Sebagai dua sejoli dan pasangan suami istri, kebutuhan batin adalah hal yang wajib diberikan secara rutin. Ada filosofi tersendiri dari beberapa buku yang kubaca seputar hubungan pria dan wanita ini.
Beberapa di antaranya membahas secara teknis seperti dalam Kamasutra, di mana hal tersebut dipandang sebagai sebuah seni membahagiakan pasangan. Seks dipandang sebagai sebuah ritual sakral yang menyatukan hasrat dua insan dan diwujudkan dalam posisi-posisi tertentu yang memberikan garansi dalam mencapai kepuasan maksimal.
Bagi kami, kami memiliki cara kami sendiri, posisi favorit kami sendiri yang kami bentuk seiring waktu. Hal yang pada prinsipnya adalah kesepakatan tanpa kata tentang bagaimana aku ingin berada dan bagaimana Dirga ingin menyambutnya, begitupun sebaliknya.
Dua buku lain bicara soal filosofi yang terkandung di dalamnya. Menempatkan seks sebagai sebuah penemuan hati, bagai sebuah fenomena yang memiliki nilai estetik. Cukup masuk akal mengingat hanya manusia yang menghias caranya bereproduksi, suatu hal yang tidak ditemukan pada semua hewan maupun tumbuhan.
Buku pertama tentang filosofi seks bicara soal ritual "tidak sengaja" yang diciptakan manusia. Hal yang menurut buku tersebut bersumber dari percikan alam bawah sadar untuk mencapai tingkatan estetika yang lebih berkembang. Sebuah proses alamiah sekaligus revolusioner dari jiwa yang ada di dalamnya. Buku ini lebih berfokus pada filosofi secara personal individu yang ditampilkan dengan eksklusif.
Buku kedua bicara lain, menempatkan seks sebagai bentuk aktualisasi diri pada pasangan. Sebuah kesepakatan tak tertulis tentang kepercayaan, kepasrahan, dan penerimaan. Dalam buku ini, seks dipandang sebagai sebuah jalinan komitmen yang secara sadar dilakukan oleh dua pihak, minimalnya untuk tujuan kepuasan diri. Aku cukup suka anggapan ini karena menempatkan seks sebagai suatu hal yang ada dan sempurna hanya oleh dua orang yang saling mencintai.
Aku dan Dirga memiliki filosofi kami sendiri dalam hal ini. Kami memang memandang seks sebagai alat tukar. Kami menukar hati kami dengan kepercayaan, kepedulian, penyerahan diri sepenuhnya akan apa yang disebut masa depan. Ini adalah sebuah pertukaran energi batin antara aku dan Dirga. Hal yang secara jelas memberi pengaruh pada kehidupan kami; masuknya jiwaku dalam jiwanya, begitupun sebaliknya. Faktanya, aku setelah menikah dengannya adalah sosok baru. Masih Daniella Maharani Le Blanc', namun dengan sendi-sendi yang terisi oleh laku lembutnya, penghargaannya, penghormatannya, bahkan semangat nasionalisme miliknya. Itulah mungkin kenapa seorang wanita akan menyematkan nama belakang suaminya pada dirinya setelah menikah. Atau pada kasusku yang matrilineal, maka nama Maharani yang akan tersematkan pada Dirga. Karena ya sedikit banyak, Dirga jadi memiliki sifat-sifat bawaanku, contohnya dia sekarang agak doyan barang mewah, hehe.
Tiga buku lain juga menyertakan pengalaman-pengalaman hubungan dua pasangan, bahkan ada yang lebih dari banyak orang dari berbagai belahan dunia. Cerita-cerita yang lebih seperti kisah cinta dengan fokus utama pada pengalaman penuturnya. Mulai dari yang stabil, tragis, mindblowing, hingga mistis. Ternyata memang ada banyak orang yang mengaitkan pengalaman seksualnya dengan fenomena supranatural. Seperti seseorang dari Kosta Rika yang merasa "terkutuk" setelah menjalin hubungan dengan seorang wanita dari pedesaan Meksiko. Ia merasa setelah melakukan hubungan badan dengan si wanita—yang kemudian menghilang tiga bulan kemudian tanpa kejelasan—ia merasa banyak masalah yang menghampirinya. Dipecat dari kantornya, bertengkar dengan tetangganya, hingga kecelakaan mobil yang ia alami. Sayangnya, penyelidikannya pada si wanita berakhir buntu karena memang informasi tentang si wanita yang hanya ia kenal dua bulan ketika bekerja di pedalaman Meksiko seakan raib. Namun, hal ini mungkin bila mau membuat sebuah hipotesis yang berani, adalah semacam social contagion dari satu individu pada individu lain saat ada interaksi yang tergolong intim. Hmm, kamu merasa tertular beruntung kan, Yank, menikahi Ella?!
