Irriana Prameswari. Pertama kali aku bertemu dengannya adalah ketika wawancara karyawan baru di Le Viral.id HQ Bandung, di Braga. Saat itu, resto bergaya modern-tradisional milikku ini memang sangat membutuhkan talenta muda yang bisa diandalkan untuk mencakup pengembangannya.
Setelah kupikir-pikir saat itu, aku memang menyingkat proses seleksi dengan langsung wawancara tanpa mencermati dokumen lamaran yang para pelamar ini kirim. Alasannya karena ekspansi yang cukup agresif dan bersambut dengan naiknya animo masyarakat akan Le Viral.id membuat Gege kewalahan mencakup dua titik di Cirebon dan Bandung. Saat itu, Irriana yang baru masuk langsung tampil menonjol dengan mengampu running tiga unit dan membuat penjualannya meningkat tajam melalui ide-idenya. Aku yang kagum dengan prestasinya itu langsung mengangkatnya menjadi Koordinator HQ Braga yang merupakan pusat Le Viral.id cabang Bandung Raya.
Tidak berhenti sampai di situ, Irriana bahkan meningkatkan progres perusahaan dengan membentuk tim ekspansi dan berhasil membuka lima franchise lagi di lima titik berbeda, satu tahun pasca-diangkatnya ia menjadi Koordinator HQ Braga. Pencapaian yang bahkan menembus rekor yang pernah dibuat Gege, yang butuh waktu 2,5 tahun untuk membuka 10 franchise di Cirebon. Hal itu membuatku langsung memutuskan meringankan tugas Gege dengan mengangkat Irriana menjadi manajer juara ketiga setelah Maefah untuk cabang Bandung Raya.
Orangnya ulet, multitasking, tenang, bermental petarung, pembawaannya elegan, dan pastinya cantik. Syarat mutlak untuk karyawan Le Viral.id memanglah good looking, dan Irriana itu gorgeous looking. Ia juga dibekali dengan sifat tegas, bertangan dingin, namun baik hati pada bawahannya. Karakter yang sama sepertiku, ya kan aku baik hati, kan?
Namun, saat kupikir aku tahu segalanya tentang para manajer juaraku, hal itu jadi sebuah keraguan kala waktu dulu aku menggelar acara baby shower dan ternyata Unnara dari kelompoknya Sabugha kenal dekat dengan Irriana. Awalnya kukira mereka berdua adalah mantan pacar yang tidak sengaja ketemu. Namun, seiring waktu berjalan, semakin intensnya kebersamaan Irriana dengan kelompoknya Sabugha yang jelas akrab sekali, aku jadi semakin bertanya-tanya, siapa sebenarnya manajer juara HQ Braga-ku ini?
Puncaknya ketika syukuran kelahiran Mahardika sekaligus acara akikah Mahardika, di mana kelompoknya Sabugha memberikan semacam 'pemberkatan' pada anakku itu. Irriana termasuk bagian dari 'ritual' tersebut. Ritual dimana kesembilan orang kelompoknya Sabugha menyanyikan kidung yang bahkan bahasanya tidak kukenal. Terlebih ketika Dirga bilang ia adalah bagian dari '9 terkuat' termasuk adik iparku, Altarist. Banyak sekali misteri yang menyelimuti kalian semua. Wahai Ayank, kalau saja kamu masih di sini, aku akan menginterogasi kamu tiga hari tiga malam untuk memuaskan rasa penasaranku.
Untuk itulah aku di sini sekarang, berkunjung ke daerah Ranca Upas saat jadwal Irriana sedang libur, mengunjungi manajer juara-ku itu. Hal yang wajar, kan? Mengunjungi rumah karyawan, ya kan?
"Silakan, Teh, dileuet," ujar seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun dengan wajah bulat dengan handband di tangan kanannya.
