Sejak menginjak usia dua belas tahun, Lila sudah menemukan mimpi yang harus ia kejar, yakni menjadi seorang penyanyi. Ia rutin ke studio musik dekat sekolahnya hanya untuk latihan bernyanyi yang baik, meski harus menyisihkan uang sakunya setiap hari untuk harga sewa studio selama beberapa jam.
Kegiatan menyanyi dan bermusik itu terus saja Lila geluti hingga ia duduk di kelas tiga sekolah menengah atas. Hanya menunggu beberapa bulan lagi, Lila akan lulus sekolah. Maka dengan kata lain, ia bebas untuk melanjutkan langkah mengejar mimpinya. Salah satunya ingin mengikuti audisi dari agensi Korea Selatan.
Beberapa bulan pun berlalu, Lila Maharani resmi lulus sekolah menengah atas. Momen yang ia tunggu-tunggu pun akhirnya telah tiba. Malam setelah hari kelulusan sekolahnya, Lila bergabung dengan ayah dan ibunya di ruang tengah. Ada pastel goreng dan petis yang menemani momen menonton televisi bersama itu.
"Ayah, Lila kan udah lulus sekolah nih. Jadi Lila berhak menentukan mau ke mana setelah ini dong, Yah?" tanya Lila dengan hati-hati.
Pak Rahadi Sarman mengangguk. "Boleh. Mau kuliah di mana kamu, La? Ayah akan usahakan kamu bisa kuliah di sana."
Lila menghela napas pelan. Rupanya ayahnya lupa dengan impian Lila yang ingin menjadi penyanyi. Padahal Lila ingat sekali dulu ketika masih SMP, ia pernah mengutarakan niatnya untuk menjadi penyanyi di Korea Selatan. Ia sangat menyukai genre musik di sana.
"Ayah lupa, ya? Lila kan dulu pernah bilang kalau Lila mau jadi penyanyi di Korea Selatan. Sebentar lagi ada audisi salah satu agensi baru di Korea, Yah. Katanya sih agensi baru, masih kecil. Tapi mereka serius kok. Jadi Lila mau coba ikut audisi di sana," tutur Lila dengan perasaan amat antusias.
Pak Rahadi melepas secubit pastel di tangannya, lalu menatap lekat satu-satu anak perempuannya. "Lila, dengar apa kata Ayah. Nggak semua impian harus dikejar. Apalagi impian kamu bertentangan dengan syariat agama. Kamu jadi penyanyi di negeri sana, mana mungkin pakai pakaian tertutup dan hijab. Nggak mungkin. Ayah tahu kok bagaimana dunia entertainment di sana. Ayah nggak setuju kalau kamu mau kejar impian kamu yang satu ini," tegas Pak Rahadi.
Lila bereaksi tak suka. Raut wajahnya masam seketika. Bu Risah—Ibunya Lila— yang duduk di sebelahnya pun mengusap pundak putrinya. "Jangan ngambek. Ayah ngomong kayak gitu karena sayang sama kamu. Bukannya mau menentang impian kamu, La."
"Tapi ayah dulu udah janji mau dukung apapun mimpi Lila, Bu. Waktu SMP ayah sudah janji mau biayain Lila buat ngejar mimpi asalkan Lila lulus SMA dulu. Sekarang apa?" protes Lila emosional. Matanya berkaca-kaca dengan bibir bergetar.
"Lila dengar Ayah!" pinta Pak Rahadi dengan tegas. "Kamu nggak bisa berpatokan dengan ucapan di masa lalu. Semua orang mana tahu kapan dia bisa berubah menjadi lebih baik. Sekarang Ayah sudah mulai mendalami ilmu agama. Ayah sudah tahu hukum membiarkan anak gadis dengan pakaian terbuka. Ayah nggak mau hal itu terjadi. Toh, kalau kamu mau jadi penyanyi juga, tunggu ada audisi di Jakarta. Jadi penyanyi di sini aja. Ayah bakal dukung kamu."