"Uuhhhh mantep, ala presidential suite," ujar Vero yang sudah teler tengah bergeliat-geliat di atas ranjang.
"IVO, rekam Vero," ujarku agak berbisik.
Sebuah probe micro yang kubawa melayang sudah sedang merekam Vero.
Gatal juga mau merekamnya yang sedang teler. Ini kalau Ustadz Ikhsan lihat gimana ya reaksinya, ya? haha.
Setelahnya aku beranjak menuju dapur untuk mencari susu segar agar memulihkan efek alkohol di tubuh. Dipikir-pikir memang Vero benar ya, vila pemberian Regi ini terasa nyaman. Mungkin dalam jangka waktu dekat aku akan coba tinggal di sini untuk waktu yang agak lama. Aku memang beragenda untuk membuka Le Viral.id dan RAGE's store di Bali sih. Ya, setelah Mahardika masuk elementary school-lah aku pindah. Kuambil sebotol susu almon segar dari lemari pendingin lalu kutuangkan ke gelas dan meminumnya.
"Belum tidur, Nona?" tanya sebuah suara di belakangku.
Seorang gadis berambut panjang sepinggang mengenakan piyama mendekatiku.
"Ah iya belum. Rina juga belum tidur? Ella masih agak pening mau tidur sekarang," jawabku.
Nirina Mahandaru adalah keponakan jauh Gege yang bekerja di Bali. Ia adalah seorang psikiater dan kebetulan membuka kantor di sini. Maka kutawarkan ia untuk menempati vila-ku ini agar ada yang mengurus saja sih. Sayangnya, Nirina menolak ketika kubilang akan menggajinya untuk itu. Seperti seorang Mahandaru sejati, ia enggan menerima imbalan yang menurutnya bukan hasil keringatnya. Ia sudah cukup bersyukur diberikan izin untuk tinggal gratis di vila-ku.
"Tadi saya dengar suara dari dapur jadi saya lihat, dan ternyata Nona Maharani. Nona mau saya siapkan air hangat buat mandi? Bisa membantu menghilangkan kelelahan, besok juga Nona langsung kembali ke Cirebon kan?" tanyanya.
"Iya kali ya, Rin. Mau deh, tolong ya, Rin," jawabku.
"Baik, Nona, ditunggu ya," jawabnya sambil tersenyum manis lalu segera menuju kamar mandi utama untuk menghidupkan heater.
Ah, dipikir-pikir ada benarnya juga sih Vero bilang dia iri dengan hidup yang kumiliki. Lepas dari segala fasilitas hidup yang kudapatkan dan kekayaan yang aku miliki, aku juga diberkahi oleh orang-orang yang luar biasa. Keluarga Maha yang benar-benar terikat dalam solidaritas keluarga ini adalah sebuah karunia yang tak ternilai. Kami benar-benar saling membantu dan saling menyokong satu sama lain. Mungkin sejarah telah melatih kami melawan terpaan penjajah yang hendak memecah belah bangsa, membuat kami para keturunannya benar-benar menjaga ikatan kuat keluarga. Pun di luar negeri, terutama Eropa, aku punya keluarga Le Blanc' dan seperti yang Ourson selalu bilang, "Le Blanc' selalu ada buat keluarga." Mereka benar-benar perisai yang selalu melindungiku, menjagaku dari dalam bayang-bayang, atau aku yang menjadi bayang-bayang dalam perlindungan mereka. Hidupku memang tak kupungkiri adalah hidup yang diinginkan banyak orang lain, yang mungkin rela menunggu berjuta kehidupan untuk terlahir sepertiku.
Namun karunia selalu datang bersamaan dengan ujiannya. Sejauh ini aku selalu kehilangan orang-orang yang aku sayangi, yang amat aku cintai. Ama, Ipoh, Adrian, dan Dirgaku. Hatiku sudah sering terbuka lalu tertutup lagi karena hal itu. Dan kini sepertinya tak ada yang akan bisa membuka hatiku untuk menerima sosok baru dalam hidup. Dirga sayang, kamu adalah cinta terakhirku.
Vero, dengan kutukan yang menyertainya ini, memangnya kamu mau, Ver, kalau menukar Ikhsan dengan semua privilege seperti yang kumiliki??
Aku sudah sedang melamun di beranda samping, menatap bulan yang indah nampak seakan berwarna kebiruan malam ini. Aku melamun menatap syahdunya malam ini, berpuas diri merindukan sosok kekasihku yang sudah tak lagi di sini. Di tempat yang kurencanakan sebagai rumah pensiun bagiku dan Dirga, menghabiskan hari tua bersama.
Sebuah lagu lama teringat di kepalaku dan tanpa bisa kukendalikan mulutku bernyanyi kala beberapa tetes air mata turun dari mataku.
🎼
Waktu terus berlalu
Tanpa kusadari yang ada hanya
Aku dan kenangan
Masih teringat jelas
Senyum terakhir yang kau beri untukku
Tak pernah ku mencoba
Dan tak ingin ku mengisi hatiku
Dengan cinta yang lain
'Kan kubiarkan ruang hampa di dalam hidupku
Bila aku harus mencintai
Dan berbagi hati, itu hanya denganmu
Namun bila ku harus tanpamu
Akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta
Ho-oh, hanya dirimu yang pernah
Tenangkanku dalam pelukmu
Saat ku menangis
Bila aku harus mencintai
Dan berbagi hati, itu hanya denganmu
Namun bila ku harus tanpamu