Di dalam Rover arah pulang
"Aku mau candle light dinner, dengan ending paling enggak lima ronde di gazebo dan harus hattrick, okey?" ucapku memaksa pada Dirga.
"Ouw okey, menunya ikan kuah kuning ya," tawar Dirga.
"Beres," jawabku mantap.
Kami baru pulang dari kesibukan masing-masing dan aku sedang menjemput Dirga. Selama ini ritme siapa yang dijemput bergantung pada kondisi dan situasi saja sih, lebih sering aku yang menjemput karena waktu kerjaku lebih fleksibel. Lagipula setengah dari kerjaan bisa dilakukan remotely.
"Saking kebeletnya sampe lupa ya Tuan, Nyonya, kalau Mira yang jomblo ada di sini?" ujar Mira yang duduk di kursi belakang mengasuh Mahardika. Iya juga, aku sampai lupa membawanya untuk membantuku mengasuh Mahardika.
"Ah, Mira kan udah lama kerja sama Ella, kayak enggak biasa aja," jawabku berdalih menyembunyikan rasa maluku.
"Wah iya sih, kadang Tuan sama Nyonya enggak lihat situasi. Mira habis nyuciin bajunya Dedek Dika keluar ruang mencuci mau jemur, eh Tuan sama Nyonya lagi 'berbuat' di dapur," celotehnya ceplas-ceplos.
Dirga terdiam menyetir, rasa malunya sudah naik ke ubun-ubun pasti.
"Duuuh, Mir, nikah coba kamu gih! Biar ngerti, Ella sama Dirga tuh jarang punya waktu santai berdua," jawabku masih berdalih.
"Belum ada calon yang cocok Non, masa Mira dilamar pengangguran coba? Ya enggak lah, secara adik Mira masih kecil-kecil juga," ucap Mira.
"Iya dong jangan pengangguran sih. Kamu nyarinya yang gimana emangnya?" tanyaku.
"Yaaaa kayak Tuan Dirga gitu, TNI atau Polisi," jawab Mira lancar saja.
"Haha saya kenalin sama Badra aja kali ya," ucap Dirga.
Aku menatap Dirga mengangguk-angguk dengan ekspresi 'ya kenalin aja Yank'.
Dipikir-pikir memang aku membatasi diri terlibat dengan kehidupan pribadi para ART-ku. Alasannya simpel, untuk menghindari ikut campur urusan orang lain. Dan lagi statusku sebagai majikan mereka akan memberi pengaruh pada keputusan mereka dalam hidup. Paling aku hanya bisa menjadi pendengar kalau mereka butuh curhat, sisanya terserah mereka.
---
Kami menyebutnya kamasutra ala kami, eiit tapi jangan dulu berpikir ke arah hal yang berbau intim. Ini tentang pernikahan itu sendiri, tentu saja tentang keintiman di dalamnya. Tapi hal itu tidak melulu soal ranjang karena bagiku dan Dirga, kamasutra ala kami adalah juga bagaimana kami saling berinteraksi satu sama lain. Tentang posisi-posisi terbaik yang harus kami lakukan di berbagai situasi agar kami berdua sama-sama terpuaskan.
Di awal sebelum dilaksanakannya pernikahan, aku dan Dirga secara privat bertemu di Wisma Maharani. Di gazebo favoritku tentunya, untuk membahas hal penting. Yaitu tentang agreement di dalam pernikahan kami. Aku suka ternyata Dirga juga memikirkan hal yang sama, itu berarti ia pria yang berkomitmen. Agreement ini membahas beberapa poin penting yaitu, hak dan kewajiban kami masing-masing. Di sisiku aku menuntut untuk tetap berkarier meski sudah menjadi ibu rumah tangga. Selain karena bisnis yang kubangun sudah amat besar, alasan lainnya inilah hidupku dan aku tidak akan pernah bisa bila tidak melakukannya. Begitupun Dirga yang memiliki hak untuk mengejar kariernya termasuk kalau hal itu berarti ia harus mutasi ke luar kota, huft ... tapi aku menyetujui demi kebahagiaannya.
Soal nafkah, sejujurnya aku tidak menuntut nominal pasti. Hal ini sudah secara gamblang terlihat jelas bahwa aku jauh lebih berpenghasilan daripada suamiku itu. Jadi urusan nafkah aku hanya minta Dirga untuk memberikan seluruh penghasilannya sebagai seorang prajurit setiap tanggal gajian padaku. Income Dirga di luar itu seperti dari bengkel miliknya 100% tidak kusentuh sama sekali. Lagian berapa sih, hanya puluhan juta saja.
Aku juga membebaskan Dirga untuk memberikan uang kepada keluarganya atas sepengetahuanku. Yang rutin ya kepada Bunda Hesti. Itu juga akan aku tambahkan tiap bulan rutin.
