Fara mengetuk pintu kamar Lila sebelum masuk ke dalamnya. Tampak Lila seperti baru saja selesai mandi. Ia duduk di kursi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Fara pun mendekat, meletakkan teh hangat itu di atas meja.
"Nih, Kak Fara bawain teh hangat. Diminum, ya."
"Makasih ya, Kak," ucap Lila seraya meraih cangkir teh itu dan menyesapnya dengan hati-hati.
Fara bersandar di jendela dengan tubuh mengarah ke arah Lila.
"Kamu tadi kenapa, La? Datang-datang kayak orang syok gitu. Aku mau tanya dari tadi, cuma kasihan liat kamu syok gitu. Emang ada kejadian apa, La?"
Lila pun kembali teringat kejadian yang menerimanya beberapa menit yang lalu menimpanya. Lila menunduk dengan helaan napas keluar dari mulutnya.
"Pas mau pulang dari ngamen sama Dodo, hujan turun, Kak. Akhirnya kami berteduh di emperan toko. Nggak jauh banget dari sini. Terus Dodo nyaranin buat naik taksi online aja. Aku nolak, Kak. Sayang duitnya. Masih jam setengah sepuluh juga, belum malam banget. Ya udah kamu neduh. Nah, pas udah reda dikit, kami lanjut jalan kaki. Tiba-tiba di jalan kami dicegat begal, Kak. Dodo udah berusaha melindungi aku, tapi tetap aja Dodo kalah. Kostum badut yang dia pakek tuh mempersulit pergerakan dia. Apalagi dia juga masih remaja, kan. Nggak ngerti apa-apa soal bela diri. Terus penjahat itu ambil paksa tas uang kami, Kak. Selain itu kayaknya penjahat itu mau macem-macem juga sama aku. Dodo langsung bertindak, dia melawan penjahat itu, Kak. Akhirnya Dodo kena pukul dua kali. Aku yang udah takut banget, lari menjauh sambil teriak minta tolong. Untung aja ada mobil pick up yang lewat. Nah, saat itu juga begal itu kabur. Kata sopir pick up, dia bakal kejar itu begal. Aku deketin Dodo yang sudah pasang kembali kepala badutnya. Aku khawatir banget. Aku ajak dia ke klinik, dia nggak mau. Malah nyuruh aku cepat pulang dan dia langsung menjauh, Kak. Aku benar-benar ngerasa bersalah sama Dodo, Kak. Gara-gara nyelamatin aku, dia kena pukul kenceng banget. Terus ... coba aja aku nurut naik taksi online, pasti kejadiannya nggak kayak gini, Kak," tutur Lila panjang lebar.
Fara prihatin mendengar cerita dari Lila. "Ya ampun ... kasihan banget Dodo. Besok kami datangi aja rumahnya. Bawa dia ke klinik. Jangan nggak diobatin. Atau kamu bawa kotak obat dari rumah. Kak Fara punya kok."
Lila menggeleng. "Dodo nggak mau buka kostum badutnya, Kak. Dia anti banget."
"Lho, kok gitu? Jadi dia nggak pernah buka kostum badut di hadapan kamu?"
"Buka secara sengaja nggak pernah. Tapi pas dia pingsan waktu pertama kali kami bertemu, aku lihat muka dia, Kak. Banyak banget panunya. Kayaknya satu badan penuh panu deh, Kak. Mungkin karena itu dia nggak mau buka kostum badutnya di hadapan orang," ungkap Lila.
Fara mengangguk paham. "Ya wajar aja sih dia malu. Kita yang punya jerawat satu aja mau nutupin pakek stiker. Apalagi jerawat yang masih merah banget. Dilihat orang tua sendiri aja malu rasanya. Kasihan Dodo. Semoga dia gapapa, ya."
"Iya, Kak. Makanya aku kepikiran dari tdi."
"Eh, bentar. Ada kabar gembira buat kamu nih, La," kata Fara sambil merogoh sebuah brosur dari saku piyamanya. "Tara! Job baru buat kamu!"
Lila melongo sambil memicingkan matanya melihat brosur itu. "Kerjaan baru apa, Kak?"