Sabugha cuma memberi koordinat titik GPS dan nama tempat di mana kami akan bertemu. Kenapa harus repot begini sih? Kan bisa di Viral.id Yogya. Sudah seperti yang mau ketemuan rahasia tanpa sepengetahuan istrinya saja. Apa iya begitu? Sabugha belajar selingkuh, dan pilihannya adalah denganku yang pernah dijodohkan dengannya plus telah menjanda. Masak seperti cerita klise di sinetron-sinetron? Come on, enggak banget, iya kan?
Kalau dia mengajak begitu sebelum aku kenal Dirga sih mungkin-mungkin saja. Kita bicara ini Sabugha, ya, bukan sembarang laki-laki. Tapi, khususnya sekarang, sorry, it will never happen.
"Kalau dari GPS, 200 meter lagi, Non, sampai," ujar Amy, koordinator Le Viral.id unit Pekalipan.
Amy tampak rapi dan anggun dengan sebuah bando merah menghiasi rambutnya yang kini dipotong shoulder-length bob. Aku memintanya mengantar karena Vero sedang menghadiri pembagian rapor Theo, Erik mengantar istrinya periksa kehamilan, dan Gege... ah, Gege sudah cukup kubuat sibuk sampai nikahnya tertunda terus, maaf, Ge.
"Ya sudah, nanti kamu tunggu di mobil saja, ya," ujarku.
"Enggak apa-apa, Non? Amy temenin saja, memang aman?" tanyanya mengkhawatirkanku.
"Tenang, ini sahabat baik Ella sendiri, dan sahabatnya Mas Dirga juga, kok," jawabku meyakinkannya.
"Oke kalau begitu, Amy standby di mobil, HP Amy on kalau Nona butuh sesuatu," ujarnya. Oh, luar biasa para koordinator Le Viral-ku.
"Makasih ya, My," ucapku seraya tersenyum padanya.
Kami pun masuk ke sebuah perkampungan yang lumayan tertata rapi. Segala hal tentang perkampungan ini terasa amat Javanese style. Bahkan orang-orang di sini masih berpakaian amat tradisional, sungguh well cultured. Jadi ingat Kampung Mahaseroja.
"Permisi, Bu'ne, numpang bertanya, kalau Pendopo Chandra Kirana ke mana ya?" tanya Amy amat sopan.
"Leres, terus mawon lurus lajeng belok tengen, mangke ketingal istananipun," jawab si ibu menunduk-nunduk sopan sekali.
"Sae, Ibu, matur suwun kathah," jawab Amy.
Kami pun lanjut mengikuti sesuai arahan.
"Duh, untung Ella bawa kamu ya, My," ujarku.
"Kenapa emangnya, Non? Senang sih Amy dipuji begitu," jawabnya sekaligus langsung bertanya.
"Ella tuh belum bisa bahasa Jawa halus, tadi Jawa halus kan?" tanyaku.
"Iya, Non, betul, Amy bisa karena mirip bebhasannya Cirebon," jawabnya.
"Iya sih, tapi gimana ya, kami dari Sumatera tuh agak enggak familier sama bahasa Jawa, masih bisa bahasa Mandarinnya Ella tuh," ujarku.
"Oh, tenang, ada Amy di sini," jawabnya mantap, sungguh sangat bisa diandalkan.
Titik akhir pencarian kami rupanya adalah sebuah kompleks mewah bernuansa keraton. Atau sebuah keraton bernuansa kompleks mewah? Yang mana pun, saat ini Sabugha pasti sudah menunggu karena D'Cab birunya terparkir di pelataran parkir.
"Tunggu ya, mungkin Ella agak lama," ujarku.
"Siap, Non, kabarin saja kalau butuh Amy masuk," ucapnya mantap.
Aku mengangguk lalu menutup pintu mobilku dan berjalan ke gerbang kompleks keraton, ya, sebut saja kompleks keraton. Benar-benar asri dan terawat, terlihat dari adanya tiga orang tukang kebun yang bekerja merawat halaman rumah keraton ini. Mereka berpakaian tradisional Jawa, ketiganya tersenyum ramah ketika melihatku lewat. Yang membuatku bertanya-tanya lagi adalah banyaknya mobil dan motor yang terparkir di halaman parkir tadi. Untungnya amat luas sehingga kami masih sempat mendapatkan tempat parkir. Ini tempat apa ya?
"Selamat datang, Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pemuda berblangkon.
Kali ini bahasa Indonesia, aku agak khawatir tadi akan disodori bahasa Jawa halus.
"Saya ada janjian dengan teman saya, Sabugha Kelana Buana, dan diminta datang ke tempat ini," jawabku.
"Oh, monggo ikut saya," jawabnya disertai nada bicara yang medok.
Si pemuda blangkon rupanya sudah diberi instruksi untuk menerima kedatanganku. Kami berjalan terus ke arah dalam melewati jalan setapak dengan tanaman-tanaman hias di mana-mana. Aku bahkan melihat bonsai batang putih yang mirip dengan milikku yang dulu pernah ditabrak Unnara lalu potnya pecah. Setelah meminta ganti dan diberi black old pine-nya Sabugha, lucunya bonsaiku itu 'hilang' entah ke mana. Aku sih tidak ambil pusing karena sudah ada gantinya dan menganggapnya sudah dibuang Erik, tapi yang ini kok persis sekali ya, amat sangat mirip.
Kami melewati sebuah... eum, pendopo yang ramai, banyak orang duduk berbaris seperti sedang pengajian. Dan di depan mereka, seorang bapak tua berjenggot berpakaian hitam lengkap dengan blangkonnya tampak meladeni para 'tamu' ini satu per satu.
"Itu sedang apa, Mas? Ini tuh tempat apa ya?" tanyaku tidak bisa menahan rasa penasaran.