Poin penting lain adalah hari libur, setiap dari kami wajib meluangkan waktu di hari libur satu sama lain. Jadi enggak ada tuh pas Dirga libur cuma di kamar aja pegang hape. Ya kalau mau begitu bareng di sofa nonton tayangan reels bareng yang menurutku sih enggak ada gunanya. Biasanya kami sepedahan bareng keliling sekitaran Pasawahan, Mandirancan, sampai Cilimus saja. Kegiatan lainnya ya Dirga latihan nembak dengan aku menemeninya. Atau juga berkuda di Sangkan, membaca buku di gazebo, atau sekadar joging bareng dengan ending nyari sarapan. Kalau waktunya cukup panjang, semisal seminggu libur, ya ke luar kota mengunjungi tempat wisata. Tapi jujur saja, baru terjadi dua kali.
Soal komunikasi, gawai kami wajib bisa dihubungi, makanya aku ganti iPhone-nya Dirga yang udah ketinggalan zaman dengan iPhone buatanku sendiri. Dengan teknologi termutakhir dan durabilitas tingkat tinggi, enggak ada tuh alasan 'hapenya lowbat', 'enggak ada sinyal', 'hapenya ngehang', paling cuma lagi sibuk.
Ah ini yang unik dari kami, di agreement ini juga dibahas soal kalau lagi marahan. Sebenarnya sih tanpa ditulis juga aku akui sih Dirga adalah pria penyabar. Aku ... eum ... ya ... kata Dirga ... gampang ngambek kalau permintaannya enggak dituruti. Pernah sih ... atau sering ... enggak lah, sesekali aja. Dan saat itu terjadi Dirga selalu bisa menenangkanku, membujuk dan merayuku untuk damai. Eum ... Ella suka Ayank yang gitu, muach love you. Begitupun sebaliknya, bapak tentara pernah marah gara-gara aku bikin eksperimen nuklir di Salle Das Machine, dan ketika diuji coba, terjadi ledakan kecil. Padahal aku tidak terluka karena pakai pakaian pelindung tapi Dirga yang mengetahui hal itu dari Erik jadi marah. Erik sih gimana laporan segala ke Dirga ... huuuuw. Dan aku enggak malu untuk minta maaf duluan, pasang wajah innocent sambil duduk di pangkuannya kasih peluk cium biar dia luluh.
Kami juga bersama-sama merencanakan planning masa depan seperti akan mengadakan aset apa aja, bentuk asetnya apa, sampai pengembangannya nanti bagaimana. Aset itu unit usaha ya atau belonging yang harganya terus menanjak, jadi bukan kayak rumah atau kendaraan, itu sih liabilitas.
Aha ada satu hal yang aku suka sekali dari Dirga dan ini berupa tuntutan darinya. Ia mau setiap aku di rumah dan memiliki waktu luang, aku harus memasak makanan rumah untuknya. Tenang Ayank! Ella juara kok masaknya.
Kami berdua juga masing-masing ingin diberikan kebebasan untuk bergaul dengan teman-teman dekat kami. Ya kayak misal Dirga nobar bola, dan aku hang out, treatment, karaoke, party sama anak-anak Hyper Label.
Soal anak, aku dan Dirga sepakat kami hanya akan memiliki dua anak, syukur-syukur cowok dan cewek. Setelah memiliki dua keturunan aku akan langsung pakai KB.
Kami juga sama-sama menentukan jalur pendidikan anak kami. Untuk bagian ini Dirga sendiri agak mengalah dengan alasan pendidikan yang kujalani lebih bagus dari yang dia dapatkan. Ini sih karena Ellanya aja yang genius Yank. Aku sendiri memaparkan bahwa pendidikan berbasis teknologi terapan itu bagus dan Dirga menyetujuinya. Karenanya Dirga menyerahkan keputusan soal jalur pendidikan yang akan ditempuh oleh anak kami padaku. Tapi dia memberikan masukan soal pemberian muatan agama minimal pada pendidikan dasar. Baiklah Ella ok kok Yank.
Eum ya perihal kebutuhan batin juga kami bahas kok. Poinnya ya kira-kira begini, kalau Dirga butuh asalkan aku tidak kelelahan, sakit, atau datang bulan ya aku wajib penuhi dengan sepenuh hati, begitupun sebaliknya. Tapi khusus aku, aku mau sebelum melakukannya, kami mengadakan sebuah, ya 'opening', bisa berupa makan malam, pillow talk, karaokean bareng, meski Dirga suaranya enggak merdu, pijat, ataupun sekadar bersantai di gazebo. Hal ini penting bagiku untuk membangun suasana yang romantis. Ya dong, aku seorang wanita, kami tidak melakukannya karena aspek fisikal tapi lebih ke aspek emosional. Dirgaku kurang paham soal ini dan satu semester awal adalah masa 'perkuliahan' tentang ini olehku padanya.