Lila dan Dodo kehujanan ketika ingin jalan menuju pulang. Di tengah derasnya hujan pada malam itu, mereka berlari menuju emperan toko yang sudah tutup. Lila basah kuyup, rambutnya sebagian besar basah oleh air hujan. Gadis itu berjongkok sambil menghangatkan tangannya sendiri. Dodo yang duduk di sampingnya, lantas menuliskan sesuatu di kertas yang sedikit basah.
^Kak Lila kedinginan banget, ya? Kalo gitu kita pesan taksi online aja, Kak. Supaya bisa pulang ke rumah Kak Lila.^
Lila yang membaca itu pun lantas menggelengkan kepalanya. "Enggak ah, Do. Sayang lho duitnya kalo naik taksi online. Nggak dapat apa-apa dong ntar kalo buat naik taksi."
^Uang jatah aku aja yang dipakai buat pesan taksi online, Kak.^
"Enggak usah, Do. Kita tunggu reda aja. Ini nggak akan lama kok. Paling bentar lagi hujannya reda. Masih jam setengah sepuluh ini, Do. Kecuali kalo udah jam sepuluh hujan nggak reda, baru kita naik taksi online, ya."
Dodo pun mengangguk karena tak ingin menentang Lila. Lima belas menit berlalu, hujan masih lebat membasahi bumi. Lila menatap hujan yang jatuh menerpa jalanan dengan keras. Dari lamunannya, mengantarkan Lila pada ingatan di masa lalu. Di mana ia berteduh di gazebo milik orang lain ketika kehujanan bersama dengan ayah dan ibunya.
"Tau nggak, Do. Aku kalau hujan ini pasti ingat kenangan lama, Do. Mau dengar cerita aku nggak, Do?" tanya Lila menoleh pada Dodo yang menganggukkan kepalanya.
Lila pun mulai bercerita dengan tatapan lurus ke depan dan senyuman tipis menghiasi bibirnya. "Waktu itu aku masih berusia sembilan tahun. Aku ikut ayah dan ibu ke rumah nenek yang ada di desa jauh dari kota. Pas di pertengahan jalan, hujan tiba-tiba turun dengan lebatnya. Akhirnya ayah singgah di gazebo pinggir jalan dekat dengan sawah. Kami pun duduk di sana sambil menunggu hujan reda. Hari sudah sore banget, udah mulai gelap dan banyak banget nyamuk. Aku inget banget, ayah aku tuh mukanya pucat terus bawah matanya itu agak hitam. Ayah kurang tidur karena bekerja keras. Tapi ayah itu sigap banget. Ayah lepas jaketnya, terus dijadikan kipas supaya nyamuk nggak berani mendekati aku dan ibuku. Waktu umurku sudah tiga belas tahun, aku ingat lagi cerita itu. Aku ceritain ke ibuku, ternyata Ibu juga ingat. Aku tanya ke ibu, gimana rasanya punya suami kayak ayah? Siapa tahu aku nanti mau punya suami kayak ayah juga. Hehe. Terus kata ibu, ayah itu pahlawan banget. Selalu mengutamakan keselamatan dan kesenangan anak dan istrinya, baru memikirkan dirinya sendiri," tutur Lila sambil menyeka air matanya yang tiba-tiba saja mengalir. "Tapi sekarang aku benci banget sama ayah. Ayah nggak merestui aku mengejar mimpi terbesarku menjadi seorang penyanyi di Korea. Ayah juga untuk pertama kalinya tampar aku, Do. Rasanya sakit banget. Bukan pipi aku, tapi hati aku. Ditampar oleh orang yang paling kita sayangi sekaligus paling kita kagumi itu rasanya sakit banget. Sampai aku yang apa-apa selalu ngandelin ibu, akhirnya nekat kayak gini. Aku kabur dari rumah, Do. Rencananya mau lupain ayah. Bukannya nggak mau nganggap orang tua, tapi aku mau lupa sejenak orang yang menentang mimpiku, Do. Tapi ... sekarang aku kangen sama ayah. Sama ibu juga. Gimana keadaan mereka sekarang? Aku emang bodoh banget, Do. Aku sengaja reset hape aku sampai bener-bener bersih. Niatnya supaya nggak ada yang ganggu atau nyariin aku. Tapi aku lupa kalau aku tuh sampai kapanpun masih butuh orang tua. Paling enggak aku tahu kabar mereka. Tapi sekarang? Sekarang aku nggak bisa tahu kabar mereka kayak gimana," tandas Lila. Gadis itu memeluk lututnya, lalu menenggelamkan wajahnya di sana.
Dodo merapatkan tubuhnya pada Lila, lalu memeluk Lila dari samping. Dodo mengelus kepala Lila dengan tangannya yang terbalut kostum badut. Tak lama ia mendengar suara isak tangis Lila yang semakin nyaring dengan pundak yang bergetar.
Tak terasa pukul sepuluh malam telah tiba. Hujan yang tadinya lebat, kini sisa gerimis halus. Lila berdiri dari posisinya, lalu tersenyum.
"Nah, Do. Bener kan apa kataku. Hujannya pasti bakal reda. Jadi kan kita nggak perlu naik taksi online. Ya udah kita pulang sekarang, Yuk! Takutnya hujannya makin gede kita nggak bisa pulang lagi. Duitnya kita bagi besok aja, ya. Kamu yang pegang atau Kak Lila yang pegang?"
Dodo menunjuk ke arah Lila.
"Ya udah aku simpan aja, ya. Besok kita bagi," kata Lila menyimpan semua uang hasil mengamen hari ini ke dalam sebuah tas kecil yang ia bawa.