Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #49

Gratitude To What Belong

"Non, Nona Daniella... Kak, bisa minta air hangatnya lagi?" terdengar suara Amy.

Pandanganku perlahan mulai membuka dan lamat-lamat bisa kulihat wajah Amy yang tampak cemas.

"Alhamdulillah sudah sadar, Non. Ini Amy, Non," ujarnya kala memegangi pipiku.

Seperti baru bangun tidur yang lelap, sebenarnya tubuhku terasa bugar. Rupanya aku tertidur. Aku lupa apa, tapi aku yakin aku bermimpi; mimpi yang indah. Hatiku kini terasa lebih lega, seakan semua dendam yang menumpuk selama beberapa bulan ini telah dihapuskan dan terbang dibawa awan.

"Oh, My, sorry, Ella ketiduran. Berapa lama Ella tidur?" tanyaku. Sepertinya cukup lama, mungkin tiga jam.

"Seharian, Non, ini sudah hari Kamis," jawabnya.

What? Selama itu aku tertidur? Kok waktu benar-benar terasa cepat sekali ya? Dan lagi, ini di mana? Seingatku terakhir sedang mengobrol dengan Sabugha, Nindy, dan Utami.

"Lho, Ella siapa yang mindahin? Sabugha? Pada ke mana mereka?" tanyaku.

"Katanya sih Mbak yang di sana yang gendong sendirian pakai satu tangan. Masa sekuat itu ya? Maaf, Amy masuk karena Nona lama sekali," ujarnya.

Kulihat sosok yang sedang berdiri di belakang Amy. Nindy, ia sedang menggendong anaknya, si Sabugha cilik. Nindy tersenyum padaku. Anaknya terlihat menggemaskan sekali.

"Siapa namanya?" ujarku setelah duduk dari berbaringku.

"Zhenna Savalla Antharada, anak yang bersatu dengan Sang Pencipta. Kata Sabugha artinya begitu," jawab Nindy.

Aku mengangguk-angguk. Lepas dari bahasanya, ya kalau itu memang artinya bagus sah-sah saja.

"Boleh aku gendong, Nin?" pintaku.

"Nona sudah enggak lemes?" tanya Amy.

"Justru aku bangun dengan amat bugar, My," jawabku.

Nindy lalu mendekat dan menyerahkan bayinya untuk kugendong. Selembut mungkin kudekap bayi yang masih mungil itu, ia menguap lucu.

"Dia, Ella panggil siapa?" tanyaku.

"Boleh dipanggil Savalla, boleh Antharada," jawab Nindy.

"Kalau gitu, Tante Ella panggil Baby Ava aja ya. Kamu cowok ya, ganteng? Tante doakan kamu jadi anak yang hebat, jadi anak yang jenius dan berbakat kayak bapakmu, anak yang baik seperti ibumu. Mereka berdua orang-orang baik. Semoga kelak kamu bisa berteman baik dengan Baby Mahardika, sama calon anaknya Marvellina juga. Insyaallah." Kucium kening Baby Ava dan mengelus lembut pipi kanannya dengan satu jari.

Tiba-tiba aku merasa amat kangen sama Mahardika, anakku. Anteng tidak ya dia di rumah sama Bunda Hesty? Ia pasti nyariin bundanya. Aku harus cepat pulang dan menemuinya. Mahardika-ku, buah cintaku dan Dirga, semangat hidupku.

"Amy, kamu sudah siap buat nyetir lagi? Sorry, kayaknya kita enggak mampir ke tempat oleh-oleh, Ella kangen anak Ella," ujarku sambil menggendong Baby Ava.

"Siap, Nona, duh Nona malah kepikiran beli oleh-oleh. Amy siap antar Nona pulang," jawabnya mantap.

Amy... kayaknya Ella mau kamu naik pangkat deh.

Pagi harinya kami pun berpamitan dengan Utami dan Sabugha. Menurut Utami, aku mengalami 'mati suri'. Ah, auto-resurrection atau Lazarus effect. Ada sih istilah medisnya, dan ya mungkin saja, mengingat begitu beratnya hidupku beberapa bulan ke belakang. Mungkin aku memang butuh 'mati sejenak' agar mengistirahatkan hatiku. Apapun itu, kini aku sadar bahwa kematian Dirga adalah hal yang harus kuikhlaskan, bukan berarti melupakannya. Hanya, aku harus memandang ke depan, memfokuskan perhatianku pada hal yang masih kumiliki. Dan saat ini Mahardika-ku adalah hal terpenting bagiku, sama pentingnya seperti semua orang-orang terdekatku, bahkan Amy yang kini mengantarku. Waktu hidupku terlalu berharga jika hanya kuhabiskan untuk meratapi kematian mendiang suamiku. Dirga juga pasti ingin aku move on dan menatap masa depan.

Sabugha, Nindy yang sedang menggendong Baby Ava, Utami, dan si pemuda berblangkon berdiri berbaris dengan posisi pemuda blangkon lebih belakang. Perlahan Amy mengeluarkan mobil dari deretan mobil-mobil lain yang terparkir di sini, termasuk D'Cab biru milik Sabugha.

Si pria tua yang kemarin kulihat sedang memberikan konsultasi spiritual di pendopo datang mendekati keempatnya. Mungkin pria itu adalah embahnya Utami. Tadi aku belum sempat berpamitan dengannya. Si pria itu lalu menyalami Sabugha, Sabugha sedikit membungkuk sopan. Si pria tua lalu sungkem pada Utami, mencium punggung tangannya. Lho, kok???

---

"Lihat itu Bunda datang, haii Bunda..." ujar Bu Hesty menggendong Mahardika sambil memegang tangannya membuat Dika melambai-lambaikan tangan.

Lihat selengkapnya