Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #34

The Divine Matrix

Kututup buku yang sedang kubaca di perpustakaan wisma Maharani ketika Dirga masuk. Ia tampak gagah dengan setelan semi formalnya, lengkap dengan jam tangan favoritnya yang kuberikan sebagai hadiah ulang tahun.

"Yuk, Dirga udah siap, langsung berangkat kan?" ujarnya sambil mengecek ulang kancing lengannya.

"Eum hmm ... koper sudah?" tanyaku sembari berjalan ke tangga rak buku, menaiki portable elevator lalu menyimpan buku yang tadi kubaca ke tempatnya di row urutan ke 17.

"Beres dong, ini tuh ada berapa Yank total semuanya?" tanya Dirga perihal jumlah koleksi buku-buku pribadiku.

"3.789 judul buku, dengan jumlah total 3.984 buku, Yank. Ayank coba cek bener enggak, pakai IVO," jawabku.

"IVO berapa jumlah buku di perpustakaan ini?" ucap Dirga.

IVO : 3.789 judul, total buku 3.984, Tuan.

Dirga bersiul panjang tanda kagum.

"Wow akurat ya, sama persis," ujar Dirga seraya menatapku.

"Ya dong, istrinya siapa ini tuh?" tanyaku sambil menggendong Mahardika dengan baby carrier.

"Istrinya Dirga, Bundanya Mahardika," jawabnya sambil mengecup keningku ketika aku mendekat.

"Yuk, we go to kota Kembang!" ujarku bersemangat.

---

"Yank, nanti mampir ke Ranca Upas dulu ya!" ujarku sambil bercengkrama dengan malaikat kecilku.

"Ooaaa hahahha," tawa Mahardika.

"Oh boleh, mau kemana?" tanya balik Dirga.

"Rumahnya Irriana, dia mau ngasih hadiah buat kelahiran Mahardika. Tapi hari ini dia enggak masuk kerja, libur, Ella mau cepet aja nerima hadiahnya," jawabku.

"Oh boleh, Irriana tuh jabatannya Manager Le Viral.id Braga ya?" tanya Dirga sambil menyalakan lampu sign kiri.

"Tepatnya Manager wilayah Kota Bandung, cuma kan headquarter Bandung di Braga, kalo Cirebonnya di Plered. Yang Jateng di Malioboro. Jatim di Surabaya," jawabku sekalian menjelaskan dengan detail.

Dirga mengangguk-angguk sambil meruncingkan bibir, mengambil uang dari tissue box yang isinya uang 2000an. Lalu membuka jendela sedikit untuk memberikan uang tersebut pada pak ogah yang membantu kami membersihkan jalur lintas.

"Yank, tahu enggak, waktu dines ke markas bawa mobil ini tuh, Satya salah paham tau soal tissue box ini," ujar Dirga mengobrol santai membunuh waktu.

"Eeum ... kayaknya Ella bisa nebak tapi apa sok ceritain aja," jawabku kala mengambil mainan pengasah gigi untuk digigit Mahardika.

"Iya ... jadi waktu itu pulang sambil nganter dia pulang juga. Terus Satya liat ini kan, tissu box yang diisi uang 2000an. Dia nanya 'Nan, ini tuh mobilnya Nyonyah ya?', Dirga angguk kan, terus tanya balik 'kenapa emang?', 'kalo orang kaya raya tuh ngelap ingusnya pake uang ya?' gitu, Yank," ujar Dirga melengkapi ceritanya.

"Haha ... udah Ella duga, tapi tetep lucu, masa enggak kepikiran kalo ini tuh buat bayar pak ogah. Maksud Ella biar praktis aja hahaha!!" aku tertawa mendengarnya.

"Emang lucu ya?" tanya Dirga.

"Iya lah! salah sangkanya tuh lucu," ucapku berusaha sambil berusaha meredakan tawaku.

"Ya namanya juga rakyat jelata, sensitif soal uang," ujar Dirga sambil tetap memandang ke depan.

"Haha kaget mungkin ya mikir 'saya sih nyarinya susah, ini malah buat ngelap ingus' gitu?" aku malah tertawa lagi.

"Eum iya sih, untung dulu Dirga enggak nanya ke Ayank," ucapnya.

"Eh nanya apa?" aku seperti tersadar akan sesuatu.

"Soalnya waktu pertama liat juga Dirga mikirnya gitu, 2000 tuh uang sakunya Dirga buat seharian waktu SD," ucapnya tersenyum, mungkin mengenang masa lalu.

"Dieh ... maaf Ayank, Ella jadi ngerasa bersalah udah tertawa," ujarku yang mendadak merasa tidak enak hati. Raut wajahku berubah murung karena merasa sudah melukai perasaan Dirga.

"Eh enggak apa-apa, Yank. Lha koq ... Dirga enggak merasa kesinggung koq. Dirga bersyukur dengan hidup yang sudah diberikan," jawabnya membuatku bangga.

Kuelus pipi dan dagunya yang mulai ditumbuhi bulu halus.

"Love you Maradirga," ucapku dengan agak berbisik.

---

Deborah Tarigan


"Assalamu'alaikum," ucap Dirga. Mengetuk pintu.

Kami tiba di titik GPS yang diberikan Irriana. Memarkir mobil di halaman sebuah rumah tanpa pagar dengan luas sekitar 300 meter persegi. Di tengahnya berdiri sebuah rumah panggung berlantai dua yang cukup estetik visualnya dengan banyaknya jendela. Kesan warna cokelat dan cloud mendominasi rumah ini.

"Wa'alaikumsalam," jawab sebuah suara wanita dari dalamnya.

Lalu keluarlah seorang remaja perempuan berambut panjang. Wajahnya terlihat rupawan dengan kulit putih cerah dan pipi merah merona. Ia tersenyum menatap kami berdua.

Lihat selengkapnya