Dua hari setelah selesainya pernikahan antara Marvellina dan Altarist, kami para Le Blanc' berkumpul di De Mansion Le Blanc'. Kali ini aku datang lebih dulu dan bukan menyamar menjadi pelacur, tapi sebagai pengurus lansia. Sengaja sih datang lebih dulu karena aku sudah dapat bahan-bahan untuk membuat rendang. Bukan hanya karena Ourson yang minta, tapi mereka semua penggila rendang khas Amakku ini. Untungnya, bahan terpentingnya mudah didapatkan di Belanda. Sayangnya, orang yang disuruh membeli daging malah membeli daging bison Amerika impor. Ya tetap kugarap mau tidak mau, karena waktu masak rendang ini paling tidak empat jam untuk cita rasa yang sempurna.
Paman Jean sudah datang duluan bersamaku, lebih tepatnya aku nebeng semobil dengannya. Dan dari pagi, Bibi Henriette dan Madeleine membantuku memasak menu perayaan 'susulan' hari ini. Bantuan yang diberikan juga termasuk memarahi pelayan yang salah beli daging.
"Allez! Tante sait que tu as un petit ami? Vous avez sûrement déjà dîné ensemble souvent," tanyaku pada Madeleine soal dia sudah punya cowok atau belum.
Ia kini sudah menjadi seorang gadis dewasa nan rupawan.
"Hmm, non. Je veux me concentrer sur ma carrière," bantahnya dengan alasan fokus berkarier.
"Ah, mensonge! Allez, Henriette est déjà en train de tenir compagnie à Adelle... N'aie pas peur de raconter," paksaku, memintanya untuk jangan takut bercerita.
Ia lalu mendekat dan berbisik padaku.
"J'ai déjà eu deux petits amis, quand même..." ucapnya sambil melirik-lirik ke pintu dapur mengawasi kalau-kalau ibunya masuk. Ia bilang sudah pernah dua kali punya pacar.
Aku paham mengapa Madeline begini. Henriette adalah penganut Katolik yang kuat yang sedikit-sedikit haram. Pacaran tidak haram sih dalam keyakinannya, tapi ia khawatir berlebihan soal seks sebelum menikah karena itu termasuk dosa besar. Pak Sholeh, guru bimbingan agamaku waktu di TJ High School, selalu bilang kalau orang Barat itu pergaulannya bebas semua. Ah, bapak aja kurang gaul, yang strict macam Henriette juga banyak.
"Ah, je savais! Hmm, vous avez déjà couché ensemble?" tanyaku apa dia pernah tidur bareng cowoknya. Aku memang entah bagaimana mudah akrab sama siapa pun, apalagi keponakanku sendiri.
Ia mengangguk imut. Aku maunya tanya khas Vero, 'Gimana Arjunanya mantap?', tapi dia tidak tahu Arjuna tuh siapa.
"Il était beau gosse?" tanyaku, mau tahu ganteng enggak cowoknya.
"Beau gosse... mais j'ai seulement couché avec mon premier petit ami," jawabnya yang dengan bangga mengatakan semua pacarnya ganteng. Ia juga menambahkan informasi bahwa ia hanya pernah tidur dengan yang pertama.
"Oh, je vois... alors, Tante doit cacher ça à Henriette?" tanyaku bercanda saja sih, tapi memang tidak akan kuberitahukan pada ibunya.
"Bien sûr, tante..." jawabnya.
Dan lucunya tiba-tiba Henriette masuk, menatap curiga pada kami berdua.
"Alors, de quoi est-ce que vous parlez?" Tanyanya memasang wajah curiga menatap kami terutama pada Madeleine.
Madeleine menggelengkan kepalanya, ups salah bukan gitu Madie, sini bibi ajarkan cara kabur dari interogasi.
"Tout à l'heure, Madeleine a fait l'idiote en voulant mettre discrètement son sang dans la sauce tomate qu'on préparait," ujarku bermaksud mengalihkan Henriette agar percaya bahwa Madeleine hanya berniat usil memasukkan darahnya ke saus tomat.
Madeleine menoleh padaku sambil menganga kaget. Aku menatapnya tersenyum lebar sambil mengedipkan satu mataku. Ia tahu ia akan selamat dari dugaan punya pacar, tapi bakal diceramahi soal keisengan palsunya.
"Madeleine, c'est interdit!" ujar Henriette mengatakan dengan tegas bahwa tindakan itu haram.
Iya daah semua aja haram, Bi.
Dan Henriette membuang semua saus tomatnya.
---
(Beberapa saat kemudian di ruang makan)
"Des frites, quoi?! Y a pas de ketchup?" keluh Ourson soal ketiadaan saus tomatnya.
"Elle l'a jetée, Henriette, parce que j'ai blagué en disant que Madie voulait y mettre son sang pour rigoler," bisik Daniella ke telinga Ourson sambil merangkulnya, mengatakan alasan sebenarnya kenapa sausnya dibuang Henriette.
"Sacrebleu! Fallait la laisser faire, hein!" umpat Ourson.
Daniella menepuk pundak pria kekar tersebut lalu beranjak ke dapur sambil hendak mengambil daging rendangnya lagi karena makanan pembukanya habis.
"C'est encore long? J'ai l'estomac qui gargouille... Le rôti au mariage n'était pas très goûteux..." Emillio berkata sambil membawa lagi sekrat jinjing bir kalengan lalu membagikannya pada Regi, Jean, Ourson, dan Francoise.
"Bah, sœurette, pourquoi tu cuisines pas? Fais ta meuf, un peu!" ujar Ourson, menyuruh Francoise juga untuk belajar masak.
"Le résultat va vous faire vomir," jawab Francoise mengatakan bahwa masakannya hanya akan membuat mereka muntah.
"Pourquoi Altarist n'est pas venu ici?" tanya Emillio pada Regi.
"Jeune homme occupé. Il a encore beaucoup de travail... donc il est vite reparti," jawab Regi mengatakan bahwa menantunya itu pria sibuk.
"Oh, vous n'avez pas encore pu la goûter, Marvellina," tanya Jean dengan maksud bercanda.
Henriette lewat sambil membawa beberapa camilan manis. Ia tidak lupa menepuk pundak Jean untuk menegurnya.
"Et si on jouait un peu en attendant que le plat soit prêt?" usul Emillio untuk melakukan permainan.
"On joue à quoi?" tanya Jean.
Emillio memajukan wajahnya ke meja sambil tersenyum lebar.
"À la roulette russe, bien sûr."
Emillio mengeluarkan revolver antiknya, memutarnya sebentar menunjukkan kebiasaannya. Ia lalu mengeluarkan semua pelurunya dan mengambil sebuah peluru dari saku celananya. Peluru tersebut dimasukkan ke bullet chamber lalu ia meletakkannya di tengah meja.
"Allez... 1/6, on va mesurer notre chance à chacun," ujar Emillio mengatakan probabilitas pelurunya meledak.