Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #33

Smile That I Wait

Kupandangi ia, tersenyum melihatnya yang semakin piawai bercengkrama dengan anak kami. Ia memang wanita yang luar biasa. Hanya tiga bulan saja dari seorang putri keluarga kaya raya yang minim pengetahuan mengurus anak, menjadi seorang ibu yang hebat. Di awal-awal memang sulit, baik bagiku dan baginya. Meskipun begitu, ia selalu penuh semangat belajar dan pantang menyerah. Hal yang memang kulihat pada garis keluarganya, khususnya para perantauannya.

Daniella pernah bilang, 'being parent is learning days by days ternyata!' aku masih ingat ucapannya. Kami cukup beruntung punya banyak orang-orang terbaik yang mendampingi kami. Aku benar-benar beruntung memilikinya sebagai sosok pendamping yang sempurna.

"Hahaa ... eeeaaa hahahaha!!!"

Terdengar suara tawa dari Mahardika, tawa pertamanya.

"Yank, sini Yank! hahaha Dika ketawa ..." ujarnya begitu senang dan antusias.

"Yaaa waaaa ..." Daniella menggelitiki perut Mahardika. Masih tenggelam dalam canda tawa dengan pria kecil kami.

"Yaaaa hahahaha ahahha ... eeaaaa," Mahardika tertawa lagi, dibarengi dengan gerak jenaka kedua kaki dan tangannya.

"Hahahaha lucu, Yank ... Ella suka," senyumnya begitu tulus.

"Eeaaa Bunda gelitik lagi nih ..." ia tampak begitu bahagia dengan mainan kecilnya.

"Hahahauahaa yaaaa eaaaa hahaha," Mahardika juga senang dengan cara Bundanya menghiburnya.

"Wah seneng ya dia, seneng Bundanya cantik sih," ujarku sembari merangkulnya sambil memegang tangan Mahardika. Tangan imutnya menggenggam jempolku.

"Iyaaaa ... ini pacarnya Bunda, gelitik lagi nih ..." ucap Daniella begitu menikmati momen ini.

"Haayayaaa hahhaa eaaa," Mahardika selalu menyambut dengan tawa yang lepas. Aku bahkan bisa melihat barisan gusinya yang mungil.

"Dirga rekam, Yank," aku mengeluarkan iphoneku.

"Udah daritadi dong, enggak sadar ya?" Daniella menatapku sambil tersenyum manis.

"Hmm ... pakai IVO?" kuberikan tebakan terbaikku.

"Iya kan di kamer kita dipasang kamera, tiap kegiatan kita direkam sama IVO," jawabnya lalu mengangkat Mahardika dan menciuminya.

"Hooo ... praktis ya enggak perlu ngeluarin HP," balasku yang masih saja terkagum dengan hal-hal semacam ini.

"Iya dong, lagi happy mainan sama bayi demi bisa ngerekam harus ngeluarin handphone, kan momennya terjeda. Enak gini dapet semua," jawab Daniella dengan raut wajah bangga yang cukup jelas.

Ah iya juga, ini toh keunggulan dari priviledge 'punya segalanya', memang jadi lebih puas.

Dipikir-pikir memang aku tidak pernah bermimpi memperistri wanita semengagumkan dirinya. Sisi dirinya yang ini, sebagai seorang ilmuan adalah hal yang ... apa ya ... kalau dilihat dari lingkaran pertemananku saja sepertinya hanya aku yang istrinya seorang ilmuan hebat. Berada di rumah Wisma Maharani ini seperti berada di sebuah rumah masa depan dengan segala fasilitasnya. Bayangkan saja, oven bisa ngajak ngomong! Drone-drone yang kadang-kadang menghampiri kalau lagi ada tamu di pintu depan. Benda-benda di rumah ini menarik karena Daniella berinovasi secara bebas. Jika kamu mau benerin atap, pasti dengan cara naik tangga satu persatu, disini enggak, ada sebuah pad bertenaga baterai selebar 1x0,5 meter yang bisa melayang dan mengangkat kita hingga setinggi tujuh meter pakai sistem tolakan medan magnet. Kata Daniella sih itu prototype lift buatannya, nantinya lift tidak butuh hidrolik lagi. Ya kan woow banget dia.

Kedua mobil miliknya dan Marvellina juga sudah di modifikasi. Berbahan bakar listrik dengan batre yang tahan satu minggu, dan hanya perlu dicharge selama tiga jam agar penuh. Anti peluru jelas, sampai ke bannya juga, dan terkoneksi ke IVO yang artinya mobil tersebut punya 'pikirannya' sendiri.

Kenapa aku bilang punya pikirannya sendiri. Pertama mobilnya Daniella akan laporan kalau misal ban kurang presisi, bagian tertentu terlalu panas, kompresi berkurang, ya ... hal semacam itulah. Tapi membawa mobil ini ke kedua usaha bengkelku bisa jadi promosi bagus. Dan sudah pernah dapat orderan dari beberapa konsumen kelas hiu. Lumayan lah untuk mengimbangi gaya hidupku sekarang yang harus menyesuaikan dengan ibu negara.

Nah soal gaya hidup nih, seperti yang sudah pernah kubilang, aku menyesuaikan. Daniella tidak bisa tidak untuk kualitas. Dia punya standarnya sendiri dalam sandang, pangan, papan, lahan, hiburan. Memang sih she make money much more than she spend. Aku ya ikut pansos, sepertinya ini yang bundaku harapkan dari pernikahan kami. Kuakui arahnya benar-benar mutual, dua tahun saja pasca menikah aku sudah bisa membuka sebuah cabang baru bengkelku yang bahkan lebih besar dari yang pertama dan kini berencana buka yang ketiga di Bandung. Tentunya menjadi berkah tersendiri dan income yang bahkan lebih besar dari gajiku sebagai aparat haha.

Dan Daniella sendiri tampaknya menikmati manfaat dari pangkatku. Menjadi istri seorang perwira, dengan dia yang bisa 'memanfaatkan' itu dengan baik dalam ranah bisnis, membuatnya semakin disegani, Haha lagi.

Apa ya, peningkatan taraf hidup yang kualami ini sejujurnya agak membuatku kaget. Ia dan semua lika-liku serta standarnya yang kadang harus kuikuti dengan 'berlari'. Kata Daniella, jangan mengorbankan kebahagiaan dan kualitas hanya karena itu mahal. Ya, Neng! kamu sih belum pernah kan masa kecilnya merasakan tinggal di kontrakan yang atapnya bocor terus makan sebungkus nasi goreng seharga Rp 12.000 yang harus dibagi tiga sama bunda dan kakakmu.

Tapi aku kadang merasa kasihan padanya. Kenapa? yang orang-orang tahu Daniella itu bermewah-mewah, hidup berkecukupan, dan sebagainya. Yang orang tidak tahu adalah, istriku itu terkadang harus berjam-jam mengecek laporan usahanya, menatap layar laptopnya untuk meeting dengan tim yang kadang dilakukan tengah malam karena perbedaan waktu antar negara. Daniella juga beberapa kali kelelahan hingga harus menginap di rumah sakit atau memanggil dokter ke rumah. Itupun terkadang masih meladeni bisnisnya meski tubuhnya terbaring di ranjang perawatan. Ia bahkan pernah sekali pingsan saat kugandeng.

Lihat selengkapnya