LILA & BADUT LEBAH

Mona Cim
Chapter #3

3. BARU MEMULAI SUDAH KENA MENTAL

Untuk pertama kalinya melangkah keluar dari rumah untuk tidak kembali, rasanya membuat satu tiang penopang hidupnya telah hilang. Lila berjalan dengan perasaan gundah gulana. Memikirkan ke mana ia akan tinggal dan apa yang ia makan selama masa pelariannya, membuat ia ingin kembali. Namun, sejenak ketika ia menoleh ke belakang, ia ingat impiannya dan juga tamparan ayahnya. Lila menggeleng, ia kembali melanjutkan langkah ke jalan raya.

Kurang lebih lima belas menit berjalan kaki, Lila singgah di sebuah halte. Tak ada siapapun di sana. Hingga bisa berselonjor di atas kursi yang cukup panjang.

Lila membuka dompetnya. Ada cukup uang di sana. Sejenak ia termenung memikirkan sesuatu. "Aku kudu cari tempat yang jauh dari sini. Biar nggak dilihat oleh ayah. Ntar di sana aku cari kerja yang ada mess-nya. Malamnya aku ngamen sambil dengar-dengar ada lowongan nyanyi atau enggak," monolog Lila menyakinkan dirinya sendiri.

Sebuah bus singgah di hadapannya. Lila pun segera beranjak dari sana. Ia masuk ke dalam bus, memilih tempat duduk kosong paling belakang.

"Bismillah," ucapnya pelan. "Ia menatap halte yang tadi ia duduki dengan sendi ketika bus mulai bergerak meninggalkan tempat itu.

'Maafin Lila ya, Bu. Lila juga nggak pamit sama Ibu. Soalnya di sekitar ibu ada ayah. Lila nggak mau liat ayah lagi. Lila terlanjur sakit hati sama ucapan dan tamparan ayah ke Lila. Lila pergi bukan mau nunjukin bahwa Lila adalah anak pembangkang. Tapi Lila pergi untuk membuktikan bahwa impian Lila pasti bakal bisa Lila capai. Dan Lila yakin bakal membanggakan ibu dan juga ayah suatu saat nanti. Tunggu Lila sampai sukses ya, Bu.'

Tak terasa sudah tiga kali Lila transit bus. Hingga ia berada di pemberhentian terakhir di Jakarta Utara. Lila turun dari bus dengan langkah yang lesu. Pikirannya yang tadi tenang karena baru saja bangun tidur, kini kembali dihantui rasa khawatir. Ke mana ia setelah ini?

Lila menoleh pada seorang wanita paruh baya yang membawa banyak barang. Ada dua dus mi instan, sayuran, perbumbuan, dan juga plastik hitam yang entah isinya apa. Ada pemikiran khusus Lila tentang wanita itu, hingga ia berani mendekatinya.

"Maaf, Bu. Ibu ini mau ke mana, ya?" tanya Lila ramah.

Wanita itu tersenyum. "Saya mau ke kedai saya. Baru aja beli perlengkapan jualan. Sengaja belanja di pasar dekat rumah ibu saya. Soalnya pada murah dan sayurnya berkualitas semua."

"Oh gitu. Ibu punya kedai, ya?"

"Iya. Saya punya kedai nasi goreng. Adeknya sendiri mau ke mana? Gede banget tasnya, Dek."

"Ini saya mau nyari kerjaan, Bu. Tapi yang ada mess-nya biar saya punya tempat buat tidur sekalian," kata Lila tersenyum ramah.

"Oh, kamu lagi cari kerja? Ya udah kerja di tempat saya aja. Tapi kerjaannya serabutan. Jadi ya ... capek, Neng. Cuma saya bisa kasih kamu tinggal di mess. Berdua sama satu karyawan saya yang cewek juga. Mau, nggak?"

Tanpa ragu Lila mengangguk antusias. "Boleh banget, Bu. Saya yang penting punya tempat tinggal dulu. Terus ya ... dapat biaya hidup juga. Gapapa kalau soal capek, Bu."

Lihat selengkapnya