Lepas dari banyaknya teori yang dipaparkan dalam buku-buku tersebut, hal yang menurutku unik sekaligus agak sedikit menjurus pada gegar habit dari kehidupan seksual kami adalah karena kehadiran Mahardika. Secara harfiah, putra tampan kami itu menjadi orang ketiga di antara aku dan Dirga. Mahardika akan meminta perhatian sebesar mungkin pada kami. Si ganteng itu akan menyedot energi kami saat kami berada di dekatnya, tidak peduli seberapa inginnya aku maupun Dirga bermesraan, haha.
Dirga yang sering jadi korban, karena seperti yang sudah terbukti secara ilmiah, bahwa pria lebih butuh hal ini secara rutin daripada wanita. Sedangkan aku sebagai wanita, aku perlu dibuat nyaman. Me time, mengemil camilan favorit, melakukan hal favorit seperti berendam lama di bathtub seraya mendengarkan lagu-lagu kesukaanku dengan segelas wine di tanganku. Hal yang jelas butuh suasana yang khusus dan tidak bisa "ujug-ujug". Meski bisa-bisa saja dibuat terburu-buru, tapi hasilnya akan berbeda. Dan lucunya, distraksi-distraksi yang dibuat Mahardika cukup intens hingga sering kali memutus momen yang sedang dibangun. Ya bagaimana lagi?! Aku akan langsung memprioritaskan Mahardika saat dia menangis dan minta diperhatikan hingga berjam-jam. Seperti saat sebelum tidur yang mengharuskan jariku hadir di genggamannya untuk sekadar ia mainkan.
Walaupun tidak mudah, tapi tiap kesempatan yang bisa kami dapatkan akan kami eksekusi dengan sigap. Aku tidak mau suamiku merasa kekurangan, apalagi sampai menjurus pada hal yang tidak diinginkan. Aku akan selalu berperan aktif untuk memenuhi kewajibanku sebagai tulang rusuknya.
"Love you, Daniella," ujarnya setelah dengan lembut mengecup bibirku.
"Love you too, Yank," jawabku.
Ia lalu berbaring di sebelahku setelah kami melakukan hubungan badan secara kilat. Melihat ada kesempatan yang syaratnya semudah aku mandi air hangat lalu langsung menenggelamkan diri ke dalam pelukannya. Kenapa harus kilat? Karena Mahardika sedang cukup terlelap, namun itu tidak menjamin ia akan terus terlelap tanpa meminta sesuatu.
Dan seperti yang sudah diprediksi, Mahardika terbangun. Untung aku menyadarinya dulu.
"Oooaaaaaa ..." tangisnya memenuhi kamar kami.
Kulihat apakah ia lapar atau minta diganti popoknya. Karena aku tidak akan menggendongnya kecuali kalau ia lapar dan minta disusui. Ya, pola asuhku saja sih.
Dirga terbangun setelah sempat tertidur karena kehabisan tenaga, haha. Ia menghampiriku untuk memastikan apakah aku perlu bantuan. Kuperhatikan Mahardika, kuperiksa kondisinya. Pria kecilku kemungkinan lapar, kuangkat dan kususui. Ia kini sudah tenang dan kembali terlelap.
"Tidur lagi aja, udah anteng kok ini," ujarku pada pria yang amat kucintai itu.
"Dia keganggu ya?" tanya Dirga seraya mengelus kening Mahardika.
"Lapar, tapi hampir aja, hehe," jawabku.
"Yaudah Dirga bobo lagi ya, enggak apa-apa?" Ia lalu berjalan ke kasur, mengambil piyama lingerie-ku dan membantuku memainkannya dahulu. Ia sungguh perhatian, aku kira ia akan langsung tidur. Dan setelah dirasa cukup, ia membenamkan rasa kantuknya ke ranjang.
---