LILA & BADUT LEBAH

Mona Cim
Chapter #5

5. SULITNYA MENDAPAT UANG

Berangkat dari subuh menuju kafe Fhanes untuk melakukan job menyanyi hingga pukul dua belas siang, awalnya tak membuat Lila merasa terbebani. Namun, tiga hari berlalu teguran dari Bu Salwa membuatnya sakit hati.

Sekitar pukul satu Lila baru sampai di kedai Bu Salwa. Artinya satu jam lagi ia harus bersiap-siap bekerja menjadi tukang cuci di kedai tersebut. Saat Lila masuk ke dalam kedai, ia menyapa Bu Salwa dan dua karyawan lainnya dengan sopan. Tak disangka seruan Bu Salwa menggema di kedai itu yang ditujukan untuknya.

"Lila! Sini kamu!"

Lila memang terkejut. Namun, sebisa mungkin ia bersikap biasa-biasa saja sambil berjalan menghampiri Bu Salwa.

"Ada apa, Bu Salwa?"

"Ada apa kamu tanya? Kamu niat kerja nggak sih sebenernya?" ketua Bu Salwa.

Lila mulai panik dan gugup. Ia sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan oleh Bu Salwa padanya.

"Maksudnya apa ya, Bu? Saya niat kok kerja. Makanya saya usahakan banget pulang satu jam sebelum jam kerja saya. Emang dari mana Bu Salwa liatnya saya nggak niat kerja, Bu?"

"Kamu tengok sendiri keranjang piring! Masih kotor kamu taruh di sana. Untung aja Karin tadi liat. Jadi nggak keburu dipakek tuh piring-piring pas kedai ini buka! Abis pelanggan marah sama saya!" omel Bu Salwa. Tampangnya yang merengut dan tatapan tajam itu, sudah menjelaskan bagaimana marahnya Bu Salwa.

Lila mengernyit bingung. Ia tak tahu piring mana yang masih kotor. Lila yakin sekali ia melakukan pekerjaan dengan baik tadi malam. Semua piring, gelas, sendok, dan penggorengan telah ia cuci bersih tadi malam. Lantas, apa yang disebut Bu Salwa tadi?

"Saya cek ke dapur dulu, Bu. Saya yakin kok saya tuh udah cuci bersih banget tadi malam."

"Sini kamu ikut saya!" bentak Bu Salwa seraya beranjak dari duduknya.

Lila melirik dua teman kerjanya yang asik berbisik dan senyum-senyum tak jelas. Entah mengapa perasaan Lila menjadi tak enak. Buru-buru ia menuju ke dapur untuk membuktikannya sendiri.

Di dapur, Bu Salwa berdiri di samping keranjang piring. Beliau menunjuk ke arah piring-piring yang berjajar di rak piring.

"Tuh liat! Liat sini! Kamu raba nih piring dan cium aromanya. Itu tuh masih ada kotornya! Masih bau sabun!"

Lila menguatkan hatinya agar tak mengundang tangisnya pecah. Ia ambil satu piring, lalu merabanya. Terasa lengket. Lalu di sisi piring seperti ada kotoran minyak. Ditambah ketika Lila mengendus piring itu, masih tercium bau sabun di sana.

"Gimana? Masih mah ngeyel kerjaan kamu bener?"

Lihat selengkapnya