Aku tahu kalau Deborah sedang masuk kerja makanya kali ini bukan dia yang menyambutku. Aku kali ini datang sendiri setelah sebelumnya menitipkan Mahardika ke Bu Hesty di rumah pusaka di Rajamantri Kulon. Kunjunganku yang kedua ini suguhan minumannya sama, kelapa muda segar, namun buahnya berbeda: pisang dan buah alkesah. Waktu itu saat datang bersama Dirga buahnya duku dan salak. Tapi aku suka sih selera suguhan kediaman Irriana yang vegan garis keras.
"Teh Irriana-nya lagi di mana?" tanyaku.
"Oh, ada di padepokan sedang melatih. Sebentar, Teh, saya panggilkan," ujarnya.
Namun, sebelum ia sempat beranjak, "Biar saya ikut ke sana, A," ujarku menirukan Bunda Hesty bila memanggil Dirga.
---
(Beberapa saat kemudian)
Aku yang tidak ngeh atau kurang menyimak, tapi aku yakin si bocah tidak bilang kalau padepokan ini terletak di puncak bukit. Karena dengan percaya diri sudah terlanjur bilang mau ikut, aku jadi gengsi kalau harus menarik ludahku sendiri.
Sialnya, tangga alam menuju puncaknya tinggi sekali. Gila, aku yang cukup atletis ini ngos-ngosan, padahal setelanku hari ini sengaja menggunakan pakaian yang enak untuk bergerak.
"Haaaah, haaah... masih jauh?" tanyaku pada si bocah.
"Sedikit lagi, Teh," jawabnya sambil melompat-lompat santai seperti seekor kancil.
Gila, murid silatnya Irriana bugar sekali. Sumpah, ini capek. Sialnya, "sedikit lagi" yang dia maksud itu seperti 10 menit berjalan, lalu aku tanya "masih jauhkah", dia jawab "sedikit lagi". Begitu terus sampai lima kali.
"Nona, kenapa tidak bilang kalau mau ke sini?" tanya Irriana, berlutut di dekatku yang sudah hampir tepar terlentang di kursi anyaman bambu. Ia tengah melemaskan otot kakiku yang pastinya menjerit.
"Perasaan waktu Deborah memanggil Ana dulu cuma delapan menitan deh," ujarku terengah-engah sambil menatap langit.
"Kan Ana bisa nanti yang turun kalau Nona bilang," jawab Irriana tanpa menjelaskan apa-apa.
"Ella memang sengaja mendadak main ke sini karena ada perlu. Itu mana tadi anak yang antar Ella? Mau ngasih uang jajan," tanyaku celingukan sambil mengatur napasku yang mulai mereda.
"Sudah lagi jaga rumah lagi, Nona. Sudah, enggak usah," jawab Irriana.
Haaaah...??? Tuh bocah gesit banget, tahu dari mana Ana? Jangan-jangan cuma guyon.
"Ini, Nona, minum dulu. Maaf cuma air putih," ujarnya.
Ana menawarkan segelas air putih yang tersaji di dalam gelas bambu. Ini yakin steril? Jadi menyesal tadi enggak bawa kelapa segarnya. Tapi ya sudahlah, karena Ana, aku percaya. Akupun meminumnya, dan ternyata segar sekali.
"Sorry, boleh minta lagi? Airnya enak," ujarku yang belum terpuaskan rasa hausnya.
Irriana tersenyum elegan lalu mengambilkan seteko besar air yang tersimpan di teko tembikar. Ia menuangkannya lagi lalu kuminum dengan rasa puas.
Aku memperhatikan tujuh anak yang tampak sedang latihan silat. Ketujuh anak itu sedang melakukan kuda-kuda amat rendah sambil di kedua tangan mereka menggenggam batang besi yang terlihat berat.
"Ah iya... Ana ada kegiatan ini juga, ya hobi sih, melatih anak-anak asuh Ana biar pada bisa jaga diri," ujarnya menjelaskan tanpa diminta, dan tetap dengan elegan.