Malam telah menjelang. Lila dan Dodo sudah sampai di depan kediaman Lila yang baru, yakni rumah kontrakan Fara. Mereka duduk di kursi depan rumah itu untuk melepas penat. Lila melepas topi dan jaket yang ia kenakan, sementara Dodo masih setia dengan kostum badutnya.
"Do, emang nggak panas kamu gitu mulu? Buka dong biar lega kamu napasnya. Gapapa, sepi juga di sini. Cuma aku kok yang lihat," kata Lila.
Dodo menggeleng tanda ia tak setuju dengan saran Lila.
"Do, kekurangan itu emang bikin minder. Tapi kamu juga harus mencintai diri kamu sendiri. Gapapa orang ngatain, toh mereka juga yang nanggung dosanya. Jadi kamu percaya diri aja. Lama kelamaan juga orang biasa liat kekurangan kamu," lanjut Lila.
Dodo menuliskan sesuatu pada buku kecil berwarna biru yang menggantung di lehernya. Lalu, ia tunjukkan pada Lila.
^Gapapa, Kak. Aku sudah biasa pakai kostum badut ini. Cuma di dalam rumahku aja baru buku kostum. Kak Lila nggak keberatan, kan?^
Lila menghela napas, lalu menggeleng. Tak seharusnya juga ia memaksa keinginannya pada Dodo. Setiap orang punya privasi yang harus mereka jaga.
"Ya udah deh gapapa. Eh, kita hitung uang hasil ngamen kita, yuk! Langsung aja kita bagi dua."
Lila dan Dodo mulai menghitung penghasilan mereka. Dari ruang kertas hingga uang perak. Lila dengan lihai menghitung uang itu hingga senyuman terbit di bibirnya.
"Wah ... seratus delapan ribu rupiah, Do. Lumayan banget, ya. Kita bagi dua jadi aku lima puluh empat, kamu juga dapat lima puluh empat," ucap Lila menyisihkan uangnya terlebih dahulu, lalu memberikan sisanya ada Dodo. "Nih, Do. Ini jatah kamu."
Dodo meraih uang itu, lalu memasukkannya ke dalam tas kain yang ia pakai.
"Sudah malam banget nih, mau jam setengah sepuluh. Kamu yakin pulang sendiri aja? Kamu harusnya tadi biarin aku yang nganterin kamu. Kamu kan masih anak kecil," kata Lila.
^Aku udah biasa pulang malam sendirian, Kak. Aman kok. Rumah aku kan nggak jauh dari sini. Aku pulang dulu ya, Kak. Nanti kita ketemu di halte lagi.^
Lila mengangguk dengan senyuman hangat. "Oke deh. Dadah, Dodo! Hati-hati di jalan, ya. Besok habis aku selesai nyanyi di kafe, kita ngamen lagi."
Dodo yang sudah melangkah turun dari teras rumah, berbalik badan hanya untuk membentuk sebuah hati dengan kedua tangannya. Lila terkekeh melihat tingkah badut lucu itu. Akhirnya Dodo berjalan menjauh dari rumah kontrakan Fara.
"Nggak nyangka deh. Anak remaja kayak Dodo bisa jadi partner kerja aku. Mana dia tuh kayak udah nyaman banget dekat sama aku. Mungkin ini jalan yang dipilihkan Tuhan buat aku," gumam Lila merasa bangga dengan pencapaian kali ini.