Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #40

Last Kiss To Let Him Go

Aku merasa aku bukanlah orang yang tidak bersyukur. Jenis orang yang baru sadar berharganya sesuatu ketika sudah tidak ada. Tidak! Aku tahu bahwa kehadiran Dirga dalam hidupku adalah karunia yang selalu aku syukuri setiap detiknya. Namun, kenapa Engkau tarik karunia itu dariku, wahai Sang Penguasa kehidupan? Jealous-kah Engkau padaku?

Mobil jenazah yang membawa Dirga memasuki halaman Wisma Maharani.

Aku tengah menunggu di beranda bersama Bunda Hesty, Bu Arunika, Gege, Angrea, Vero, Vior, dan Ivory yang menggendong Mahardika. Seluruh tubuhku bergetar hebat, hatiku terasa sesak kala kulihat sebuah peti jenazah diturunkan dari mobil dinas militer itu. Bu Hesty dan Bu Arunika merangkulku erat kala air mata menetes dari kedua mataku tanpa bisa ditahan. Tangisku pecah, aku tidak peduli semuanya, aku mau suamiku.

"Hhuuwaaaaaa... enggak... Dirgaaaa... enggak mungkiiinnn..." Kakiku lemas, tubuhku ambruk ke lantai.

Kami semua sama-sama menangis, terutama Bu Hesty yang pastinya sama hancurnya denganku. Angrea membantu merangkul Bu Hesty yang juga tidak sanggup berdiri. Tak mungkin kami sanggup menerima kenyataan pahit ini.

Peti mati itu lalu dibawa masuk ke dalam rumah untuk disemayamkan lalu dikebumikan esok hari. Pandanganku buyar, dan perlahan berubah menjadi gelap total kala peti mati yang berisi jenazah suamiku itu lewat di hadapanku.

"Oooaaaaaa... aaaaa," terdengar suara tangis, ini tangis Mahardika.

"Ella, udah bangun, Sayang...? Minta tisu basah, Ver..." Ini suara Angrea.

Sebuah sensasi dingin di dahiku membangunkanku seketika.

Aku sudah sedang berbaring di ranjangku, dikelilingi Angrea, Vero, Vior, dan Bu Arunika.

Ah, rupanya Ivory sedang menenangkan Mahardika yang merengek.

Bu Arunika sudah sedang mengoleskan minyak kutus-kutus buatannya di leher dan dadaku, aku hafal wanginya.

"Bundo Aruni, ngolesnya jangan sampai full... Mahardika kayaknya minta netek deh," ujar Vero.

"Iya ya, Vero. Tapi Nona Maharani masih lemes gini belum bisa gendong," jawab Bu Arunika.

Aku perlahan-lahan bisa membuka mataku, namun masih setengah sadar.

"Kak, Mahardikanya masih nangis, iya deh dia gelisah," ujar Ivory, mungkin kewalahan.

"Yaudah sini Vero aja," jawab Vero.

"Izin ya, Ella," bisik Vero di telingaku, agak tidak mengerti aku maksudnya.

Entah sudah berapa menit berlalu di sini saat sedikit demi sedikit kesadaranku pun pulih dan bisa kubuka mataku.

"Dirga... Dirga mana...?" ucapku.

"Ella sayang, tenangin diri dulu... kamu baru pingsan," ujar Angrea.

"Mah, Ella mau ke Dirga, Mah... anak Ella mana? Mahardika mana?" tanyaku celingukan.

"Mahardika lagi nyusu, kasihan dia dari tadi nangis terus, udah anteng sekarang," jawab Angrea.

Menyusu, siapa? Akunya kan di sini.

Kulihat di kursi goyang biasa aku duduk untuk menemani Dika di sebelah boks bayinya, Vero sedang menyusui Mahardika. Ia sadar aku sudah bangun lalu memandang ke arahku.

Lihat selengkapnya