(Beberapa bulan setelah perayaan ulang tahun Ivory)
Hatiku penuh amarah dan dendam, namun entah pada siapa atau pada apa. Isi pikiranku adalah balas dendam atas kematian Dirga. Malaikat pun akan kuburu jika memang mereka penyebabnya.
Hanya saja hingga detik ini tidak ada kejelasan mengenai penyebab kematian Dirga. Hanya sekadar 'gugur dalam bertugas' dan ketika kutanya kejelasan kejadiannya, semua terdiam. Jelas mereka menyembunyikan hal ini dariku. Sabugha bahkan hanya meminta maaf, ia bersikukuh ikut merasa bersalah atas meninggalnya pria yang paling kucintai itu. Memang apa andilnya dia dalam hal ini? Apa SHINE dan pihak pertahanan negara ini ada kerjasama rahasia hingga mengharuskan perwira setingkat Dirga terlibat? Namun bila seperti itu seharusnya saudara-saudara dari keluarga Mahalini di keprajuritan juga tahu, bukan? Tetapi bahkan Bang Dzul yang berpangkat Mayor dan Mak Perkasa yang seorang komandan besar juga tidak punya akses soal itu.
Dendam yang berkecamuk ini membuatku membenci seisi dunia. Membuatku ingin menarik kiamat lebih cepat, dan menghancurkan segalanya. Terutama karena begitu banyak hal yang ditutupi tentang itu. Dan sialannya tidak bisa kuakses bahkan dengan semua kemampuan dan koneksiku.
Kuarahkan G2-ku dan menghancurkan setiap sasaran yang melesat. Tembakanku akurat, tentu saja aku belajar dari Sang nomor satu. Tiga tahun berlatih dengan Dirga memang membuat perbedaan yang luar biasa, dari Daniella yang lemah jadi penembak jitu. Dirga sayang, dengan warisan kemampuan darimu ini akan kubalaskan dendammu pada siapa pun yang berani merenggutmu dariku. Akan kuhabiskan seumur hidupku untuk mencaritahu hal itu.
Dirga juga melatihku membongkar senjata dan memasangkannya kembali. Ia mengajariku segala hal mendasar yang harus dimiliki seorang pemegang senjata api. Andai kau masih di sini, Mahardika bisa memperoleh guru terbaik. Kau hebat, Dirgaku.
Peluru demi peluru yang kutembakkan tidak juga membuatku merasa senang. Rasanya hatiku belum puas bila seisi dunia belum musnah. Rasanya semua salah, ingin semua menghilang saja.
"Gggrrrr..." terdengar suara geraman hewan liar.
Aku memang sedang berada di bagian belakang Wisma yang berbatasan dengan hutan. Wajar kalau beberapa hewan berkeliaran. Aku menoleh ke arah sumber geraman itu, dan enam sosok sudah sedang berdiri. Enam ekor anjing liar mirip serigala berwarna cokelat, mungkin yang dulu pernah menyerangku dan Dirga. Kuperhatikan masing-masingnya, dan bisa kulihat salah satunya memiliki luka di punggungnya. Ia adalah anjing yang pernah melukai tangan Dirga. Mungkin kelima lainnya adalah anak-anaknya.
Dadaku terasa panas, kepalaku dipenuhi amarah melihat hewan-hewan ini. Namun kini, aku bukanlah Daniella yang dulu. Yang meringkuk takut ketika hendak diserang oleh makhluk ini. Kini, mereka yang akan menyesal telah menunjukkan diri di hadapanku.
"IVO, mode bertarung," ucapku, lalu dengan seketika empat buah triangle drone dan dua buah sphere drone melayang di depanku.
IVO: Target terkunci, Nona.
Seekor anjing menggonggong mengancamku, diikuti seekor lagi di samping kanan. Mataku tetap menatap tajam pada si alpha dengan bekas luka di punggung. 'Kamu adalah makhluk yang sudah pernah melukai kekasihku, kamu harus mati,' sebuah suara menggaung di kepalaku.
Tiba-tiba dua ekor anjing yang menggonggong menyerang. Namun, bagaikan kutu melawan meriam, keduanya dilumpuhkan dengan tembakan ke kepala oleh triangle drone. Dua ekor lagi menyerang dengan serangan yang lebih acak. Hewan ini memang terlatih berburu oleh kehidupan liar, mereka berganti strategi. Namun sekali lagi, teknologi memegang kendali. Sphere drone menembakkan laser konsentrasi tinggi. Tidak seperti peluru yang hanya mampu pada kecepatan suara, serangan laser sphere drone jauh lebih cepat karena berbentuk gelombang cahaya mematikan. Kedua makhluk itu tergeletak tak bernyawa dengan sebuah lubang menganga di tubuhnya. Lubang yang mengeluarkan asap dan membentuk bekas luka bakar menembus daging.
