Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #29

Gifted Moment With The Nine

Aku bersama Dirga dan grupnya Sabugha termasuk Irriana dan Nindy sedang mengobrol santai sambil tur keliling rumahku. Yang mengidekannya Vero sebenarnya cuma karena kelelahan, Vero, Ikhsan, dan Theo beristirahat di salah satu kamar tamu. Marvellina sedang bersama para Hyper di Gazebo. Altarist kupaksa untuk ikut tur tanpa kehadiran Marvellina.

"Ya jadi memang konsepnya mau yang luas dan naturalis," ucapku tentang Wisma Maharani ini.

Dari awal tur, entah kenapa si Utami selalu bergidik dan celinguk sana celinguk sini. Ia acapkali menatap ke tempat kosong, pohon, atau langit.

"Kamu kenapa sih dari tadi celingukan terus?" tanyaku karena penasaran dengan tingkahnya tersebut.

Si Utami kaget ditanya olehku, mungkin karena memang kami baru kenal hari ini.

"Ini dulunya bekas lokasi perang jaman penjajahan nih Mbak'e," ujarnya yang menyebutku Mbak. Memang aku kelihatan kayak Londo Jawa ya di matanya.

Ah ya, pencinta hal mistis rupanya, mana nih Marvellina? Dia paling hobi mendebat yang seperti ini.

"Oh gitu ya, memang ada arwah penasaran? Kadang saya suka denger suara-suara gitu kalo tengah malem, tapi udah biasa," ujarku sekaligus menceritakan beberapa hal yang memang pernah kualami dan terdefinisi sebagai pengalaman mistis.

"Arwah? Yo bukan toh, Junna aja sama residu energi, Mbak'e," jawabnya santai saja. Oh dia malah menjelaskan dengan istilah ilmiah dan Junna itu mungkin maksudnya jin.

"Utami tuh bulu kuduknya gondrong jadi suka merindingan," celoteh Unnara sambil cengar-cengir.

"Hoho gitu, kamu perhatian ya?" jawabku yang terpancing menggoda keduanya. Nih Unnara kayaknya suka berhumor ria dengan yang lebih muda.

"Ya dong!" jawab Unnara entah kenapa malah bergoyang pinggul dengan senang.

"Tapi di sini tuh masih banyak hewan liar kalo diluar pagar," ucapku menceritakan lagi tentang rumah ini.

"Iya, Argha juga bisa cium dari baunya. Ada hewan langka juga nih," tiba-tiba si Argha bicara.

"Dari bau? Iya kah? Apa aja?" tanyaku antara percaya dan tidak percaya. Penciuman manusia tidak mungkin setajam itu.

"Wah banyak kalo disebutkan satu persatu, piton juga ada, terus Ajag nih yang agak jarang," jawabnya.

Nama hewan apa itu, baru dengar. Yaah mungkin si Argha ini pecinta hewan-hewan dan dia sempat melihat beberapa hewan liar saat menuju ke sini. Aku mengangguk-angguk saja mengiyakan.

"Itu bisa masuk ke dalem enggak Kang hewannya?" tanyaku memanggilnya 'Kang' mengikuti cara Dirga memanggil.

"Hmm ya beberapanya bisa ... gampang nanti bisa diminta untuk jangan berani masuk," ucapnya entah maksudnya apa, mungkin ia semacam pawang ular kaleee ya.

"Ana, mau tanya dong! Ella tuh penasaran sama satu hal," ujarku pada Irriana.

"Boleh Nona, apa yang Nona mau tanyakan?" jawabnya dengan super elegan.

"Eum ... dari awal ketemu Irriana di Interview Le Viral.id sampai sekarang, sekalipun Ella tuh enggak pernah liat rambut Irriana digerai dan selalu dikepang? Emang suka banget kepang kah?" tanyaku sambil melihat ke tatanan rambut crown braidnya.

"Wah kalo kepangnya dilepas bisa jadi mobat-mabit menggila Irriana!" ujar Unnara malah dia yang jawab dengan jawaban ngawur pula.

"Oh haha gitu ya?" Aku berusaha sopan untuk tidak terlalu menanggapinya.

Irriana lalu mendekati Unnara dan memencet bisep kirinya membuat Unnara tobat-tobat minta dilepas kelojotan.

"Aaawwaaww ... Teh sakit!! aduduuuh ..." Unnara mengaduh-aduh.

"Dulu ambu selalu mengepang rambut Ana, Nona! makanya Ana suka banget dengan model rambut kepang ini," jawabnya tetap dengan tenang dan elegan.

"Setuju! apa yang dari ibu kita itu yang terbaik," jawabku tidak bisa menyangkal.

Akupun amat menghargai hal-hal yang menjadi warisan Amaku. Dalam hal ini kepangnya Irriana mungkin adalah warisan berharga dari ibunya.

"Teteh tuh ahli mesin ya, mirip Kang Sabugha?" tanya Nirran.

"Eum hmm ... lebih genius Sabugha dong," jawabku menurut pendapatku.

"Beda sedikit," Sabugha menyambung, dia tidak menyangkalnya rupanya tapi sok-sokan merendah.

"Soalnya ini banyak benda berteknologi yang mirip sama punya Kang Sabugha," ujarnya menyadari beberapa hal yang serupa.

"Ya, Sabugha teman yang menginspirasi," jawabku sambil tersenyum lebar dan melemparkan pandangan pada Sabugha.

Sabugha hanya tersenyum kecil sambil mengangkat alis.

"Disini enak ya, agak mirip di Morrabon," celetuk Nindy yang sendari tadi menggandeng Sabugha sambil menikmati pemandangan kebun-kebun di dalam rumahku.

"Oh gitu ... bagian mananya yang mirip?" tanyaku menimpali ujarannya tersebut.

"Hutan dan udaranya, di Morrabon bersih sekali ... aku kaget waktu pertama kesini, planet ini banyak tempat berpolusi," ujar Nindy yang rupanya keanehannya masih melekat.

"Haha iya ya ... nanti minta Al bikin oasis di Mars, biar nanti pindah kesana aja," ucapku tersenyum geli.

"Ok siap, Uni," balas Al sambil tersenyum geli juga. Baru sadar ya kalo istrinya Sabugha aneh.

"Phagetta masih sering ketemu Kang Aji? Dirga lama enggak liat-liat," kali ini Dirga yang melempar pertanyaan.

Phagetta mengangguk.

Lihat selengkapnya