Like The Last One

Caroline
Chapter #2

Momen kecil

Langkah perempuan yang mengenakan gaun maxi dress itu terhenti di tengah teras istana pribadi keluarga kekaisaran. Ia berdiri menunggu seseorang yang telah merawat dan membesarkannya sejak sang ibu tiada sejak dirinya kehilangan ibunya diusia ke 7 tahun. Satu-satunya keluarga yang menyayanginya sepenuh hati.

Raut wajah perempuan berusia dua puluh tahun itu langsung berbinar ketika kedua matanya menangkap sebuah mobil berpelat nomor satu memasuki halaman istana.

WiAo Elizabeth Yeri tersenyum lebar. Ia melangkah semakin mendekat saat pintu mobil terbuka, memperlihatkan sosok pria tua berbalut setelan jas hitam yang turun bersama sekretarisnya. Pria tua itu adalah Kaisar Taye yang baru saja kembali dari kunjungan kerja ke berbagai wilayah kekaisaran sebagai bagian dari tanggung jawabnya sebagai kepala negara.

Perempuan yang kecantikannya sehangat musim semi itu tetap tersenyum cerah melihat sang kakek masih berbincang dengan sekretarisnya. Dengan sedikit meninggikan suara, ia memanggil,

"Kakek..."

Pria tua yang sedang berbicara itu spontan menoleh.

Sesaat kemudian, tubuhnya membeku.

Sorot matanya berubah sendu.

Di hadapannya, ia seolah melihat putri tercintanya sedang berdiri menyambut kepulangannya dengan senyum paling cerah—putri satu-satunya yang selalu ia rindukan, anak yang ia sayangi sepenuh hati.

Cy Ne...

Gumam itu hanya bergema di dalam benaknya.

"Yang Mulia."

Suara Sekretaris Yi Tena membuyarkan lamunannya.

Pria tua itu berkedip pelan sebelum menggeleng, berusaha mengusir bayangan masa lalu.

"Ya?"

"Putri Mahkota berada di hadapan Anda."

Barulah Kaisar WiAo Tae Qie Guo benar-benar kembali pada kenyataan. Tatapannya jatuh kepada cucunya yang kini berdiri tepat di depan dengan wajah cemberut.

Elizabeth Yeri mengembuskan napas pelan, "Kakek melamun. Kakek tidak memperhatikan Eli, ya?"

Tae Qie Guo menggeleng pelan sebelum tersenyum lembut.

"Tidak. Kakek hanya sedang terpaku melihat perempuan yang sangat cantik berdiri di depan kakek." Ia menatap wajah cucunya penuh kasih, "Cucuku semakin cantik, persis seperti ibumu."

Ia lalu membuka kedua lengannya.

"Cucuku, sini."

Pipi Elizabeth memerah mendengar pujian itu.

"Kakek bisa saja."

Ia segera memeluk sang kakek.

Tae Qie Guo mengusap lembut punggung cucunya.

"Itu memang kelebihan kakek. Warisan langsung dari ibu Yeri."

Elizabeth terkekeh kecil.

"Tentu saja. Kakekkan memang kakekku. Satu-satunya."

Lihat selengkapnya