Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #39

Wicked Day Ever

Angin bergemuruh di luar lengkap dengan hujan yang turun dengan amat lebat. Di luar sedang badai, untungnya. Hal itu tidak terasa di dalam rumah. Aku hanya mengetahuinya dari sistem IVO yang bisa memonitor keadaan di seluruh rumah.

​"Mau Mir, Dikanya sama MPASI rasa baru?" tanyaku pada Mira yang sedang menyuapi Mahardika sementara aku mengutak-atik laptopku.

​"Mau, Non. Tuan Dika kayaknya emang makan apa aja mau, lahap banget dia," jawab Mira yang sedang menyuapi Dika dengan tim beetroot dan keju edam.

​Aku sedang sambil mengerjakan side project-ku, sebuah alat pengacak gelombang. Harapannya sih bisa jadi semacam anti-sadap dan hack untuk alat komunikasi. Jadi bisa untuk alat keamanan dalam berkomunikasi dua arah. Alat ini juga bisa berfungsi sebagai pencacah gelombang untuk bisa mendefinisikan dan melacak suatu gelombang tertentu berikut asalnya. Marvellina pasti suka nih yang seperti ini.

​"Bikin apa, Non? Itu banyak huruf sama angka di laptopnya? Ini ada lampunya, bagus. Mainan buat Mahardika ya?" tanyanya sembari melihat alat yang sedang kukerjakan.

​"Hehe iya, bisa jadi mainan sih, buat alat belajar Dika juga bisa. Kayak penghitung numerical gitu," jawabku, masih sulit ku menerangkan pada Mira yang putus sekolah di kelas 3 SD ini.

​"Nu-me-ri-cal bener ya, Non?" tanyanya mencoba mengeja. Aku sebenarnya suka dengan karakternya yang mau belajar. Never late to learn, Mira, true.

​Aku mengangguk mengiyakan.

​Ah, kangen Dirga. Sekarang di rumah aku sendirian saja. Ya, tidak secara harfiah sih, ada Mira, Mbok Rum, Nengsih, Pak Handoko, Pak Joko, dan Erik tentunya. Untungnya aku sudah punya Mahardika. Ya, Dirga gede sedang mutasi luar kota tapi untungnya ada Dirga versi kecil.

​"Udah selesai, Mir, makannya?" tanyaku.

​"Sesuap lagi, Non. Besok mau bikin ini lagi?" tanyanya.

​"Ganti dong, bikin puree bayam, chicken breast, sama wortel biar variatif," jawabku.

​"Okeeeey udah selesai. Ella mau coba satu fiturnya dulu. Coba Mira bilang sesuatu, nyebutin nama lengkap, hobi, sama makanan kesukaan," ucapku memerintahkannya sesuatu.

​"Iya, Non," jawabnya. Mira memang kooperatif, selalu mau kalau diminta melakukan apa pun.

​"Ok, mulai," aku memberi aba-aba.

​"Nama Miranda Kusuma Dewi, umur 19 tahun, hobi bikin anak... eh maksudnya menjaga anak, makanan kesukaan sayur ketewel sama ayam gorengnya Nona Daniella," ujarnya membuatku tertawa karena tambahan informasinya.

​"Hahahha kamu tuh ada aja... Okey, merci beaucoup, Mira, coba nih dengerin," ujarku benar-benar tertawa puas.

​Kutunjukkan kerja salah satu fitur alat buatanku. Kupasangkan bagian wireless earphone-nya ke telinga, dan menempelkan bagian microphone-nya dekat mulutku.

​"Nama saya Daniella Maharani, saya istri dari Maradirga Arutala dan ibu dari Mahardika Maharani Le Blanc'. Saya suka science, mekanika, menyanyi, atletik, dan membuat makanan yang enak," ujarku membuat Mira terkejut.

​Kenapa terkejut? Karena suara bicaraku sama persis seperti suaranya.

​"Lho, kok suara Nona sama kayak Mira? Bisa gitu?" Ia terheran-heran sampai matanya melotot terpukau.

​"With science everything is possible, Mir," ujarku malah berbahasa Inggris.

​"Wah, Mira enggak bisa bahasa Inggris," ujarnya.

​"Haha iya, dengan ilmu pengetahuan segalanya jadi mungkin. Ini bisa niru sama persis, ya 98% lah, semua suara, buat seru-seruan aja," kuterangkan fitur yang tadi kupraktikkan.

​"Nona hebat ya, bisa bikin barang kayak gini. Ini kayaknya bisa deh buat ngerjain orang, ya kayak bikin telepon iseng gitu," ucapnya ada benarnya.

​"Nah ya, jangan dipakai buat hal buruk dong. Ini kan bisa terpakai buat bikin video, buka kunci yang pakai voice access, atau bahkan biar yang enggak bisa nyanyi jadi PD gitu suaranya bagus," ucapku menyebutkan beberapa hal ringan yang bisa dilakukan dengan device ini.

​"Ooooww kayak Tuan Dirga tuh ya, kalau nyanyi suaranya enggak enak. Padahal istrinya jago nyanyi," ucapnya ceplas-ceplos membuatku tertawa lagi. Mira, Mira... aku ceritain lho ke Dirga.

​"Hahahaaa kamu tuh dasar. Iya juga sih ya, Dirga ngomong sama nyanyi sama aja, haha," aku masih tertawa saat kunonaktifkan laptopku.

​"Aaakkk hahahaaakak," Mahardika juga ikut tertawa.

​"Nona kangen enggak LDR-an sama Tuan? Udah mau dua bulan ya?" tanyanya tiba-tiba.

Lihat selengkapnya