Seminggu bekerja di kedai nagi goreng Bu Salwa sudah membuat Lila nyaris muak dengan segalanya. Rasa lelah dari kerja fisik dan tekanan batin dari teman sekamarnya sudah tak tertahankan rasanya. Tepat hari ini, pada hari Minggu, Lila mendapatkan jatah libur satu hari. Lila memanfaatkan waktu ini untuk mencari informasi tentang job sebagai penyanyi. Hanya bermodal jalan kaki dan menaiki bus untuk ke tempat berikutnya, Lila memulai perjuangannya.
Dua tempat sudah ia kunjungi, tetapi ia tak menemukan juga pekerjaan yang ia cari. Hingga ia menemukan sebuah kafe yang sedang membuka lowongan sebagai penyanyi tiap pagi. Lila memasuki kafe itu.
"Permisi, Mbak. Itu di depan ada tulisan lagi nyari yang bisa nyanyi, ya? Masih dibuka lowongannya?"
"Oh, iya masih. Kakak silakan naik ke lantai atas. Langsung ketemu sama owner kafe ini ya, Kak. Kebetulan beliau ada di kafe," kata resepsionis.
"Oh gitu. Makasih ya, Mbak."
"Sama-sama, Kak."
Lila menuruti intruksi resepsinonis tadi. Begitu ia izin masuk, ia dipertemukan dengan owner kafe. Lila menyapanya dengan ramah. Wanita itu pun mempersilakan Lila untuk duduk di hadapannya.
"Jadi kamu mau ngelamar sebagai penyanyi khusus pagi, kan?"
"Benar, Bu. Saya berminat nyanyi di kafe ini."
"Silakan perkenalkan diri kamu dulu."
"Nama saya Lila Maharani dari Sukabumi. Saya berusia sembilan belas tahun. Eumm ... saya lagi ngerantau, Bu. Jadi ya ... nyari kerja buat kebutuhan hidup saya sehari-hari," tutur Lila menjelaskan.
Owner kafe itu pun mengangguk. "Oke, Lila. Kenalin saya Febriana. Saya owner di kafe ini, tentu kamu udah tahu. Terus untuk kriteria yang saya cari itu ... berpenampilan menarik, attitude bagus, dan tentunya suara yang bagus juga stabil. Sekarang saya mau kamu tes nyanyi lagu apa aja. Saya mau dengar suara kamu dulu. Untuk penampilan dan attitude, kamu oke kok. Tinggal dipoles aja soal penampilan itu."
"Baik, Bu." Lila pun mulai menyanyikan sebuah lagu di hadapan Bu Febriana. Suara Lila memang bagus, walau tak memiliki karakter khusus. Lila juga dapat membawakan satu buah lagu dengan stabil.
Hari ini berjalan sesuai dengan harapan Lila. Lila pulang dengan mengantongi sebuah harapan baru. Juga bagai sebuah penompang yang membantu memperkukuh perjalanan meraih mimpinya.
Bus yang Lila tumpangi berhenti di halte pemberhentian. Untuk sampai ke daerah tempat tinggal barunya, Lila harus menunggu bus berikutnya untuk transit. Saat asyik bersenandung pelan, seseorang dengan kostum badut lebah berwarna kuning-hitam berdiri di hadapannya sambil memainkan tamborin kecil.
Lila repleks merogoh uang receh di saku jaketnya, lalu memberikan pada badut itu. Tanpa disangka, badut itu pingsan di hadapannya.
"Ya Allah!" seru Lila kaget bukan main.
Lila langsung berjongkok di hadapan badut itu, lalu membuka kepala badut itu. Ternyata di dalamnya ada sosok remaja laki-laki yang wajahnya penuh dengan panu.