Aku berangkat menggunakan jet pribadi Arunika 737 dari Mahalini Air menuju Paris untuk kemudian berkendara sekitar satu jam ke Giverny, Normandia. Keberangkatanku bersamaan dengan sebuah kargo yang kubawa atas nama Indonesian Rage Company. Namun, aku dan kargo bawaanku adalah hal terpisah yang disepakati tidak berhubungan.
Penerbangan ini terasa agak mendebarkan. Selain karena alasan aku pergi adalah untuk menghadiri pernikahan Marvellina dan Altarist, pernikahan ini memang agak tidak biasa. Bersatunya Rage dan Shine yang dikukuhkan dengan pernikahan Altarist dan adikku ini bisa jadi 'mengganggu' beberapa pihak. Apalagi kini Rage sudah menjalin kerja sama kuat dengan Eleven Miracles, sebuah multi-company kelas dunia. Aku tidak akan menyebutkan pihak-pihak mana saja yang mungkin 'terganggu' karena hal ini, tetapi alasan itu cukup kuat untuk membuatku menitipkan Mahardika pada keluarga Ibu Arunika sementara aku pergi. Ya, suasana bisa saja menjadi 'panas', tetapi tentunya tidak ada yang mengharapkan hal itu kan, come on! Ini cuma pernikahan? Ya kan!
---
"Silakan, Nona, minumnya," tawar Lianika Mahalini, anak dari saudara jauh Ibu Arunika yang bekerja di Mahalini Air. Ia lebih muda tiga tahun dengan Bianica, nama mereka bahkan mirip-mirip.
"Wah, makasih, Lia," jawabku menerimanya.
Aku benar-benar berangkat sendiri kali ini tanpa mengajak member Velvet. Karena ya, tadi alasannya sudah kusebutkan. Angrea ngambek besar karena tidak kuajak. Namun di sini aku sudah cukup aman karena aku akan ditemani oleh staff dari Emillio's Group untuk keamanan. Meski sebenarnya aku sudah bersiap sendiri untuk hal itu. Judulnya aku sedang berlibur sekalian menghadiri pernikahan seorang kenalanku. Hidupku memang lebih rumit di sini, tidak seperti di Cirebon.
Maka di sanalah aku, meluncur ke kota yang dijuluki dengan kota cinta, Paris, Prancis.
---
(Dalam pernikahan nan megah)
Sejujurnya ketika kecil aku tidak pernah membayangkan sosok Marvellina dalam balutan gaun pengantin. Tentang betapa anggun dan cantiknya adikku itu saat mengenakannya. Gaun berwarna putih cerah dengan berbagai ornamen yang indah tampak serasi dikenakannya. Saat ini di dadaku terasa berbagai macam perasaan suka cita. Ingin ku memeluknya sekarang, namun belum saatnya. Katedral Radegonde ini dipilih oleh kedua mempelai sebagai tempat dilangsungkannya pernikahan. Ya, aku dan adikku memang memilih agama yang berbeda, aku ikut Amaku, dan ia ikut Regi. Toh, kami sama-sama bukan umat yang taat.
Dirga, kamu harusnya lihat pernikahan ini, Marvellina begitu cantik dan menawan hari ini. Tapi aku yakin engkau ada di sini menemani kami semua. Ama, engkau juga harus lihat, anak keduamu telah menemukan cinta sejatinya. Ia telah menemukan kebahagiaannya dalam indahnya janji suci pernikahan. Ipoh, lihat aku hadir di pernikahan Ina. Terima kasih atas jasamu yang membuatku dan Marvellina akhirnya benar-benar akur dan saling menyayangi. Ingin rasanya aku menyanyikan lagu untuknya, setidaknya itu yang bisa kulakukan agar saat ini aku bisa mengutarakan langsung betapa bahagianya aku melihat mereka berdua. Dan ya, why not? Akan cukup alami kalau aku datang untuk menyumbang lagu, hal umum yang biasa di sebuah pernikahan. Di sanalah ia berjalan menuju tempat di mana ia harus berdiri untuk bersama-sama mengucap janji dengan pria yang akan menemaninya seumur hidupnya.
"I, Altarist Serenade, take you, Marvellina Le Blanc' to be my wife. I promise to be true to you in good times and in bad, in sickness and in health. I will love and honor you all the days of my life," sumpah Altarist.
"I, Marvellina Le Blanc', take you, Altarist Serenade to be my husband. I promise to be true to you in good times and in bad, in sickness and in health. I will love and honor you all the days of my life," ucap sumpah Ina.
Air mataku menetes sedikit, bahagia, amat sangat bahagia melihatnya. Pandanganku terfokus pada mereka berdua hingga tidak peduli banyaknya tamu yang datang di acara ini. Begitu banyak pihak-pihak penting yang diundang di pernikahan ini. Regi, kamu pasti bangga putri kecilmu sudah bersanding dengan pria yang sempurna.
"And for today celebration, remember several years ago when Brussel hit by great performance and a group that so excellent made a single with BI? Pink Velvet from Indonesia. Here we present their captain, Daniella Maharani."
Aku disambut si pembawa acara, duh mesti ya, padahal cuma nyumbang lagu. Dan memang setelah selama ini masih ada yang ingat gitu? Ya, pembawa acaranya sih. Ya, paling tidak aku sebagai mantan kapten Pink Velvet akan terlihat natural untuk bernyanyi di sini. Tetapi ternyata para hadirin bertepuk tangan, ah ya, disambut sih, syukurlah.
"You know I've watched your video and Pink Velvet, you girls great. Why don't continue in music?" tanya si pembawa acara berbasa-basi.
"Well, actually I stand a label music for our young generation, not really retired. And running a restaurant," jawabku mengangguk-angguk.
"Oh I see, got your junior to carry your legacy yeah... Anyway, I love your dress, so Indonesian, I know this is batik right?" ucapnya lagi melirik pada gaun pesta batik violet yang kukenakan desain Fauziah Ethic Mode.
"Ya... I wanna share my culture of my country over the world," jawabku.
"I believe that, your people must be proud, and your parents too," ujar si pembawa acara.
Kulukiskan lirikan sekilas pada Regi, ia tersenyum mengangguk kecil.
"I know," jawabku.
Dan aku pun duduk di kursi vokalis, dikelilingi band pengiring. Hear this, Ina, I present my performance special for you, my little sister.
"This is special from me, for my beloved.... bride, Miss Marvellina Le Blanc' and her handsome groom, I hope the happiness given on you forever," ucapku memandang keduanya.
Ina tersenyum menutup senyumnya dengan tangan, wajahnya haru. Iya, Ina, Uni juga ingin memelukmu saat ini.
Sang pianis mulai memainkan melodi-melodi yang lembut nan indah.
🎼
Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave?
How can I love when I'm afraid to fall?
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer
I have died every day waiting for you
Darling, don't be afraid
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
Time stands still