Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #52

I'am So Proud Of You

Ia adalah peraih peringkat tertinggi sebagai supreme excellent di TJ High School, melewati rekor-rekor yang pernah kubuat bersama Marvellina. Lulus dari MIT dengan dua gelar summa cumlaude, ia berturut-turut masuk jajaran 100 ilmuwan muda Indonesia berprestasi dan memperoleh dua kali penghargaan presiden untuk dua penemuannya di bidang robotika dan sebuah proyek revolusioner yang memberikan kontribusi besar pada bangsa. Ia juga masuk dalam daftar 150 ilmuwan dunia berpengaruh lewat temuannya. Di usianya yang relatif muda, Mahardika sudah menorehkan banyak prestasi.

Hari ini, sejarah baru diukir dalam hidupku. Aku akan menikahkan putraku dengan seorang wanita pilihanku, dan puji syukur, Mahardika juga menyukainya.

"Ganteng banget, gagah, anaknya Bunda," ucapku sambil mengelus pipinya.

Aku bahkan harus sedikit mendongak untuk memandangnya. Ia adalah pria yang tampan dan tinggi. Rambutnya mirip dengan Dirga, namun wajahnya lebih mirip denganku. Tingginya pasti warisan dari Regi, dan mata cokelatnya itu pasti dari neneknya. Ia bahkan punya tahi lalat kecil di lehernya, mirip Marvellina. Ah, Ina ikutan menyimpan saham saja, hehe.

Ia tersenyum saat kupuji; senyum warisan ayahnya.

"Beruntung banget nih Mutiara dapat kamu," ujarku.

"Lebih beruntung Dika punya Bunda," jawabnya membuat hatiku bahagia. Pintar merayu nih anak.

Aku tersenyum memiringkan kepala menatapnya.

"Bunda sudah tua ya? Nanti kalau sudah makin keriput, malu enggak digandeng Bunda?" tanyaku.

"Bakal Dika gendong. Bunda tetap paling cantik," jawabnya lagi.

"Cantik mana sama Mutiara?" tanyaku manja, seperti seorang ibu pada umumnya.

"Cantik Bunda, dong," jawabnya sambil mencium keningku.

"Makasih. Ayah pasti bangga sama kamu, Nak. Bunda yakin saat ini Ayah lagi tersenyum bangga melihat anaknya," ujarku meletakkan kedua tanganku di dadanya.

"Dika tahu, Bun. Ayah juga pasti berterima kasih sama Bunda. Dia yang paling bangga sama Bunda. Bunda lagi kangen Ayah, ya?" tanyanya yang merasakan perasaan rindu yang kupancarkan.

Aku menunduk, sejenak mengusap air mataku yang hampir menetes.

"Selalu. Enggak ada tarikan napas yang Bunda lakukan tanpa merindukan ayahmu," jawabku kala menatap mata tangguhnya.

Mahardika mengusap setetes air mataku lalu memelukku.

"Dika sayang Bunda," ucapnya.

"Bunda lebih sayang Dika," jawabku.

"Haduuu, ini ibu-anak apa pasangan kekasih sih? Romantis bener," ujar Vero yang muncul bersama Vior dan Ivory.

Kami menatap mereka, Dika merangkulku.

"Bunda akan selalu jadi kekasihnya Dika," jawab Dika sambil tersenyum dan menatapku.

"Jadi mau peluk Theo nih, Vero-nya. Ya Allah, sudah pada gede saja," ujar Vero.

"Kakak tuh yang otaknya enggak gede-gede, masih gesrek, huuw," ujar Ivory.

Vero menempel ke Ivory lalu tersenyum lebar.

"Kalau Vero enggak gesrek lagi, nanti ada yang kangen dan kesepian. Ella sudah cerita, kok," ucapnya menggoda Ivory.

Aku mengangguk tersenyum, membuat wajah Ivory memerah menahan malu mengingat perkataannya dulu yang merasa sepi kala tidak ada Vero.

"Kakak tuh..." Ivory menutup wajahnya.

Vior tertawa sambil menutup mulutnya.

"Kalian tuh masih berjiwa muda ya?" ujar Mahardika.

"Ya dong! Emang siapa yang tua? Om Aoki tuh yang mukanya tua, banyak kerjaan," jawab Vero.

Kami tertawa bersama.

"Ya sudah, yuk. Angah Angrea pasti sudah menungguin," ujarku.

Mahardika mengangguk, disusul Vero, Vior, dan Ivory. Kami dan rombongan pun berangkat ke Graha Le Viral.id Braga untuk melaksanakan pernikahan Mahardika dan Mutiara.

---

Aku duduk bersebelahan dengan Angrea, di sebelahnya ada Razi. Kami sudah berada di tengah-tengah keluarga besar Maharani, Mahalini, dan Mahandaru. Kali ini mereka semua benar-benar datang tanpa terkecuali. Pernikahan ini benar-benar penting karena untuk pertama kalinya seorang Maharani menikahi seorang Mahalini. Para Le Blanc' juga datang; Paman Emillio, Ourson, Francoise, serta Santiago dan anak-anak mereka, lalu keluarga besar Paman Jean hadir lengkap. Para Hypers, para manajer juara, dan para koordinator unit Le Viral.id juga ada. Tim MahaZavalla dari NARITHA Inc. juga hadir, timnya Mahardika dan Zavalla. Semua wajah yang kukenal dengan baik. Terima kasih kalian sudah hadir hari ini.

Namun saat ini mataku tertuju pada gadis itu. Mutiara Mahalini, ia begitu cantik dan anggun; wajah manisnya adalah pesona tanah Minang. Aku mengenalnya sebelum ia lahir, bahkan meminangnya sebelum ia hadir ke dunia. Mutiara, engkau begitu indah. Sungguh bersyukur aku meminangmu untuk anakku. Parasmu elok, hatimu murni, engkau cerdas nan bersahaja. Karaktermu adalah aluih sabai yang bahkan melampaui ibumu. Mutia, aku hendak mempersembahkan yang terbaik pada Mahardika, dan menikahkanmu dengannya adalah wujud cintaku pada Mahardika.

Di sanalah Mahardika duduk dengan gagah berhadapan dengan penghulu. Di sebelahnya, dengan sedikit berjarak, Mutiara tengah didudukkan oleh dua pendamping pengantin. Sabar, Dika, jangan dulu menoleh. Ucapkan dulu ijab kabulmu agar hatimu mantap menatap wajah bidadari yang kini duduk di dekatmu.

"Mahardika Maharani bin Maradirga Arutala, saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan seorang wanita bernama Mutiara Mahalini binti Bapak Ar-Razi Banta Nurhamzah dengan mas kawin sebuah perkebunan sawit seluas 50 hektar, perhiasan emas senilai 700 juta, dan tanah seluas lima hektar, dibayar tunai," ucap penghulu.

"Saya terima nikah dan kawinnya Mutiara Mahalini binti Ar-Razi Banta Nurhamzah halal untuk diri saya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Mahardika mantap tanpa keraguan.

"Sah?" tanya si penghulu.

"Saaaaahhh!" para hadirin menjawab serentak.

Lihat selengkapnya