"Dooorr!" Kutembakkan peluru tepat mengenai kepala seekor lagi yang berdiri di samping si alpha. Dan dalam sekejap, ia tumbang. Belum ada dua detik si alpha sadar, aku menembak kaki kiri belakangnya. Si alpha terkejut dan mundur ke belakang terpincang-pincang, ingin kabur. Aku memang sengaja menembak kakinya agar aku bisa menikmati sensasi membunuhnya perlahan-lahan, memastikan hewan itu tersiksa sebelum menemui ajalnya.
Ia lari memasuki hutan, bermaksud menyelamatkan diri. Maaf, aku tidak akan membiarkanmu kabur. Aku berlari mengejarnya, diikuti keenam drone-ku. Enam bulan ini aku sudah melatih diriku pun koordinasinya bersama drone-drone buatanku. Kini kami adalah tim yang efektif untuk memburu. Kuikuti perginya hewan liar itu, aku agak menikmati sensasi ini.
Pengejaran berhenti di sebuah tumpukan batu yang membentuk gua kecil. Rupanya ia ingin berlindung masuk ke dalam gua tersebut. Tapi kalaupun ia bersembunyi, aku hanya tinggal menembakkan proyektil ledak ke dalam gua dan meledakkannya. Setiap triangle drone mampu menembakkan empat proyektil ledak berakurasi tinggi.
Lucunya, ia menggeram membelakangi pintu gua, sudah putus asa rupanya.
Aku tersenyum lebar menatapnya, kupandangi dengan penuh amarah. 'Aku sendiri yang akan membunuhmu wahai anjing,' gumamku dalam hati. Kutodongkan G2 premiumku mengarah tepat ke titik di antara kedua pelipisnya.
"Doooorr..."
"Kaiiing..." Jerit terakhirnya menandakan nyawanya telah berakhir.
Aku tersenyum hampa. Anehnya, ada rasa puas namun tak ada kebahagiaan sama sekali setelah membunuh makhluk itu. Hatiku tetap terasa kosong, seakan sadar bahwa pelampiasan kecil seperti ini tidak akan membuatku memperoleh Dirga kembali.
IVO: Sensorku mendeteksi sumber panas dari dalam gua, Nona.
Informasi dari IVO menyadarkanku, mungkin ada kawanannya yang lain. Aku harus tetap waspada.
"IVO, mode siaga," ujarku.
Untuk mengefektifkan fungsinya, pada beberapa mode aku menyingkat jawaban IVO hanya dengan sinyal suara.
Aku pun masuk ke dalam gua, memastikan untuk membasmi semua kawanan ini. Dan ternyata gua kecil ini agak dalam hingga 5 meter ke dalam. IVO mengeluarkan lampunya menerangi seisi gua. Samar-samar bisa kulihat sosok yang menjadi sumber panas yang dikatakan IVO tadi.
Tiga ekor anak anjing yang masih belum bisa melihat. Terlihat dari reaksinya terhadap cahaya, mereka mungkin baru berusia beberapa hari. Kudekati anak-anak anjing itu dan kusentuh mereka. Begitu rapuh, namun siapa yang sangka jika mereka bisa tumbuh jadi amat berbahaya.
Tiba-tiba dadaku terasa sesak, aku menyadari sesuatu. Jangan-jangan kawanan anjing liar yang kubunuh hanya berusaha melindungi bayi-bayi anjing ini. Kutatap ketiga bayi anjing yang bahkan bisa kubunuh hanya dengan mencekiknya. Namun apa ini? Perasaan apa ini... air mataku menetes. Aku tidak sanggup menyakiti hewan yang masih kecil ini. Hewan yang kini sebatang kara karena aku telah membunuh semua kawanannya. Aku sudah membunuh orang tua dari bayi-bayi ini. Lalu apa bedanya aku dengan orang yang sudah membunuh Dirga?
Apa ini yang Dirga inginkan? Ia dan jiwa rela berkorbannya mungkin berusaha melindungiku maupun Mahardika dari hal yang mengancam keselamatan kami. Ia mungkin ingin aku bersyukur atas pengorbanan yang ia lakukan. Bukankah Sabugha bilang bahwa Dirga gugur sebagai seorang pahlawan yang sudah menyelamatkan banyak kehidupan.
Air mataku menetes, tangisku tak terbendung, aku sungguh menyesal. Aku tidak mau jadi seperti ini, jadi seperti mereka yang seenaknya merenggut hak hidup makhluk lain. Maafkan aku, Dirga, aku sudah salah mengartikan pengorbananmu. Maafkan aku, aku hanya begitu merindukan hadirmu. Aku bisa merasakan bahwa saat ini sebuah pelukan sehangat pelukan mendiang suamiku hadir di hati.
---