Kami sedang berkendara pulang dari Bandung, menyempatkan diri untuk membeli tape singkong dan tahu Sumedang di perjalanan ini sebagai oleh-oleh. Pulang dari suatu kota sebesar Bandung tentu kurang afdol kan kalau tidak bawa oleh-oleh buat para asisten di rumah meski cuma sekedar tape singkong dan tahu Sumedang?
"Ayank mau juga buat dimakan disini?" tanyaku sebelum keluar dari mobil.
"Boleh, Dirga mau sama lontong," jawabnya dengan wajah penuh keyakinan.
Warung tahu Sumedang yang ini aku pilih karena cukup unik, ada sebuah tulisan 'tidak sedia nasi Padang' yang terpajang di dinding luarnya, membuatku yang berdarah Minang ini penasaran.
"Bu mau tahunya Rp 20.000,- bikin 21 bungkus ya, terus tapenya juga sama. Lontongnya 10 saja," ujarku menyebutkan pesananku.
"Banyak banget Neng geulis, buat bagi-bagi?" tanya si ibu.
"Iya betul, Bu. Masa kita makan tapi enggak bagi-bagi sama kenalan," jawabku simple saja.
"Oh wah ibu doain si Eneng yang banyak rezekinya. Udah cantik dermawan lagi, ini juga nih Dedeknya ganteng, lalaki kan ieu teh? Berapa tahun? Ai si Enang teh turunan Belanda ya?" tanyanya sambil menyentuh jari tangan Mahardika.
"Iya, Bu. Lalaki, baru sembilan bulan. Oh bukan, oplas, Bu." jawabku yang sudah agak paham bahasa Sunda sembari agak sedikit bercanda.
"Eh geuning kayak satu tahunan ya, gede anaknya? Oplas teh operasi plastik ya, enak ya kalau banyak uang," balas si ibu sambil keheranan.
Sedikit belajar dari Vero bahwa terkadang beberapa hal cukup dijawab dengan guyonan tanpa perlu penjelasan konkret yang gamblang. Pasalnya kalau kujawab 'aku bukan turunan Belanda', si ibu pasti bertanya lagi 'koq mukanya bule' kemudian semakin panjang harus menjelaskannya.
"Iya ya, kakeknya juga tinggi gede sih hampir dua meter," jawabku tanpa melanjutkan membahas salah paham si ibu soal wajah blasteranku.
"Oh iya pantes aja atuh. Eh nih Neng pesenannya, ibu kasih banyak cabenya," ujar si Ibu sambil tersenyum amat ramah dengan wajah tuanya.
"Jadi berapa, Bu?" tanyaku sambil mengeluarkan dompet Lacoste violet limited editionku.
"Jadi 840 neng. Dompetnya bagus, beli di Ciampelas ya? Berapa itu neng? Ibu juga jadi kepengen," tanya si ibu sambil terpaku melihat dompetku.
Ku keluarkan 8 lembar 100ribu dan 1 lembar 50ribu.
"Oh ini beli di Paris, Bu. Berapa ya? Sudah lupa, lima rebu kayaknya," jawabku yang memang tidak suka mengingat-ingat harga barang-barang kecil yang kubeli.
"Geuning murah pisan, Paris Van Java? Mau atuh ibu, besok meuli ah menta ka si bapak," ujarnya.
Aku tersenyum, rupanya si ibu miss interpretasi, tapi tidak tega kalau harus memberi tahu yang sebenarnya. Biarlah si ibu besok kencan dengan suaminya belanja dompet. Maaf ya, Bu. Kalau aku bilang ini kubeli di Official shop Lacoste, Paris, Perancis seharga lima jutaan barangkali menghancurkan perasaan senang ibu.
Si ibu membantuku membawakan tahu, lontong dan tapenya ke mobil.
"Itu suaminya kan, Neng?" tanya si ibu.
"Iya dong, Bu. Masa suami orang lain," jawabku sambil tersenyum geli.
"Dulu pernah ada neng geulis, belanja banyak juga kayak, Eneng, tapi semobilnya sama suami orang, ya Allah kalo inget," ujar si ibu, entah kenapa menceritakan pengalaman anehnya.
Aku bingung harus jawab apa, hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum secukupnya.
"Makasih ya, Bu," ucapku.
"Nuhun ya, Neng. Ini makasih kembaliannya," ujarnya karena aku menolak diberi kembalian.
---
(Beberapa menit kemudian)
"Tadi ngobrol apa? Kayaknya ngobrol banyak," tanya Dirga sambil membuka sebuah lontong.
Kuambil lontong dari tangannya sambil memasang wajah cemberut. Ya! karena dia mau menyetir sambil makan, kan bahaya! Dirga tersenyum lebar paham. Kubuka lontongnya lalu kusuapi Dirga, lengkap dengan tahunya. Mahardika tenang di kursi belakang dengan infant car seatnya. Aku sudah sedikit mengutak-atik mobilku agar benar-benar tahan guncangan dan kedap suara.
"Tadi ibunya tanya dompet Ella dimana belinya, salah paham waktu Ella bilang beli di Paris, dikiranya Paris Van Java," jawabku sambil terus menyuapinya. Dirga makan dengan lahap, pipinya menggembung berisi lontong dan tahunya, laparkah kau wahai suamiku?
Dirga mengangguk, menunggu mulutnya kosong baru berbicara.
"Terus enggak dikasih tau?" tanyanya setelah menelan kudapannya.
"Enggak dong!" jawabku.
"Kenapa?" tanya Dirga lagi.
"Ya nanti merusak niat belanja bareng sama suaminya, kan bisa aja buat keharmonisan rumah tangga mereka," jawabku begitulah adanya.
"Ayank tuh, peduli sampai segitunya ya, bahkan sama orang yang bukan kenalan," ujar Dirga tersenyum kagum. Lalu kusuapi lagi dengan lontong, hap!
"Ya dong, Bundanya Dika," jawabku berbangga diri.
"Oia Yank, tiga bulan lagi Dirga mutasi ke Sidoarjo. Sudah bilang belum sih?" ujarnya memberi tahu informasi yang membuatku agak terkejut.
"Berarti harus tinggal disana? Bisa pulang berapa pekan sekali?" tanyaku agak mendetail.
"Untuk pertama tiga bulan harus di rumah dinas full. Kalo selanjutnya sebulan sekali bisa ambil libur dua sampai tiga hari," jawabnya.
Aku terdiam sejenak.
"Bisa nolak enggak sih, tetep di Cirebon aja?" tanyaku.
"Dirga udah pernah nolak mutasian sekali selama di Cirebon. Lagipula syarat kenaikan pangkat juga. Jadi wajib ikut aturan untuk kali ini," jawabnya.