. Si anak baru ini hanya tersenyum santai seakan tidak terjadi apa-apa di hadapannya.

​"Bego! Bego! Bego ... Senior! Rusak tuh tanemannya, tahu ah, gantiin sono!" ujar si Nirran yang pasti masih kesal.

​"Yeeelah, kan ada Sabugha sama Utami," balas Unnara dengan entengnya.

​"Eh, opo iki nyebut-nyebut Utami, sopo sing berak sopo sing mberesi?!" ujar seorang anak perempuan lain yang juga baru kulihat.

​Ia tampak manis dengan tatanan twin buns-nya. Mengingatkanku pada Ivory saat masih awal Pink Velvet dulu, hanya bedanya anak ini berwajah cantik khas gadis Jawa tulen.

​Selain anak cewek bernama Utami tadi, dari Lexus keluarlah Irriana yang tampaknya bertugas menyetir, dan seorang pria seusia dengan Irriana dengan potongan rambut man bun dan gondrong. Ia juga baru kali ini kulihat.

​"Untung yo aku ikut sama Irriana, udah feeling Unnara bakal ndak bener ikih nyetirnya," ujar si anak perempuan yang dipanggil Utami.

​"Lha emang Utami kan ngekor sama Irriana, ngetek terus!" balas Unnara lalu menjulurkan lidah.

​"Tolong yang sopan, sekarang kita sudah sampai di rumah Nona Maharani. Tolong jaga sikap!" timpal Irriana selalu dengan sikapnya yang elegan.

​Dari D-Cab biru ada Sabugha, Phagetta, dan Nindy tentu saja.

​"Kamu nabrak lagi ya? Ampuun ... yang ini sih aku enggak mau gantiin, Nara, susah," ujar Sabugha yang tahu berharganya bonsaiku itu.

​Mereka pun berjalan menuju rumah.

​"Maaf ya soal bonsainya, nanti aku ganti," ujar Sabugha kala berjalan paling depan. Aku menyalami dan cipika-cipiki dengan Nindy.

​"Aku mau Black Old Pine yang ada di mansion-mu sebagai gantinya ya," ucapku.

​Sabugha menaikkan alis lalu mengangguk kala menatapku.

​"Wah, berapa sih, Teh, harganya? Nanti Nara ganti, ada tabungan sih," ujar Unnara. Oh, dia ada uang juga.

​Aku menaikkan tiga jariku ke depan bibir tanpa bicara.

​"Waduuh, tiga juta, lumayan ... Nara cicil dulu dua juta ya, tabungannya adanya segitu," ucapnya percaya diri.

​Aku melakukan lip-sync maksud harga bonsaiku, 'tiga puluh juta'.

​"Haaaah, tanamannya segitu ...??? Waduh, Sabugha aja yang gantiin!!" Unnara melongo lalu berjalan cepat kabur ke dalam rumah diikuti Phagetta setelah keduanya menyalami Dirga.

​Dirga tertawa geli. Si gadis Utami dan Nirran serta remaja cowok gondrong yang belum kutahu namanya menyalamiku dan Dirga, mencium punggung tangan dengan sopan.

​"Maaf ya, Nona Maharani, datang-datang kami justru bikin masalah," ujar Irriana dibarengi cipika-cipiki denganku.

​"Ah, enggak apa-apa, aku malah jadi untung dapat bonsainya Sabugha seharga 50 juta. Ngomong-ngomong kok Irriana bareng sama mereka?" tanyaku. Ya, aku memang tahu sih Irriana kenal dengan kelompoknya Sabugha, tapi enggak menyangka saja.

​"Tempat yang tepat di waktu yang tepat, jadi bareng," jawab Irriana sambil tersenyum elegan.

​Sejujurnya Irriana memang seorang manajer juara paling cantiknya Le Viral.id. Kalau boleh narsis, bisa dibilang kalau tidak menghitungku, Irriana adalah staf Le Viral.id paling cantik. Wajahnya yang segitiga, berkulit putih cerah khas wanita Pasundan dengan rambut hitam legam yang selalu berkilau dan dikepang rapi serta selalu berganti-ganti model membuatnya tampak berkharisma.

​"Oke," jawabku yang tidak mau ambil pusing.

​"Weei!! Ada Argha datang. Kemana aja, jarang lihat?" Dirga tampak akrab.

​Siapa lagi ini? Kok ada lagi teman Dirga yang baru aku tahu. Aku pun tersenyum menyapanya, yang ia balas dengan salam khas Bali.

​"Biasalah, Kang, banyak piaraan harus diurus," jawabnya. Entah maksudnya piaraan tuh apa? Cowok menyebut piaraan itu mencurigakan.

​"Tadi di depan udah ketemu Badra?" tanya Dirga lagi.

​"Iya sudah, Kang. Lama enggak ketemu ... Kang Badra makin kekar ya?" ujar si Argha ini dengan irama bicara yang santai.

​"Haha, iya, dia mau naik tingkat katanya," jawab Dirga yang juga akrab.

​Mereka pun masuk setelah selesai menyalami kami.

​"Hmm ... kok setelah enam tahun, masih ada aja ya teman Ayang yang Ella baru tahu?" tanyaku agak penasaran.

​"Maksudnya Arghanezi? Iya, Dirga enggak nyangka bakal ada dia. Jarang banget muncul soalnya," jawab Dirga.

​Kucium kening Mahardika, lalu menatap mata Dirga.

​"Mereka semua orang baik, kan? Maradirga Arutala, kamu sekarang seorang ayah. Temanmu adalah teman anakmu juga," ujarku kala memandangkan pandangan dalam ke matanya.

​"Mereka sembilan terbaik," jawab Dirga tersenyum.

​Senyumnya menyiratkan ketulusan dan keyakinan, aku percaya padamu suamiku. Aku hanya merasa harus ikut andil dalam menentukan lingkungan di mana anak kita akan dibesarkan. Karena soal perasaan dan hati, kami para wanita memang terlahir memilikinya.

Lihat selengkapnya