Sebuah VIP room di kafe balkon lantai dua. Kafe bernama D'Lapau yang merupakan bagian dari salah satu cabang Arunika's Beauty Centre yang terletak di Tangkuban Parahu. Kelima sahabat baik tengah berkumpul untuk menikmati waktu bersantai bersama: Daniella, Angrea, Veronica, Vior, dan Ivory.
"Yeeeaaay... Vero udah siapin nih hadiah buat Rin. Hime-chan kan sudah resmi jadi diva nusantara tuh, jadi Vero beliin itu!" ujar Vero yang sumringah melihat Ivory senang dengan hadiah mic custom mewah pemberiannya.
"Makasih, Kak. Ini real nih? Bukan KW, kan?" balas Ivory.
"Siiiiikkk, sembarangan! Vero pesen khusus itu, 18 jeti tuh," timpal Vero.
"Hehe iya Rin percaya, makasih ya, Kak," timpal balik Ivory.
"Ini buat Ivory. Maaf ya Rea enggak bisa ngasih yang bagus," ujar Angrea seraya menyerahkan sebuah bingkisan suplemen dan ramuan herbal. "Ini Rea pesan khusus dari kampuang, semoga bermanfaat."
"Waaah Kak, Ivory makasih banget, ini banyak banget ya," sambut Ivory dengan wajah bahagia.
"Wih, ini tuh obat-obatan warisan keluarga Mamah ya? Tambah bagus sekarang kemasannya," timpal Vero sembari ikut memegangi bingkisan tadi.
"Iyo lah, kau mau... beli saja! Sudah tersedia di online market," jawab Angrea.
"Produksi ramuan tradisional keluarga Mahalini sekarang sudah mengalami modernisasi, Ver. Mak Pasha jeli melihat segmen konsumennya bukan cuma dari kalangan keluarga sendiri," tambah Daniella melengkapi.
"Wah, Vero jadi kangen sama air kelapa asin tuh. Sensasi tegukan pertamanya enggak terlupakan," ucap Vero.
"Hahaha! Vero."
"Haha ya udah, Kak, giliran Vior nih. Rin, semoga hadiah ini bermanfaat ya buat kamu." Vior menyerahkan sebuah bingkisan sebesar koper kecil pada Ivory bertuliskan "Vior's Collection: Al-Latif Series" pada bagian depannya dengan tulisan bergaya kaligrafi yang indah.
"Eh, ini yang seri spesial itu ya? Ella mau ya, Shanum, kirim ke rumah," timpal Daniella pada juniornya itu.
"Ok, Kak," sambut Vior.
"Wah, kalau Kak Daniella aja sampai mau banget, berarti spesial nih. Makasih ya, Kak," Ivory semakin berbinar menerima hadiah ulang tahunnya tersebut.
"Buat Ivory-nya Velvet harus yang spesial. Sama-sama, Sayang," balas Vior yang ikut senang hadiah darinya begitu diterima oleh Ivory.
"Wah, tinggal Ella nih. Kalau gitu anggap saja ini harapan dan doa dari Ella untuk kamu... semoga tidak lama lagi Ivory lekas diberi momongan ya," ujar Daniella diiringi senyum lebar sembari mengeluarkan sebuah pad medis, lalu menarik seutas kabel yang tersambung pada stik transduser—sebuah probe berbentuk mirip mikrofon dengan ujung sensor optik.
"Wiiih apaan itu, Ella?" Vero begitu penasaran pada benda yang baru saja ditunjukkan tersebut.
Daniella hanya menanggapinya dengan senyum bangga.
"Ini apa, Kak? TV portable, tapi microphone-nya kok beda ya? Ivory baru lihat alat seperti ini," sambut Ivory dengan raut penasaran yang bercampur senang.
"Ella praktikin ya," balas Daniella.
Setelah menghidupkan alat tersebut, Daniella menempelkan ujung sensor optik probe-nya di antara celah tulang rusuk Ivory. Seketika, layar pad di tangannya menampilkan visual monokrom dari empat ruang jantung yang berdenyut cepat, disusul semburat warna merah dan biru dari fitur doppler yang merekam laju aliran darahnya.
"Wuaaaaaahhh!!"
Ketiga mantan member Pink Velvet tersebut terkagum-kagum.
"Itu phased array probe beneran ya? Portable?" Vero begitu terkaget melihat benda tersebut.
"Betul, dan bisa juga dipakai sebagai alat USG. Ella harap kamu bisa lekas pakai alat ini ya, Sayang, buat kehamilan kamu kelak," ujar Daniella.
"Ya Tuhan, Kakak, makasih banget untuk alat dan harapannya. Ini berarti banget buat Rin," sambut Ivory yang agak terharu pada kalimat Daniella.