Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #54

Somewhere but No Where

"Hey kayaknya dia bangun" sebuah suara wanita terdengar olehku. Suaranya begitu lebut dan bersahaja, siapa gerangan?

"Ya memang sudah waktunya" suara lain. Meski ini terasa bukan seperti suara. Ini seperti aku mengerti artinya di pikiranku begitu saja.

Kubuka mataku ketika kulihat ada dua sosok tengah berdiri di hadapanku. Seorang diantara keduanya yang mungkin pria atau wanita, wajahnya entah bagaimana amat 'bercahaya' sehingga tidak bisa kulihat jelas. Ia mengenakan kain putih seperti kain ihram yang amat bersih dan juga bercahaya. Tapi aku tahu ia menatap padaku. Lucunya ada rasa rindu akan sosoknya yang bahkan baru kutemui saat ini.

Kukira aku sudah mati karena tembakan itu tapi sepertinya aku tertolong. Ruangan dimana aku berdiri begitu luas hingga tidak bisa kulihat ujungnya. Seperti sebuah aula tapi amat sangat luas dan hanya ada warna putih terang. Langitnyapun terang benderang tapi tidak menyilaukan, tapi amat terang seakan matahari hanya berjarak beberapa kilometer saja.

Dan tepat di sebelah orang tadi berdiri sesosok wanita, yang bisa kulihat jelas parasnya. Ia mungkin berumur sekitar 20 tahunan, sangat cantik khas nusantara. Ia berambut panjang hitam kecokelatan dan memiliki wajah berbentuk hati dengan kulit kuning langsat. Bulu matanya lentik dan warna kornea matanya hitam dengan bentuk mata double eyelid membuat kecantikannya tampak sempurna. Senyumnya terlihat manis kala ia tersenyum lebar.

Tunggu bukankah aku pernah melihatnya, tapi dimana ya? Ia terlihat begitu familiar di benakku.

"Hai, Maradirga Arutala" sapa si wanita. Ia bahkan tahu nama lengkapku.

Aku tertegun, terus mencoba mengingat-ingat karena sepertinya mulai muncul ingatan tentang sosok si wanita.

Oh ya Rabb, tentu saja, wajar aku merasa familiar dengannya. Aku memang belum pernah bertemu langsung dengannya tapi aku tahu namanya.

"Ibu Adellina Maharani?" Tanyaku menebak-nebak.

"Iya betul Dirga..." Ia mengangguk sambil tersenyum manis, sikapnya mirip Daniella.

Aku berusaha memproses ini semua secepat mungkin. Dan cuma satu kesimpulan yang masuk akal akan semua ini. Tentang diriku, keberadaan Bu Adellina Maharani, dan kenyataan dari tempat ini.


Aku sudah meninggal.


Dan saat ini aku bertemu almarhumah ibunya Daniella.

"Hai ganteng, masih bingung ya? Wajar, Ama juga pernah mengalaminya. Apapun yang mau kamu tanyakan, Ama akan bantu jawab" ujarnya seraya menunduk padaku yang ternyata duduk dari posisi berbaring.

"Hmm... ini dimana?" Tanyaku.

Ibu Adellina menatap pada si orang di sebelahnya.

Lihat selengkapnya