Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #42

A Princess Secret Heart

"Haluuu, assalamu'alaikum, Madam, preben preben?" ucap Vero ketika teleponku diangkat olehnya.

"Eum, Vero, bisa enggak Jumat ini nemenin Ella ke nikahannya Mirriam di Bali?" tanyaku.

"Jumat ya... hayuk aja, Madam. Anak-anak bisa di-keep Mamieh dulu. Berapa hari?" tanya Vero.

"Paling Minggu udah balik, Ver. Acaranya di Denpasar, tapi kita bobonya di Seminyak ya, Ver. Enggak apa-apa kan agak jauh?" ujarku.

"Boleh, Madam, budak ngikut aja... Mau ngapain dulu di Seminyak? Kan Denpasar juga ada pantai," tanya Vero, biasa, ratu deduksi.

"Ya tidurnya di vilanya Ella kan, di Seminyak, deket pantai koq," jawabku.

Tiba-tiba hening.

"Dieh bulid, Madam," tiba-tiba Vero berkata.

"Bulid gimana?" tanyaku tidak paham, candaan apa lagi nih.

"Sugih banget sih," ucapnya.

"Hadeeeh, Vero," jawabku lalu mengakhiri telepon.

---

(Tiga hari kemudian)

Aku dan Vero tiba subuh hari dan langsung menggunakan mobil sewaan untuk menuju Denpasar, Bali. Tujuan kami adalah sebuah gereja di Jl. Tukad Musi, Denpasar. Begitu sampai, kami menyempatkan sarapan di sebuah resto sambil menunggu acara pernikahan mulai.

"Biasanya makan B2, Madam, kalo di Bali?" tanya Vero.

"Hehe, Dirga marah kalo Ella makan. Yaudah, protein kan banyak, hitung-hitung biar lebih saleha aja," jawabku.

Vero memasang wajah tidak enak hati.

"Maaf ya, Madam, kangen ya pasti?" tanyanya.

"Pasti, Ver. Istri mana ditinggal mati suaminya enggak kangen?" ucapku sambil memandang ke jalanan.

"Hmmm... Mamieh kayaknya enggak deh," jawab Vero.

Kami pun tertawa bersama.

---

(Dua hari kemudian)

Aku tidak paham atas dasar apa Mirriam menggelar pernikahannya di Bali. Setahuku, Hawaii dan Acapulco adalah tempat favoritnya. Tapi setelah kupikir ulang, sepertinya pantai adalah pilihannya.

Aku juga tidak paham tentang alasannya yang satu ini. Menempatkan aku dan Vero sebagai tamu khusus yang berada satu meja dengan Maria Wildblood, Edith, dan Sakura. Ah, setelah dipikir ulang, ya kami pernah "nongkrong" bareng berkolaborasi dalam proyek lagu Breaking the Harlem.

Suasananya tentu jadi agak canggung, mengingat ini adalah pernikahan Jo' dan Mirriam, yang dihadiri Maria yang mana adalah mantan kekasih dari Jo'.

"So, why the tiger girl, the Arab, and Japan pussy not invited?" tanya Maria, tetap memandang lurus ke depan.

Sakura menoleh pada Maria dengan wajah "Whaat? Pussy?"

"Not you, Akihabara," gumam Maria.

Jelas suasana hati Maria sedang panas. Ia yang biasanya memperlihatkan well mannered di publik sepertinya sedang "lepas rem".

"Angrea pregnant, so do Vior and Ivory, which make it impossible to take a long trip... their name actually," jawabku.

Kami diam lagi.

"Just ask!" ucap Maria.

"Ask what?" tanyaku.

"You must be have many questions to me? Or them, the bride," ujarnya.

Oh, ya, ya... Tentu saja, Maria. Dan rupanya kamu sendiri yang tidak tahan mau curhat, cuma terlalu jaga image saja.

"Ouuwwwhh... ya of course, why you broke him?" tanyaku agak ragu.

"Cause he's cheating... with his heart..." jawab si Maria.

"I thought you knew this...?" tanyaku lagi.

"I know Jo slept with her, many girls, even Sakura and Edith... I know... but Mirriam, Jo' give his heart to her... more than to me..." jawab Maria amat ironi.

Aku jadi, eum, sedikit bersimpati padanya.

"Last Christmas when I got a car accident, and it been informed to him... he went to Mirriam's place just to see her get cough, an ordinary cough... he chose her than I... even when my life in danger," ujarnya agak mengeretakkan giginya.

Aku bingung harus sedih bersimpati apa senang mendengarnya. Di satu sisi, Mirriam adalah idolaku dan aku tahu Mirriam amat mencintai Jo'. Tapi di sisi lain, mendengar si putri bangsawan ini mengungkapkan sakit hatinya juga membuatku bersimpati. Wanita mana yang tidak terluka bila kekasihnya memilih wanita lain, apalagi saat ia kritis.

"Ouuu, I'm sorry to hear that," jawabku seperti yang habis mendengar kabar kematian saja.

"No, you don't have to," ucapnya.

"Sooo... you, finally married a noble man? At least you find someone who love you, and you do," tanyaku lagi soal pernikahannya.

"You can spell your gratitude to be a... mob, at least you can marry someone you love... not for politics," jawabnya.

Ouuuu, begitu rupanya. Ini apa sih pemilihan katanya 'mob', dasar high pride noble. Aku bukan gadis mob ya. Siapa bilang aku tidak pernah semacam dijodoh-jodohkan untuk urusan politik, ya politik perusahaan sih.

"You don't love him? He is a prince, isn't it? Not really bad I think," ucapku ceplas-ceplos.

Maria menoleh menatapku.

"I feel like I've got ashamed, and dolly, I don't love him," ucapnya.

Aku bisa merasakan ia harusnya menangis saat ini bila saja kami hanya berdua. Namun sepertinya harga dirinya juga terlalu tinggi untuk ia turunkan. Maria kembali menatap Jo' dan Mirriam yang kini berdansa dengan amat romantis, saling menatap satu sama lain.

Oh Maria, aku enggak sejahat itu koq. Meski kamu ketus dan suka merendahkan orang lain, tapi kamu tetap memiliki hati seorang wanita. Kamu bisa cemburu, kamu bisa tersakiti kalo orang yang kamu cintai memilih wanita lain.

"I'm sorry, truly..." ucapku bingung mau menanggapinya apa.

Ia tersenyum putus asa menatap ke lantai.

Lihat selengkapnya