Aditya berdiri di tepi meja saat asistennya masuk membawa tumpukan amplop tebal. Ia hanya melirik sekilas. Tak perlu bertanya apa isinya. Pemandangan ini sudah berulang rutin selama setahun terakhir.
“Surat seperti biasa?” tanyanya pelan.
“Ya, Pak. Sama seperti biasanya.”
Asisten meletakkan belasan amplop rapi di sudut meja. Beberapa tersegel lilin kerajaan, sebagian lain menyulam lambang keluarga ternama dari berbagai penjuru.
“Terima kasih. Tinggalkan saja,” ujar Aditya singkat.
Begitu pintu tertutup, ruangan kembali sunyi. Aditya kemudian menuju ke kursinya dan duduk perlahan, menyandarkan punggung, lalu menekan pelipisnya dengan ujung jari. Matanya jatuh pada tumpukan surat itu. Ia tak perlu membukanya. Isinya hampir serupa: permohonan izin mendekati Putri Mahkota, lamaran halus dari keluarga bangsawan, pewaris tahta, hingga pengusaha besar.
Ia menghela napas pelan, lalu membuka laptop. Dua puluh tiga pesan masuk menanti. Ia baca sekilas, lalu tutup lagi. Polanya sama persis.
Jari-jemarinya mengetuk meja berirama lambat.
Ponsel bergetar. Aditya mengangkatnya.
“Ini Saya Aditya, Kantor Sekretaris.”
“Pak Aditya, laporan tren media sudah masuk,” suara kepala divisi terdengar jelas. “Seluruh ruang diskusi penuh membahas calon suami Putri Mahkota. Nama-nama bangsawan dan konglomerat mulai disusun, diperdebatkan, bahkan dianggap sebagai kemungkinan terkuat.”
Aditya terdiam sejenak, “Sudah ada yang menyebar seolah itu keputusan resmi?”
“Belum sepenuhnya, Pak. Tapi sebagian mulai mempercayainya begitu saja.”